• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Teknologi Chip ke Mikrochip : Bedakan Manusia & Primata Lain

“Tool-making” (mencipta alat) selama ini diyakini oleh para antropolog sebagai satu kebiasaan dan perilaku yang membedakan manusia dan primata lainnya. Namun, hasil riset  Manuel Will et al (2019) menemukan bahwa bukan penciptaan alat, tetapi miniaturisasi alat-alat yang membedakan manusia dengan primata lainnya. Misalnya, transistor mini mengubah telekomunikasi beberapa dekade silam (Emory Health Sciences, 12/3/2019).

“It's a need that we've been perennially faced with and driven by. Miniaturization is the thing that we do,”ungkap antropolog Justin Pargeter dari Emory University, lead-author studi ilmiah yang dirilis oleh jurnal Evolutionary Anthropology: Issues, News, and Reviews edisi awal Maret 2019 itu (Manuel Will, Christian Tryon, Matthew Shaw, Eleanor M. L. Scerri, Kathryn Ranhorn, Justin Pargeter, Jessica McNeil, Alex Mackay, Alice Leplongeon, Huw S. Groucutt, Katja Douze, Alison S. Brooks,“Comparative analysis of Middle Stone Age artifacts in Africa (CoMSAfrica)”,  Evolutionary Anthropology: Issues, News, and Reviews, 2019).

Studi ilmiah itu merilis kajian lengkap tentang miniaturisasi alat-alat oleh manusia sekurang-kurangnya selama 2,6 juta tahun terakhir. “When other apes used stone tools, they chose to go big and stayed in the forests where they evolved. Hominins chose to go small, went everywhere, and transformed otherwise hostile habitats to suit our changing needs,” ungkap Profesor antropolog John Shea dari Stony Brook University, co-author studi ilmiah ini.

Studi ilmiah itu mencatat serpihan-serpihan batu kurang dari satu inci untuk menusuk, memotong, atau menangkis, yang terdapat di situs-situs arkeologi setiap benua. Serpihan-serpihan batu tersebut mirip pisau cukur atau penjepit kertas yang mudah dibuat dan diganti oleh manusia. Justin Pargeter menyebut tiga titik evolusi alat ciptaan manusia yakni (1) sekitar 2 juta tahun silam berbasis serpihan batu untuk memotong, mengiris, dan menusuk; (2) kira-kira 100 ribu tahun silam, manusia mengembangkan senjata busur dan anak panah dengan sisipan batu pipih kecil; (3) kira-kira 17.000 tahun silam—ketika permukaan laut naik, populasi padat, dan Zaman Es berakhir—manusia membuat alat dari batu dan mineral ukuran semakin kecil.

Direktur lab riset, Dietrich Stout, meriset kapak tangan sejak kira-kira 500.000 tahun silam. Kapak tangan dianggap penanda tahap penting evolusi biologis dan kognitif manusia. Fokus riset Pargeter ialah alat-alat kecil sebagai bagian dari riset evolusi manusia.  “He's (Pargeter, red) exploring what may have led to the compulsion to produce these tiny instruments -- essentially the relationship between the tools and the human body, brain and the probable uses of the tools,” ungkap Dietrich Stout (Emory Health Sciences, 12/3/2019).

Untuk topik riset doktoral (tesis Ph.D), Pargeter meneliti alat besar dan tipikal Zaman batu di situs Boomplaas, Afrika Selatan, yang tersimpan dalam gudang Museum Iziko, Cape Town.

Pegunungan sekitar Boomplaas menyediakan mata air dan sumber air tawar lainnya. Namun, iklimnya sulit diduga, suhu dan curah hujan bisa berubah tiba-tiba. Vegetasi berubah dramatis, suhu meningkat dan mamalia besar makin langka. Bukti arkeologi Boomplaas menunjukkan bahwa orang memakan kelinci dan kura-kura (Science Daily, 12/3/2019).

“These are low-reward food sources, indicating a foraging stress signal. Boomplaas might have even served as a type of refugee camp, with groups of hunter-gatherers moving away from the coast, trying to survive in marginal environments as resources rapidly depleted and climate change ratcheted up. The link shaft goes into the animal, sacrificing the small blade, but the arrow shaft pops out so you can retain this more costly component. Our ancestors were masters of aerodynamics and acted like engineers, rather than what we think of as 'cave people.' They built redundancy into their technological systems, allowing them to easily repair their tools and to reduce the impact of errors,” ungkap Justin Pargeter (Emory Health Sciences, 12/3/2019)

Di Museum Iziko, Cape Town  (Afrika Selatan), Pargeter menemukan artifak perak kuarsa kristal. “It was diminutive, about the size of a small raisin, and weighed less than half a penny. You could literally blow it off your finger. It suddenly occurred to me that archeologists may have missed a major component of our stone tool record. In our desire to make 'big' discoveries we may have overlooked tiny, but important, details. A whole technology could lay hidden behind our methods, relegated to bags considered waste material,” papar Justin Pargeter (Emory Health Sciences, 12/3/2019).

Lantas apa yang membuat manusia unik dan berbeda dari primata lainnya? “We've typically said that tool use makes us human, but that's kind of buckled under. The hands of other primates are not evolved for repeated fine manipulation in high-force tasks. We've evolved a unique precision grip that ratchets up our ability for miniaturized technology,” ungkap Justin Pargeter (Emory Health Sciences, 12/3/2019). Karena hewan atau primata lainnya dapat menggunakan alat. Misalnya, dengan batu, kera menghancurkan tiram; dengan batu, simpanse memecahkah kacang atau memodifikasi tongkat menggali dan menangkap rayap. Namun, ukuran alat-alat ini besar (Science Daily, 12/3/2019). 

Oleh: Servas Pandur