• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kamuflase Warna Kulit Cumi Tersingkap

Selama ini, sejumlah ahli biologi kelautan tertarik meneliti pola perubahan warna kulit cumi-cumi untuk kamuflase atau sinyal seksual. Hasil riset kolaborasi tim ahli dari Northeastern University—didirikan tahun 1898 di Boston, Massachusetts (Amerika Serikat) dan Marine Biological Laboratory (MBL) di Amerika Serikat, baru-baru ini menemukan bahwa organ-organ khusus kulit cumi kromatofora (chromatophores) melakukan interaksi atau saling-pengaruh pigmen dan pewarnaan kulit cumi-cumi. Studi ilmiah ini melahirkan ilham baru pembentukan “smart-skin” (Marine Biological Laboratory, 6/3/2019).

Riset ini didanai oleh National Science Foundation, Air Force Office of Scientific Research, US Department of Defense Office of Naval Research, dan National Institute of Health di Amerika Serikat.  Hasil riset dirilis oleh jurnal Nature Communications, edisi elektronik awal 2019 (Thomas L. Williams, Stephen L. Senft, Jingjie Yeo, Francisco J. Martín-Martínez, Alan M. Kuzirian, Camille A. Martin, Christopher W. DiBona, Chun-Teh Chen, Sean R. Dinneen, Hieu T. Nguyen, Conor M. Gomes, Joshua J. C. Rosenthal, Matthew D. MacManes, Feixia Chu, Markus J. Buehler, Roger T. Hanlon, Leila F. Deravi, “Dynamic pigmentary and structural coloration within cephalopod chromatophore organs”, Nature Communications, 2019).

“People have been trying to build devices that can mimic cephalopod color change for a long time by using off-the-shelf components. Nobody has come anywhere near the speed and sophistication of how they actually work,” ungkap Leila Deravi, asisten profesor kimia dan biologi kimia pada Northeastern University di Amerika Serikat. Riset ini dipimpin oleh lab Asisten Profesor Leila Deravi (Marine Biological Laboratory, 6/3/2019). 

Asisten Profesor Leila Deravi dan Roger Hanlon, ilmuwan senior pada Marine Biological Laboratory (MBL) adalah ahli-ahli kamuflase cephalopoda (cumi-cumi, gurita dan sotong). Keduanya memimpin tim peneliti studi ilmiah lintas-disiplin ini guna mengetahui perubahan warna kulit cumi-cumi hingga level molekul (Science Daily, 6/3/2019).

Kulit cumi berisi dua jenis struktur yang memanipulasi cahaya guna menghasilkan beragam warna.  Kromatofora mengandung kantung elastis pigmen yang meregang dengan cepat menjadi cakram-warna ketika otot-otot di sekitarnya berkontraksi. Ketika cahaya menyorot butiran pigmen, struktur kulit cumi menyerap sebagian besar panjang gelombang cahaya itu dan memantulkan kembali hanya sebagian kecil warnanya. Jauh di dalam molekul kulit cumi, cel-cel (iridophores) memantulkan semua sorotan cahaya ke arahnya. Melalui persebaran cahaya ini (structural coloration), kulit cumi memantulkan cahaya kemilau warna-warni (Science Daily / Marine Biological Laboratory, 6/3/2019).

Selama ini, data hasil riset hanya menunjukkan bahwa struktur-struktur kulit cumi hanya menghasilkan satu jenis pantulan warna atau lainnya ialah pigmentari atau struktural. Namun, hasil riset kolaborasi tim ahli itu dan peneliti Stephen L. Senft dari MBL meriset secara teliti dan seksama terhadap kromatofor cumi-cumi dan menemukan permainan warna-warni melalui interaksi sempurna dengan pigmen pada kulit cumi (Science Daily / Marine Biological Laboratory, 6/3/2019).

Tim ahli itu (antara lain Alan M. Kuzirian, Joshua C. Rosenthal, ilmuwan Massachusetts Institute of Technology /MIT dan ilmuwan dari University of New Hampshire) menyimpulkan bahwa permainan warna-warni kulit cumi berasal dari kromatofora (chromatophore)—sel berisi pigmen pada kulit. “In that top layer, embedded into the chromatophore organ, is structural coloration. No one had found anything like that. I saw this in 1978, and I didn't realize what I was looking at. It's incredible. We kind of broke up the known paradigm of how the skin works in the cephalopod world,” papar Roger Hanlon yang mempelajari biologi cephalopod selama 40 tahun terakhir (Marine Biological Laboratory, 6/3/2019).

Awal abad 21, Marine Biological Laboratory (MBL) merupakan pusat riset dan pendidikan skala internasional bidang sains lingkungan dan biologi. MBL didirikan di Woods Hole, Massachusetts (Amerika Serikat) pada tahun 1888, dan kini merupakan lembaga nirlaba, independen, dan swasta yang berafiliasi dengan University of Chicago sejak 1 Juli 2013. MBL juga kini sudah berafiliasi dengan lembaga-lembaga riset dan pendidikan lainnya (Marine Biological Laboratory, 2019). 

 

Oleh: Servas Pandur