• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pemanasan Global & Krisis Migran Dunia

Awal Februari 2019 dari kota Medan, Provinsi Sumatera Utara, laporan tentang 193 orang Bangladesh, korban tindakan pelanggaran hukum human-trafficking (penyelundupan manusia) yang terperangkap dalam ruko terkunci, disorot oleh pers dunia (Reuters, 7/2/2019).

Korban perdagangan-manusia itu meninggalkan Bangladesh menuju Bali dan dari Bali dengan bis 4 hari menuju Medan (Sumatera Utara) dengan tujuan Malaysia. Akhir 2018, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis data bahwa sekitar 700.000 warga Rohingya mencari suaka ke Bangladesh usai operasi militer di utara Rakhine (Reuters, 7/2/2019). Konflik dalam negeri bukan satu-satunya pemicu krisis migran atau pencari suaka awal abad 21.

Akhir Juni 2018, tim ahli yang tergabung dalam American Association for the Advancement of Science (AAAS) merilis hasil riset dan kajian ‘krisis migran atau pencari suaka’ pada 15 negara anggota Uni Eropa tahun 1985-2015. Tim ahli menganalisis dampak ekonomi seperti pajak dan peluang kerja, jika dibandingkan dengan anggaran dan biaya negara (public spending) pada jangka waktu tertentu dari arus migrasi permanen ke Uni Eropa selama 30 tahun.

Tahun 2015, Uni Eropa menerima lebih dari 1 (satu) juta pencari suaka, yang dilabel sebagai ‘migrant-crisis’. Tim peneliti menggunakan model panel vector autoregressive (VAR) yang menghitung respons atau dampak ekonomi dari suatu peristiwa eksternal yang tidak lazim, atau ‘shock’, seperti perubahan pola demokrasi skala besar yang mempengaruhi pendapatan dan belanja negara atau keuangan negara.

Hasil riset dan kajian tim ahli itu menemukan bahwa aliran pencari suaka dan migran permanen membawa dampak positif terhadap perekonomian negara-negara Eropa, khususnya peningkatan GDP, penyerapan lapangan dan tenaga kerja, keseimbangan keuangan negara, dan pajak-pajak pendapatan (AAAS, 20/6/2018). Jadi, aliran imigran ke Uni Eropa sekilas melahirkan peluang atau dampak positif terhadap perekonomian Uni Eropa awal abad 21. Apakah hasil riset dan kajian ini betul?

Akhir 2017, Anouch Missirian dari School of International and Public Affairs, Columbia University, di New York (Amerika Serikat) dan Wolfram Schlenker dari The Earth Institute, Columbia University, New York (Amerika Serikat),  merilis hasil riset bahwa perubahan iklim dan pemanasan global memicu aliran migran atau pencari suaka ke Uni Eropa. Bahkan dengan skenario perubahan iklim dan emisi gas rumah-kaca masih level rendah, jumlah pencari suaka ke Uni Eropa meningkat 28% akhir abad 20 (lihat grafik) (AAAS, 21/12/2017).

Jumlah pencari suaka ke Uni Eropa diperkirakan naik sekitar 188% per tahun, jika pemanasan global dan emisi gas rumah-kaca meningkat di berbagai zona dunia. Perkiraan ini merujuk pada hasil analisi terhadap 351 ribu pencari suara per tahun dari 103 negara periode 2000-2014 ke Uni Eropa. Hasil riset Anouch Missirian dan Wolfram Schlenker (2017) dirilis oleh jurnal Science edisi akhir Desember 2017.

Data migrasi itu dibandingkan dengan data lingkungan 103 negara pada skala waktu sama dan faktor-faktor lainnya seperti konflik atau perang saudara dan kekerasan dalam negeri. Peneliti Anouch Missirian dan Wolfram Schlenker itu mengkaji fluktuasi aplikasi pencari suaka dan anomali cuaca dan iklim di berbagai negara dengan kisaran suhu sekitar 20 derajat Celsius atau lebih tinggi. Sebaliknya, negara-negara lebih dingin di Uni Eropa cenderung kurang memicu aliran pencari suaka ketika iklim semakin panas di berbagai negara.

Hasil riset Anouch Missirian dan Wolfram Schlenker menemukan bahwa setiap lonjakan sekitar 2,6 hingga 4,8 derajat Celsius iklim planet bumi, mungkin meningkatkan 660 ribu aplikasi pencari suaka per tahun ke Uni Eropa hingga akhir abad 21. Karena perubahan iklim mempengaruhi sektor pertanian dan GDP setiap negara. Anouch Missirian dan Wolfram Schlenker menyimpulkan bahwa awal abad 21, pencari suaka atau aliran migran merespons fluktuasi iklim di berbagai negara (Science, 22/12/2017).

Di masa-masa datang, krisis migran atau pencari suaka bakal meningkat, jika upaya mitigasi pemanasan global dan perubahan iklim serta kontrol ledakan penduduk, tidak teratasi di berbagai negara Afrika dan Asia – zona yang paling padat dihuni oleh penduduk di planet bumi awal abad 21 dengan tren lonjakan pertambahan penduduk dan iklim panas. 

Oleh: Komarudin Watubun