• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


‘Gencatan-Senjata’ Perang Dagang AS vs Tiongkok

Perang Dagang Amerika Serikat (AS) vs Tiongkok tidak menguntungkan AS. Presiden AS Donald Trump kini berupaya menyusun agenda dagang proteksionis guna melindungi manufaktur AS dari persaingan dagang dengan Tiongkok. Namun, upaya mengurangi defisit dagang AS dengan Tiongkok melalui penutupan keran impor yang tidak adil atau negosiasi kesepakatan perdagangan bebas, belum memperlihatkan sinyal sukses.

Defisit mencapai 12,4% pada Desember 2018 yang memicu rekor anjloknya perdagangan barang senilai 891,3 miliar dollar AS akhir 2018. Secara umum, defisit dagang AS dengan Tiongkok mencapai 12,5% sekitar 621 miliar dollar AS tahun 2018 atau terendah sejak 2008.  AS berupaya mengurangi defisit perdagangannya dengan Tiongkok guna mendorong pertumbuhan ekonomi sekitar 3% per tahun (Lucia Mutikani/Reuters, 6/3/2019).

Tahun 2018, perang dagang AS bermula dari upaya AS menerapkan tarif sebesar 250 miliar dollar AS terhadap barang-barang impor asal Tiongkok. Namun, Xi Jinping dari Tiongkok, menerapkan tarif sebesar 110 miliar dollar AS terhadap barang impor seperti kedelai dan komoditi lainnya asal AS. Presiden AS Trump juga menunda penerapan tarif 200 miliar dollar AS terhadap Tiongkok melalui proposal negosiasi penyelesaian perang dagang kedua negara. AS juga menerapkan bea impor barang panel solar, mesin pembersih, baja, aluminium, yang mencapai rekor impor tahun 2018 dari 60 negara. Barang-barang ini paling banyak diimpor dari Tiongkok, disusul Meksiko dan Jerman (Reuters, 6/3/2019).

Di sisi lain, menguatnya nilai tukar dollar AS di berbagai zona pasar global, justru memicu barang-barang ekspor AS tidak lagi kompetitif di pasar global. Akibatnya, perang dagang AS vs Tiongkok memperlambat permintaan barang dan jasa pasar global.

Apakah AS dan Tiongkok dapat meraih gencatan senjata dalam perang dagang ini? Presiden AS Donald Trump mendorong deadline 2 Maret 2019 merupakan batas akhir penyelesaian sengketa dagang AS vs Tiongkok. Tidak mudah. Misalnya, AS menuding Tiongkok menerapkan praktek dagang tidak adil (predatory tactics) guna mengakhiri dominasi teknologi AS selama ini. Bentuknya antara lain pencurian rahasia dagang, subsidi Tiongkok terhadap perusahan teknologi, dan regulasi dijadikan sebagai instrumen hambat barang impor (Paul Wiseman & Darlene Superville/AP, 25/2/2019).

Perang tarif hanya simptom atau gejala dari persaingan AS vs Tiongkok merebut posisi super-power dunia sejak awal abad 21. Ini berdampak terhadap persaingan industri dan bahkan keamanan nasional kedua negara. Presiden AS, Donald Trump, sangat ingin mengakhiri defisit perdagangan AS dengan Tiongkok, yang menyentuh rekor 336 miliar dollar AS tahun 2017. AS membatasi investasi teknologi tinggi asal Tiongkok pada industri-industri AS dan ekspor teknologi canggih AS ke Tiongkok.

Kubu Trump akhir Februari 2019 mengharapkan kemajuan negosiasi gencatan senjata perang dagang kedua negara antara lain isu perlindungan hak cipta, alih-teknologi, manipulasi nilai tukar oleh Tiongkok, akses AS ke sektor pertanian Tiongkok, dan pasar jasa kedua negara. Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping asal Tiongkok bakal membahas isu-isu sensitif ini. Jika negosiasi ini sukses, pasar saham AS bakal naik. Sebaliknya, jika gagal, pasar saham AS bakal melorot.

Isu tuduhan kriminal (penipuan tentang pelanggaran sanksi terhadap Iran dan pencurian rahasia dagang) terhadap raksasa telekomunikasi Tiongkok, Huawei, bakal menjadi bagian dari negosiasi. Pada 1 Desember 2018, Kanada menangkap Meng Wanzhou, bos keuangan Huawei, atas permintaan AS. Tiongkok menahan dua warga Kanada (Rob Gillies, 25/2/2019).

Kini perang dagang AS vs Tiongkok tidak hanya merugikan AS, tetapi juga mempengaruhi supply-chains pasar global. Begitu kesimpulan kajian Mary Amiti, Stephen J. Redding dan David Weinstein  dari Princeton University (Mary Amiti et al, “The Impact of the 2018 Trade War on U.S. Prices and Welfare,” Journal of Economic Perspectives, March 1, 2019). Di tengah persaingan global ini, Negara RI mestinya dapat menjadi pusat peradaban ekonomi, sosial, dan lingkungan sejak awal abad 21 karena posisi geostrategisnya. 

Oleh: Komarudin Watubun