• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Polusi Udara Pengaruhi Produktivitas SDM

Polusi udara selama beberapa pekan tidak hanya memicu risiko kesehatan, tetapi juga dapat mengurangi produktivitas karyawan. Begitu hasil riset dan kajian Associate Professor Haoming Liu, Dr Jiaxiu He dan Professor Alberto Salvo dari National University of Singapore (NUS) selama setahun pada dua perusahan di Henan dan Jiangsu (Tiongkok) yang dirilis oleh American Economic Journal: Applied Economics edisi 3 Januari 2019.

Tim peneliti mewawancara manajer belasan perusahan pada 4 provinsi dan mengakses data dua pabrik di Henan dan Jiangsu. Polusi diukur dari berapa banyak partikel halus yang berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer (PM2.5) di udara. “Most of us are familiar with the negative impact air pollution can have on health, but as economists, we wanted to look for other socioeconomic outcomes. Our aim with this research was to broaden the understanding of air pollution in ways that have not been explored. We typically think that firms benefit from lax pollution regulations, by saving on emission control equipment and the like; here we document an adverse effect on the productivity of their work force,” ungkap Associate Professor Alberto Salvo dari Department of Economics di NUS (National University of Singapore, 3/1/2019).

Hasil riset itu menemukan bahwa level polusi pada dua pabrik itu, sangat bervariasi tiap hari dan pengaruhnya belum terlihat jelas.  Level PM2.5 berkisar 7 kali limit aman menurut US Environmental Protection Agency pada 85 mikrogram per meter kubik.

Namun, jika dihitung selama 30 hari, kemerosotan produktivitas karyawan dapat terlihat. “We found that an increase in PM2.5, by 10 micrograms per cubic metre sustained over 25 days, reduces daily output by 1 per cent, harming firms and workers. The effects are subtle but highly significant.High levels of particles are visible and might affect an individual's well-being in a multitude of ways. Besides entering via the lungs and into the bloodstream, there could also be a psychological element. Working in a highly polluted setting for long periods of time could affect your mood or disposition to work,”  ungkap Associate Professor Liu (National University of Singapore, 3/1/2019). 

Oleh: Servas Pandur

Penerbit


ECO-DEMOKRASI

Demokrasi yang terpimpin oleh hikmat kebijaksanaan dapat mengelola alam-alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa secara arif untuk kesejahteraan Rakyat dan sehat lestarinya ekosistem Negara, kecerdasan Bangsa, perlindungan segenap Bangsa dan seluruh tumpah darah dan ketertiban dunia berdasarkan keadilan, kemerdekaan, dan perdamaian. Rakyat tidak hanya berpartisipasi dalam Pemilu, tetapi juga berpartisipasi dalam antisipasi krisis dan tantangan masa datang. Dalam hal ini, upaya-upaya membangun Negara adalah setiap keputusan dan program kerja yang berkaitan dengan sesuatu yang benyawa yakni Rakyat, bumi, air, dan kekayaan alam. Maka sehat atau tidaknya suatu praktek demokrasi dapat diukur dari jejak-ekologisnya (ecological footprint) pada ciptaan Tuhan Yang Maha Esa. ... Baca selanjutnya

img

Jurnal IPTEK

Berita