• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Rawat Mentalitas ‘Archipelago’ & Kemajemukan Bangsa RI

Kamis (16/8/2018) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo merilis Pidato Presiden Republik Indonesia (RI) di Depan Sidang Tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) Tahun 2018. “...Selama setahun terakhir, MPR sesuai tugas konstitusionalnya, terus berusaha untuk berperan sebagai rumah aspirasi Bersama, rumah Kebangsaan, serta pengawal Ideologi Pancasila dan Kedaulatan Rakyat. Dalam menunaikan perannya, MPR antara lain telah mengawal dan memberikan jaminan bahwa sistem Ketatanegaraan Indonesia harus mencerminkan semangat dan jiwa yang merupakan implementasi dari nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 16/8/2018).

Menurut Profesor Dr. M. Amin Abdullah, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta (2005-2010), dosen UIN Sunan Kalijaga, program S3 Universitas Islam Indonesia (UII) Yogya, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel, Surabaya (2006-2016), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bahwa Bhinneka Tunggal Ika, Pancasila dan mentalitas archipelago adalah kekuatan sejarah, kelahiran dan nilai Bangsa Indonesia.

“Jangan pernah melupakan sejarah Bangsa Indonesia. Indonesia memiliki sejarah sangat indah. Mulai dari Organisasi Boedi Oetomo yang didirikan oleh Dr Soetomo dan para mahasiswa STOVIA pada 20 Mei 1908, organisasi yang menyatukan Indonesia dan membawa Indonesia kepada kemerdekaan. 28 Oktober 1928, para pemuda dari seluruh Indonesia menyatukan tekad hidup dalam satu Bangsa, satu Bahasa, dan satu Tanah Air, yaitu Indonesia.  Tidak ada penyebutan agama. Selanjutnya dalam Pancasila, para pendiri Negara Indonesia menyepakati untuk bersatu dalam ke-bhinnneka-an. Coba lihat Ir Soekarno bisa membujuk Kasman, Ki Bagus, Wahid Hasyim, dan pendiri Negara RI lainnya agar menerima Pancasila sebagai Dasar Negara RI yang berkedaulatan Rakyat. Tokoh-tokoh Bangsa itu menerima dengan hati-ikhlas. Sekarang dan ke depan, komitmen kita adalah menjaga capaian terbaik dari pendahulu kita,” papar Profesor Dr. M. Amin Abdullah kepada Staging-Point.Com, Rabu (6/2/2019) di Hotel Sari Pacific, Jln M.H Thamrin No.6, Jakarta Pusat.

Profesor Dr. M. Amin Abdullah menyelesaikan studi S2-S3 pada Departement of Philosophy, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1984-1990) dengan disertasi The Idea of Universality of Ethical Norms in Ghazali and Kant (1990) dan studi post-doctorate pada McGill University, Montreal, Kanada (1997-1998). Profesor Dr. M. Amin Abdullah melihat bahwa sejak dulu, Bangsa Indonesia memiliki dan mewariskan mentalitas archipelago dan lahir dalam kemajemukan yang harus dirawat oleh Bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila.

“Para pendiri Negara ini (Negara RI, red) menyepakati Pancasila sebagai Dasar Negara RI yang berkedaulatan Rakyat. Lantas kemudian jika muncul pihak-pihak tertentu yang mau mengingkarai kesepakatan para pendiri negara ini; tidak bisa seperti itu! Komitmen kita adalah menjaga capaian terbaik dari pendahulu kita. Semua pihak harus menghentikan ‘badai’ yang ingin memecah-belah Bangsa Indonesia. Jika ada ‘badai’, jangan pernah melupakan sejarah Bangsa kita,” ungkap Profesor Dr. M. Amin Abdullah.

Lebih rinci, Profesor Dr. M. Amin Abdullah menguraikan jejak sejarah Bangsa Indonesia. “Semenjak lahir, mentalitas masyarakat Indonesia adalah mentalitas archipelago, bukan mentalitas continental. Kita ikut Jerman yang justru meruntuhkan tembok pemisah antara Jerman Barat dengan Jerman Timur. Tidak usah gelisah. Kita adalah Bangsa yang optimis; kita sudah dilahirkan dalam kemajemukan. Kita adalah Bangsa yang Bhinneka Tunggal Ika. Oleh sebab itu kita harus pertahankan mentalitas archipelago Nusantara berdasarkan Pancasila,” papar Profesor Dr. M. Amin Abdullah.

Minggu (27/1/2019) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta Pusat, Presiden RI Joko Widodo merilis Sambutan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan Hari Lahir Ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) serta Doa untuk Keselamatan Bangsa. “...Penduduk kita sekarang sudah 260 juta. 149 juta bertempat tinggal di Pulau Jawa, tetapi masih ada 17.000 pulau lagi yang kita miliki dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote...Dan penduduk Indonesia ini berbeda-beda, bermacam-macam, majemuk, warna-warni, beranekaragam. Berbeda suku, berbeda agama, berbeda adat, berbeda tradisi, berbeda bahasa daerah.. karena kita memang memiliki 714 suku dengan 1.100 lebih bahasa daerah. Inilah Negara kita, Indonesia. Kita dianugerahi oleh Allah berbeda-beda, bermacam-macam, beda-beda semuanya,” papar Presiden RI Joko Widodo (Humas Setkab RI, 27/1/2019). 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)