• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Swasembada Sektor Peternakan Negara RI

Rabu sore (27/2/2019) pada Acara Penyaluran 600 Kredit Usaha Rakyat (KUR) Ketahanan Pangan dan Aksi Ekonomi Untuk Rakyat di Pondok Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Presiden RI Joko Widodo merilis pernyataan arah program kredit mikro Program Mekaar dan UMi (Ultra Mikro) dari Rp 2 juta hingga Kredit Usaha Rakyat (KUR) Rp 500 juta, program 3.000 Balai Latihan Kerja (BLK) di pondok-pondok pesantren Negara RI dan upgrade ketrampilan SDM melalui pelatihan pengolahan pertanian, peternakan, industri kreatif, dan industri fashion (Humas Setkab RI, 27/2/2019).

Menurut Dr. Ir. Sundari, M.P, dosen Peternakan pada Universitas Mercu Buana (Yogyakarta), program pelatihan pengolahan peternakan harus menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) terampil mengolah dan mengelola hasil peternakan, revolusi mental, dan kemajuan penyuluhan peternakan guna menghasilkan swasembada peternakan Negara RI sejak awal abad 21.

“Program sektor peternakan nasional harus dapat menghasilkan swasembada peternakan, misalnya swasembada daging, susu, dan lain-lain, agar Rakyat sehat, sejahtera, dan cerdas serta lingkungannya sehat-lestari. Tantangannya antara lain (1) Perhatian Pemerintah dan program kebijakan masih kurang mendukung peternakan, misalnya, jika kita banding swasembada tahun 1980-an, ada TAPOS, dan lain-lain; (2) pembibitan peternakan, seperti ayam, masih kurang; (3) penyuluhan peternakan kurang melahirkan kemandirian sektor peternakan yang masih bergantung pada Pemerintah; (4) kurang UKM masuk ke sektor peternakan; (5) mental masyarakat peternak bisa rapuh, misalnya ada sumbangan kambing ke peternak di suatu kabupaten; dua-tiga hari kemudian, kambingnya dijual dan tidak dibudi-daya; maka perlu ada revolusi mental SDM sektor peternakan; (6) kemitraan pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, peternak, dan sektor industri peternakan, belum terwujud yang melahirkan swasembada sektor pangan-peternakan di Negara RI,” papar Dr.Ir. Sundari,M.P, alumnus S2 makanan ternak (tahun 2000) dan S3 nutrisi ternak (tahun 2014) pada pada Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada, di  Yogyakarta kepada Staging-Point.Com, Kamis (21/2/2019) di Universitas Mercu Buana di Yogyakarta.

Minggu (24/9/2017) pada Jambore Peternakan Nasional 2017 di Bumi Perkemahan Cibubur (Jakarta Timur), Presiden RI Joko Widodo merilis visi program industri peternakan milik Rakyat dengan manajemen modern. “Saya masih terus  melihat bagaimana membangun sebuah industri peternakan yang betul-betul seperti  sebuah korporasi yang besar, yang jumlahnya banyak yang besar tapi yang memiliki adalah Rakyat, yang memiliki adalah peternak-peternak yang bergabung, terkonsolidasi dalam sebuah organisasi, entah bentuk PT, atau dalam bentuk koperasi, entah dalam bentuk gabungan peternakan dalam jumlah yang banyak,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 24/9/2018).

“Terlalu banyak peraturan yang menghambat usaha-usaha kita. Saya kira, sudah mulai banyak yang kita hapuskan, kita hilangkan dan kita harapkan dunia usaha, terutama di sektor peternakan ini betul-betul bisa memunculkan industri-industri peternakan dengan manajemen yang modern,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 24/9/2017).

Dr. Ir. Sundari, M.P. melihat bahwa tata-kelola peternakan secara modern harus berbasis tata-kelola kemitraan strategis antara (1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah, (2) Perguruan Tinggi, (3) sektor industri peternakan nasional, dan (4) masyarakat peternak di Negara RI.

“Manajemen modern peternakan nasional harus berbasis tata-kelola kemitraan Pemerintah, industri peternakan, perguruan tinggi atau akademisi, dan masyarakat atau asosiasi peternak. Misalnya, budi-daya udang alami 4.000 ha di Lampung dan Sumatera Selatan tahun 2008-2009, membutuhkan sarjana peternakan jurusan nutrisi; akademisi memetakan potensi peternakan per wilayah, misalnya, fokus ternak kuda, sapi, kambing, ayam dan lain-lain sesuai karakter per wilayah atau integrasi perkebunan dan peternakan sapi, itik, dan hewan-hewan lain yang tidak merusak lingkungan; aplikasi hasil riset dan sains sektor peternakan didukung oleh dana Pemerintah, Pemda, atau CSR perusahan peternakan; pelatihan peternak mengolah daging didukung oleh Pemda,” ungkap Dr. Ir. Sundari, M.P.

Dr. Ir. Sundari, M.P. menyebut contoh. “Teknologi industri 4.0 dapat diterapkan pada sektor peternakan, misalnya, penggunaan chip monitor bobot sapi, penerapan algoritma komputer guna memantau dan identifikasi kelahiran, kematian dan survival ternak dari waktu ke waktu; pelatihan tata-kelola kandang ternak agar peternak, ternak dan lingkungan sehat, limbahnya diolah, dan hasil produksinya dijual secara online,” ungkap Dr. Ir. Sundari, M.P.

Oleh: Sevrin Intang (Yogyakarta)