• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kendali Risiko Sampah Plastik

Tim ahli University of Georgia (Amerika Serikat), Amy L. Brooks et al (2018) mengkaji dampak kebijakan Tiongkok (“National Sword”) tahun 2017 yang melarang impor sampah plastik non-industri sejak Januari tahun 2018. Hasilnya, diperkirakan lebih dari 100 juta metric-ton (MT) plastik per tahun skala global akan diganti atau berkurang akibat kebijakan itu. Hasil riset itu dirilis oleh Science Advances edisi Juni 2018.

Jelang akhir Januari 2019, pers dunia menyoroti sampah plastik di Negara RI. Pemerintah berupaya membangun kesadaran lingkungan atau kultur daur-ulang sampah di zona RI dengan total penduduk 260 juta jiwa, 714 suku dan 1.100 lebih bahasa daerah, yang tersebar pada sekitar 17.000,  34 provinsi, 514 kabupaten dan kota. (Reuters, 23/1/2019).

Satu tim ahli sampah dari Amerika Serikat (AS) dan Australia merilis hasil riset pada jurnal Science dengan judul Plastic waste inputs from land into the ocean, edisi 13 Februari 2015. Hampir separuh dari 3,2 juta ton sampah plastik di seluruh RI per tahun dari daratan masuk ke laut.  Tim ahli itu meneliti dan mengkaji data sampah, kepadatan penduduk, dan status ekonomi untuk mengetahui massa sampah plastik dari darat yang masuk ke laut. Tim ahli itu menghitung 275 juta metrik ton (metric tons/MT) sampah plastik pada pantai 192 negara tahun 2010. Hasilnya, sekitar 4,8 – 12,7 juta MT masuk ke laut.

Tim ahli itu terdiri dari (1) Jenna R. Jambeck (College of Engineering, University of Georgia); (2) Roland Geyer (Bren School of Environmental Science and Management, University of California; (3) Chris Wilcox  (Oceans and Atmosphere Flagship, Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization); (4) Theodore R. Siegler dari DSM Environmental Services; (5) Miriam Perryman (College of Engineering, University of Georgia); (6) Anthony Andrady (Department of Chemical and Biomolecular Engineering, North Carolina State University;  (6) Ramani Narayan (Department of Chemical Engineering and Materials Science, Michigan State University); (7) Kara Lavender Law (Sea Education Association).

Hasil riset tim ahli itu menemukan bahwa kepadatan atau jumlah penduduk dan kualitas sistem manajemen daur-ulang sampah, sangat menentukan jumlah sampah yang hanyut dari darat ke laut (Science, 13/2/2015). Pemerintah RI berupaya mengurangi sekitar 70% sampah plastik di laut pada tahun 2025 dengan biaya sekitar 1 (satu) miliar dollar AS per tahun (Yuddy Cahya, Sultan Anshori, Wayan Sukarda/ Clarence Fernandez/ Reuters, 23/1/2019).

Biolog kelautan Jennifer Lynch dari National Institute of Standards and Technology (NIST) di Amerika Serikat (AS) mengkaji riset ilmiah selama 50 tahun terakhir tentang penyu sebagai indikator kesehatan laut dan ekosistemnya. Penyu hidup lama di berbagai zona planet bumi dan berbagai spesiesnya hidup pada kedalaman berbeda di lautan. Penyu sering makan yang bukan pangan, seperti sampah plastik. Menurut Lynch, metrik analisis penyu sebagai indikator kesehatan laut dan ekosistemnya ialah gram sampah per kilogram (g/K) kura-kura.

Hasil riset Lynch itu  telah dirilis oleh jurnal Environmental Science and Technology edisi September 2018 (Jennifer M Lynch, “Quantities of marine debris ingested by sea turtles: Global meta-analysis highlights need for standardized data reporting methods and reveals relative risk,” Environmental Science & Technology, 2018).

Lynch mengkaji (meta-analysis) 131 laporan ilmiah sampah plastik dari perut penyu sejak tahun 1970. Hasilnya, dua spesies penyu paling berisiko menelan sampah plastik yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricata) berat 150 pon dan sangat terancam punah di Atlantik dan penyu hijau (Chelonia mydas) dengan berat 350 pon, terancam punah di Atlantik dan Pasifik.

Di Tanah Air tahun 2018, penyu atau kura-kura mati dengan perutnya berisi sampah plastik antara lain awal Desember 2018, di pantai wisata Congot, Kecamatan Temon, Kulon Progo, DIY (Kompas.com, 10/12/2018). Akhir November 2018, penyu mati mengambang akibat sampah plastik di perairan Pulau Pari (Kepulauan Seribu Jakarta) (Liputan6.com, 28/11/2018).

Kendali risiko sampah plastik tentu sangat urgen bagi Bangsa Indonesia yang tinggal di negara kepulauan (archipelagic state) dengan luas laut atau lautan lebih besar dari daratan. Karena hasil riset Dr. Tommy Cedervall et al (2018) dari Lund University menemukan bahwa sebagian besar sampah di laut adalah plastik. Sekitar 10% sampah plastik global, masuk ke laut yang memicu degradasi ekosistem kelautan serta melepas nano-partikel plastik. 

Oleh: Komarudin Watubun