• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Respon Terumbu Karang Terhadap Perubahan Iklim

Kerusakan lingkungan dan cuaca parah misalnya badai siklon (cyclones) atau pemutihan karang karena kenaikan suhu permukaan laut (thermal coral bleaching), berbeda-beda mempengaruhi wilayah-wilayah tertentu terumbu karang. Marga-satwa laut yang hidup di antara terumbu karang, dipengaruhi oleh perubahan iklim yang merusak, bergantung pada jaraknya dengan zona daratan (University of Exeter, 22/2/2019).

Begitu hasil riset kolaborasi ahli antara lain Eva McClure dan Dr. Andrew Hoey dari James Cook University (Australia), Dr. Laura Richardson dari University of Exeter (Inggris), yang meneliti dampak bencana alam pada Great Barrier Reef (GBR), yang merupakan tempat huni dan hidup bagi lebih dari 1.500 spesies ikan termasuk ikan lepu (lionfish), ikan anemon (clownfish), dan ikan beo (parrotfish) (University of Exeter, 22/2/2019).

Karang Penghalang Besar (Great Barrier Reef) adalah kumpulan terumbu karang terbesar dunia yang terdiri dari kurang lebih 3.000 karang dan 900 pulau, yang membentang sepanjang 2.600 km. Karang ini berlokasi di Laut Koral,, lepas pantai Queensland di timur laut Australia. Sebagian besar wilayah karang termasuk zona lindung (Great Barrier Reef Marine Park) di Australia.

 “On coral reefs, it is common to find distinct communities of coral and reef fish living together at different locations across the continental shelf. But until now, we haven't known whether these different communities respond in the same way to environmental disturbances or whether specific local conditions might result in different community responses whether close to the mainland or further from shore,” ungkap Eva McClure, lead-author studi ilmiah itu (University of Exeter, 22/2/2019).

Hasil riset itu dirilis oleh jurnal Diversity edisi Februari 2019 (Eva McClure, Laura Richardson, Alexia Graba-Landry, Zoe Loffler, Garry Russ, Andrew Hoey, “Cross-Shelf Differences in the Response of Herbivorous Fish Assemblages to Severe Environmental Disturbances”, Diversity, 2019). “The loss of species is of greatest concern, affecting the functioning of these reefs and their capacity to respond to future disturbances. It may be setting these reefs up for future ecological surprises,” papar Dr. Andrew Hoey dari James Cook University di Australia (University of Exeter, 22/2/2019).

Riset itu meneliti 3 (tiga) daerah khusus GBR yakni (1) wilayah terumbu karang paling dekat ke zona daratan, (2) wilayah terumbu karang jarak menengah dari daratan, dan (3) wilayah terumbu karang sangat jauh dari zona daratan. Survei ikan dan terumbu karang dilakukan 5 (lima) tahun sebelum dan 6 (enam) bulan setelah dua badai siklon dan satu peristiwa coral-bleaching massal. Tragedi lingkungan itu memicu kerusakan terumbu karang, namun sejumlah ikan herbivora masih aman di dalam rongga rak terumbu karang atau bahkan meningkat di tengah atau di luar wilayah rongga rak terumbu karang (Science Daily, 22/2/2019).

“After widespread loss of corals due to large storms or severe coral bleaching events, herbivorous reef fish are vital for removing seaweed that starts to grow over the dead corals, so that new corals can grow, and surviving corals can recover. Understanding how these herbivorous fish respond across the continental shelf highlights where reefs may be more vulnerable and possibly slower to recover. The increased number of herbivorous fish on some reefs in this study is highly promising as they can help prevent the proliferation of seaweed after these huge disturbances,” papar Dr. Laura Richardson, ahli biologi kelautan pada Penryn Campus, University of Exeter (University of Exeter, 22/2/2019).

 

 

Oleh: Servas Pandur