• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Interaksi Spesies-Spesies Tanaman dan Hewan

Kolaborasi tim ahli dari 13 lembaga di seluruh benua Amerika, melakukan satu eksperimen lapangan (field experiments) yang meniru tanaman dan hewan berinteraksi satu sama lain—dengan meninggalkan benih selama 24 jam untuk mengetahui berapa banyak dikonsumsi oleh hewan-hewan. Sekitar 7 (tujuh) ribu semai benih disebar pada situs-situs sepanjang 18 pegunungan dari Alaska hingga Equator. Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Science Advances (A. L. Hargreaves et al, “Seed predation increases from the Arctic to the Equator and from high to low elevations”,  Science Advances  20/2/2019: Vol. 5, no. 2).

Secara sistematis, kolaborasi ahli itu mengukur predasi benih pasca-dispersal dengan menggunakan 6.995 depot benih standar sepanjang 18 pegunungan di kordilera Pasifik (Alaska hingga Equator). Hasilnya, predasi benih meningkat 17% dari Kutub Utara ke Khatulistiwa dan 17% dari 4.000 meter di atas permukaan laut.

Kontinum jumlah gradasi total predasi—dipicu oleh invertebrata—konsisten sepanjang treeline ecotones (wilayah transisi dua komunitas biologis dengan garis batas pohon-pohon tumbuh) dan di dalam hutan-hutan, lebih dapat dijelaskan oleh musim iklim daripada oleh produktivitas, keanekaragaman hayati, atau garis lintang. Hasil riset ini menunjukkan bahwa peran interaksi spesies dapat diprediksi dalam proses evolusi dan ekologis ekosistem tropis, dataran rendah, dan ekosistem dengan kurang siklus musim (A. L. Hargreaves et al, 2019).

“Theory predicts that interactions among species--like predation and competition--will be strongest in the warm, productive, biodiverse ecosystems of the tropics and at low elevations. For example, the spectacular diversity of tropical trees is thought to result partly from stronger interactions between plants and the animals that prey on their seeds, which shapes how and where plants grow and adapt,” ungkap Profesor Anna Hargreaves dari McGill University, lead author studi ilmiah ini dan merilis proyeknya di Biodiversity Research Centre, University of British Columbia (UBC) (University of British Columbia, 20/2/2019).  

Dengan melindungi beberapa benih dari mamalia, para peneliti menemukan bahwa pola-pola skala besar konsumsi benih dari hewan-hewan, digerakan oleh predator-predator benih paling kecil yakni serangga dan invertebrata lainnya. Eksperiman standar dengan skala sebanding lainnya menggunakan ulat-ulat model tanah liat dan menemukan bahwa tingkat serangan terhadap ulat-ulat model tanah liat, meningkat ke arah lintang rendah—interaksi tanaman dan hewan yang juga sangat digerakan oleh invertebrata (UBC Science, 20/2/2019).

Para peneliti memadukan ulat-ulat tiruan (fake caterpillars) dengan benih-benihnya untuk menentukan apakah pola-pola predasi benih sesuai dan benar satu dengan lainnya. “Taken together, these experiments suggest that invertebrates play an outsized role in the community dynamics and evolution of tropical and lowland ecosystems. And yet we know relatively little about invertebrates, for example, how climate change is affecting their populations,” ungkap Profesor Anna Hargreaves (UBC Science, 20/2/2019).

Tim peneliti menggunakan metode-metode yang konsisten dari Artic hingga Equator dan mereplika eksperimen 24 jam itu beberapa kali selama periode produksi benih alamiah pada setiap lintangnya. Studi ilmiah itu menemukan konsumsi benih atau predasi meningkat dari 2,6% untuk setiap 10 derajat lintang ke arah Equator dan sekitar 0,4% untuk penurunan 100 meter tiap elevasi. Total predasi benih naik 17% antara Alaska dan Equator dan sebesar 17% dari ketinggian 4.000 meter di atas permukaan laut. 

“These interactions form the basis of how ecosystems function and the direct benefits of those ecosystems to human society. Understanding global patterns in key interactions between species, such as seed predation, is essential when we think about managing or restoring the ecosystems, especially in the face of climate change,” papar Santiago David,  mahasiswa tingkat doktoral (Ph.D) pada UBC, yang melaksanakan satu dari studinya di situs-situs Kolumbia (University of British Columbia, 20/2/2019).  

Tim ahli dalam riset kolaborasi itu ialah (1) A. L. Hargreaves,  Department of Biology, McGill University, Kanada; Department of Zoology and Biodiversity Research Centre, University of British Columbia (UBC), Vancouver, Kanada; (2) Esteban Suárez dari Instituto Biósfera & Colegio de Ciencias Biológicas y Ambientales, Universidad San Francisco de Quito, Ekuador; (3) Klaus Mehltreter dari Red de Ecología Funcional, Instituto de Ecología, A.C., carretera antigua a Coatepec, Méksiko; (4) Isla Myers-Smith dari School of GeoSciences, University of Edinburgh, Inggris; (5) Sula E. Vanderplank dari Centro de Investigación Científica y de Educación Superior de Ensenada, Méksiko; Botanical Research Institute of Texas, Amerika Serikat; (6) Heather L. Slinn dari Department of Biology, University of Nevada Reno, Amerika Serikat; (7) Yalma L. Vargas-Rodriguez dari National Council of Science and Technology & University of Guadalajara, Méksiko; (8) Sybille Haeussler dari Bulkley Valley Research Centre and University of Northern British Columbia, Kanada; (9) Santiago David dari Department of Zoology and Biodiversity Research Centre, University of British Columbia, Vancouver, Kanada; (10) Jenny Muñoz dari Department of Zoology and Biodiversity Research Centre, University of British Columbia, Kanada; (11) R. Carlos Almazán-Núñez dari Laboratorio Integral de Fauna Silvestre, Facultad de Ciencias Químico Biológicas, Universidad Autónoma de Guerrero, Méksiko; (12)  Deirdre Loughnan dari  Department of Zoology and Biodiversity Research Centre, University of British Columbia, Vancouver, Kanada   (13) John W. Benning dari Department of Plant and Microbial Biology, University of Minnesota, Amerika Serikat;  (14) David A. Moeller dari Department of Plant and Microbial Biology, University of Minnesota, Amerika Serikat; (15) Jedediah F. Brodie dari Division of Biological Sciences and Wildlife Biology Program, University of Montana, Amerika Serikat;   (16) Haydn J.D. Thomas dari  School of GeoSciences, University of Edinburgh, Edinburgh, Inggris;  (17) P. A. Morales M. dari Herbario Universidad de Antioquia, Universidad de Antioquia, Kolombia.

Oleh: Servas Pandur