• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tata-kelola Musik Sebagai Kekayaan dan Identitas Bangsa

Kamis (29/11/2018) di Asrama Haji Pondok Gede (Jakarta Timur), Presiden RI Joko Widodo menutup Festival Bintang Vokalis Qasidah Gambus Tingkat Nasional Tahun 2018 Lembaga Seni dan Qasidah Indonesia (LASQI). “Sabyan muncul sebagai grup kasidah dengan gaya milenial dan fenomenal. Saya lihat kemarin di YouTube yang melihat videonya sudah hampir 174 juta, sudah hampir sebanyak jumlah penduduk Indonesia... Insya Allah tahun depan akan diadakan di Kota Ambon. Pemerintah akan mendukung terus dan saya akan mendukung terus,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 29/11/2018).

Senin (22/3/2018) di Istana Merdeka (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis visi Musik Nasional sebagai bagian strategi besar kebudayaan Nasional saat menerima laporan panitia Konferensi Hari Musik Nasional. “Saya sebetulnya ke depan itu mengimpikan bagaimana strategi besar kebudayaan kita, lebih khusus lagi di bidang musik, ada visi misalnya ada visi 2050 dan visi 2100. Ini sudah mulai dirancang sejak mulai sekarang,” papar Presiden RI Joko Widodo (PresidenRI.go.id, 22/3/2018).

Dr. Royke Boby Koapaha, M.Sn, IIId/PenataTk.1/Lektor dan staf pengajar Prodi Penciptaan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, berpandangan bahwa eksistensi dan ekosistem musik nasional selama ini terbentuk dari jaringan mata-rantai non-linier komponis, pemain, masyarakat, perguruan tinggi, industri, dan Pemerintah yang mencerdaskan dan mensejahterakan Rakyat dan merawat musik sebagai budaya Bangsa.

“Eksistensi dan ekosistem musik nasional itu terbentuk dari jaringan mata-rantai non-linier antara komponis, pemain, masyarakat. Pra-Renaisans di Eropa abad 16 M, mata-rantai non-linier ini berada di bawah naungan raja-raja dan Gereja; misalnya, komponis relatif dijaga oleh Gereja, yang berbeda dengan musik di zona Asia. Kemudian ketika bangkit nasionalisme abad 20 di berbagai zona dunia, lahir era baru musik sebagai identitas Bangsa; lahir industri musik pasca runtuhnya monarki di berbagai negara. Industri musik maju pesat sehingga berperan vital bagi kesejahteraan Rakyat dan identitas Bangsa. Maka ke depan pilihannya ialah jaringan mata-rantai non-linier komponis, pemain, masyarakat, pemerintah, dan industri musik mengelola seni musik sebagai kekayaan Bangsa, potensi Bangsa, dan identitas Bangsa kita,” papar Dr. Royke Boby Koapaha, M.Sn, alumnus S2 dan S3 pada ISI di Yogyakarta, kepada Staging-Point.Com, Kamis (14/2/2019) di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta.

Hari Sabtu 9 Maret 2013 di Jakarta, Presiden Republik Indonesia (RI) Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan Keputusan Presiden (Keppres) No. 10 Tahun 2013 tentang Hari Musik Nasional. Musik sebagai ekspresi budaya universal, menurut Keppres No. 10/2013, memiliki perang strategis dalam pembangunan nasional. Tanggal 9 Maret adalah hari lahir pahlawan nasional dan pencipta Lagu Indonesia Raya, Wage Rudolf Supratman (Purworejo, 9 Maret 1903). Dasar yuridis Keppres No. 10/2013 ialah Pasal 4 ayat (1) UUD 1945: “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.”

Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 menetapkan: “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.”; Pasal 32 ayat (1) berbunyi : “Negara memajukan Kebudayaan Nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya.”

Dr. Royke Boby Koapaha melihat peluang merawat eksistensi musik nasional dan memacu daya-saing musik nasional terletak pada nilai-nilai yang lahir dari mata-rantai jaringan non-linier antara komponis, pemain, masyarakat, pemerintah, industri musik dan perguruan tinggi di Negara RI. “Eksistensi dan daya-saing musik nasional kita sangat bergantung pada nilai-nilai yang lahir dari mata-rantai jaringan non-linier ekosistem musik nasional. Misalnya, jika kita mengembangkan musik pendidikan, maka dapat lahir nilai antara lain penguatan memori, sarana holistik, pembentukan mental tanggung jawab, ekspresi zaman, misalnya musik The Beatles 1960-an dan 1970-an di Amerika. Di sisi lain, musik pendidikan  dapat mencerdaskan Rakyat dan mensejahterakan pelaku musik serta merawat identitas atau karakter musik-musik daerah kita misalnya melalui perlindungan serta pengarsipan hak cipta musik-musik daerah. Dari sini berawal tata-kelola musik sebagai kekayaan dan identitas keragaman Bangsa kita untuk kesejahteraan Rakyat dan kecerdasan Bangsa,” ungkap Dr. Royke Boby Koapaha.

Oleh : Michael Yoga (Yogyakarta)