• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Stabilitas Nilai Tukar Rupiah

Pada Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (BI), Selasa siang (27/11/2018) di Assembly Hall Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Presiden RI Joko Widodo mendukung langkah BI yang menaikkan suku bunga rupiah sebesar 0,25% atau 25 basis point ke level 6% untuk menstabilkan nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).

“Ini (kenaikan suku bunga rupiah, red) disambut amat positif oleh pasar, dan persepsinya BI menunjukkan ketegasan, menunjukkan determinasinya untuk membentengi rupiah, dan mungkin dalam bahasa keseharian kita ya bisa saja disebut taringnya BI keluar,” papar Presiden RI Joko Widodo. Pertemuan Tahunan BI (27/11/2018) dihadiri oleh mantan Wakil Presiden RI Boediono, Gubernur BI Perry Warjio, Menko Kemaritiman Luhut B. Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Ketua OJK Wimboh Santoso (Humas Setkab RI, 27/11/2018).

Rabu pagi (5/9/2018) pada acara Pelepasan Ekspor Mobil Toyota di Pelabuhan Tanjung Priok (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis langkah kebijakan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang telah menyentuh level Rp 15.000 per 1 (satu) dollar AS, misalnya, mandatory Biodiesel 20 (B20) sejak 1 September 2018 diharapkan mengurangi impor minyak hampir 5 miliar dollar AS (Humas Setkab RI, 5/9/2018). 

Dr. Ir. Agung Nugroho Wijoyo, MA, alumnus S3 Ilmu Manajemen pada Universitas Indonesia (UI) tahun 2018 dengan judul disertasi Risiko Sistematik Sistem Perbankan Indonesia : Pendekatan CoVaR Approach, melihat bahwa dua faktor memicu pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sejak September 2018 ialah Bank Sentral AS (Fed) menaikan suku bunga dan perang dagang AS vs Tiongkok; namun nilai tukar rupiah mulai stabil sejak pertengahan November tahun 2018 karena pertumbuhan ekonomi Negara RI cukup tinggi.

“Secara umum, nilai-nilai tukar berbagai negara seperti yuanTiongkok Argentina, Brazil, Italia, ringgit Malaysia, dan peso Filipina melemah ketika Bank Sentral AS (Fed) menaikan suku bunga. Nilai tukar rupiah yang sudah terintegrasi dengan sistem keuangan global juga terpengaruh oleh perang dagang AS vs Tiongkok. Namun, rupiah kembali stabil terhadap dollar AS sejak pertengahan November 2018, karena kinerja pertumbuhan ekonomi RI lebih tinggi, misalnya, jika dibanding dengan pertumbuhan ekonomi Brazil atau negara lainnya,” papar Dr. Ir. Agung Nugroho Wijoyo kepada Staging-Point.Com, Rabu (Rabu/12/2018) di Lt.2 ISKA Centre, Jln Tanjung Selor No. 31 RW 8, Cideng-Gambir (Jakarta Pusat).

Pada masa-masa datang, menurut Dr. Agung Nugroho Wijoyo sejumlah faktor dalam negeri juga mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah. “Meskipun rupiah terpengaruh oleh suku bunga dollar AS dan gejolak sistem keuangan global, namun faktor dalam negeri juga mempengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah, misalnya, impor seperti sektor properti dikurangi dengan berani menggunakan produk-produk dan bahan-bahan dari dalam negeri; menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi; kesepakatan transaksi dengan negara lain, selain AS, dengan nilai tukar rupiah dan negara mitra; zona rupiah tetap menjadi tujuan investasi, sehingga investor tidak melarikan modal ke luar negeri,” papar Dr. Agung Nugroho Wijoyo.

Selasa siang (14/8/2018) di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, memimpin Rapat Terbatas tentang Lanjutan Strategi Kebijakan Memperkuat Cadangan Devisa. “Kita juga harus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada nilai yang wajar (terhadap dollar AS, red), inflasi yang rendah, defisit transaksi berjalan yang aman,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 14/8/2018).

Presiden RI Joko Widodo merilis juga sejumlah arah kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS), antara lain memperkuat cadangan devisa Negara RI guna menjaga ketahanan ekonomi Negara RI di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini; pilihannya antara lain ialah percepatan pelaksanaan mandatori biodiesel B20 dan peningkatan Penggunaan Kandungan Dalam Negeri (TKDN) khususnya BUMN-BUMN yang sebelumnya banyak menggunakan komponen-komponen impor; mengelola hati-hati Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya defisit APBN; memperbesar belanja modal; Bank Indonesia hati-hati mengelola moneter; dan menjaga posisi 22% CAR (capital adequacy ratio) perbankan di Negara RI (Humas Setkab RI, 14/8/2018).

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)