• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Risiko Virus SLCMV Terhadap Singkong Di Asia Tenggara

Dari 6.480 sampel pada 419 ladang di Vietnam (2.640 sampe pada 179 ladang) dan Kamboja (3.840 sampel dan 240 ladang) selama musim tanam-panen tahun 2016, tim ahli International Center for Tropical Agriculture (CIAT), yang beranggotakan 968 staf dari 59 negara dan koleganya, menemukan 49 tanaman singkong terjangkit virus Sri Lankan cassava mosaic virus (SLCMV) di 2 provinsi timur Kamboja. Sampel ini hanya 2% rata-rata infeksi karena wabah ini telah menyebar di Vietnam dan Thailand (International Center for Tropical Agriculture (CIAT), 20/2/2019).

Tim ahli CIAT menggunakan diagnostik molekul berbasis teknik PCR (Polymerase chain reaction / PCR)--teknik biologi molekular yang membuat banyak kopi segmen DNA (deoxyribonucleic acid) tertentu atau khusus-- guna mengidentifikasi 49 tanaman terjangkit SLCMV pada 9 ladang yang mewakili 2% dari total sampel ladang (fields) yang diriset dan dikaji oleh tim ahli (International Center for Tropical Agriculture (CIAT), 20/2/2019).

Virus SLCMV terlacak tahun 2015 di Kamboja yang berisiko mengancam sekitar 3,5 juta ha lahan singkong di Asia Tenggara. Sekitar 95% ekspor singkong dunia kini, berasal dari Asia Tenggara dengan nilai ekspor sekitar 4 miliar dollar AS per tahun. Hasil riset itu dirilis oleh jurnal PLOS ONE edisi akhir Februari 2019 (Nami Minato, Sophearith Sok, Songbi Chen, Erik Delaquis, Iv Pirun, Vi Xuan Le, Dharani D. Burra, Jonathan C. Newby, Kris A. G. Wyckhuys, and Stef de Haan, “Surveillance for Sri Lankan cassava mosaic virus (SLCMV) in Cambodia and Vietnam one year after its initial detection in a single plantation in 2015”, PLOS ONE, 22 February 2019). Riset ini didanai oleh CGIAR Research Program on Roots, Tubers and Bananas, dan Australian Centre for International Agricultural Research.

Riset Minato et al (2019) itu merujuk pada hasil riset Delaquis et al (2018) yang memetakan rute-rute asal dan persebaran virus pemicu wabah singkong.  Virus SLCMV sulit terdeteksi secara visual.  Hasil riset Minato et al (2019) ini menyediakan informasi bagi Pemerintah, petani singkong, dan masyarakat guna meredam persebaran wabah SLCMV. 

“Documenting the outbreak and spread at an early stage is critical for understanding the dynamics of the epidemic - and pre-empting or responding effectively to future one. Together, the two studies provide the first published picture of the incidence of SLCMV one year after its discovery in Southeast Asia, and describe for the first time the network of planting material exchange likely to further spread the virus,” ungkap Erik Delaquis, co-author studi ilmiah ini pada International Center for Tropical Agriculture (CIAT-Asia) di Vientiane (Laos) (CIAT, 20/2/2019).

SLCMV antara lain disebarkan oleh spesies kutu-kebul, Bemisia tabaci, yang pernah menyerang tanaman kedelai di Negara RI, antara lain di Indramayu tahun 1980 seluas 30-50 ha (Yuliani, SP., M.Si, 2008:11) dan gejalanya pada tanaman terjangkit, tidak selalu tampak. Teknik molekul dapat melacak tanaman positif terjangkit SLCMV dan fotografi untuk melihat gejala wabah secara visual pada sampel-sampel tanaman individual. “Our 2016 study provides an essential benchmark for timeline comparison," papapar Dr. Nami Minato, ahli biologi molekular, peneliti pada CIAT di Vientiane (Laos) dan lead-author -- penanggung jawab konseptualisasi, kurasi data, analisis formal, investigasi, metodologi, penulisan draft orisinal, kajian, dan penyuntingan studi ilmiah ini (CIAT, 20/2/2019). 

 

Oleh: Servas Pandur