• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cara Replikasi Virus Pada Sel-Sel Inang

Tim ahli bio-fisika Ferdinand Krupp et al (2019) dari Charité - Universitätsmedizin Berlin, Freie Universität Berlin dan Max Planck Institute for Molecular Genetics di Jerman, menemukan mikroskop cryo-elektron resolusi tinggi untuk mengurai replikasi virus pada sel-sel inangnya. Selama ini, replika virus-virus sangat bergantung pada sel-sel inangnya. Jika tidak ada sel inang, maka tidak ada virus. Meskipun virus-virus dapat menyebar dan survival di luar suatu inang, namun virus-virus membutuhkan sel inang untuk replikasi (Charité - Universitätsmedizin Berlin, 6/3/2019).

Hasil riset dan penemuan itu dirilis oleh jurnal Molecular Cell, edisi elektronik awal 2019 (Ferdinand Krupp, Nelly Said, Yong-Heng Huang, Bernhard Loll, Jörg Bürger, Thorsten Mielke, Christian M.T. Spahn, Markus C. Wahl, “Structural Basis for the Action of an All-Purpose Transcription Anti-termination Factor,” Molecular Cell, 2019).

Virus-virus tidak memiliki perangkat-perangkat transkripsi informasi genetik dan replikanya menjadi unsur-unsur virus baru. Karena itu, semua virus membutuhkan akses ke perangkat molekul sel-sel inang. Selama puluhan tahun, para ahli berupaya meneliti dan menyingkap cara virus mengeksploitasi fungsi-fungsi sel inangnya. Fokus dan obyek risetnya ialah bacteriophages – virus-virus yang bergantung pada inang bakteri untuk replikasi seperti 'lambda phage’ (Science Daily, 6/3/2019).

Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa lambda phage memasukan informasi genetiknya ke dalam situs khusus genome inangnya. 'RNA polymerase' – protein yang mentranskripsi informasi genetik—biasanya berhenti membaca informasi genetik ini pada  akhir gene bakteri dan mengabaikan setiap gen-gen virus yang masuk setelah itu. Virus menggunakan suatu cara khusus yang mencegah RNA polymerase untuk mengakhiri proses transkripsinya. Yakni virus memasukan 'lambda-N' (λN)—satu protein kevil yang terpateri ke RNA polymerase inangnya dan mendorongnya untuk melanjutkan transkripsi gen-gen virus (Science Daily, 6/3/2019).

Selama ini, para ahli sulit menyingkap dan mengenali cara kerja protein kecil ini. Kini tim peneliti asal Charité - Universitätsmedizin Berlin di Jerman, telah berhasil memvisualkan struktur 3D dari RNA polymerase-λN dan menjelaskan ‘viral exploitation’ ini melalui pencitraan resolusi tinggi. “The nature of this structure told us that the small viral λN protein seals together the two halves of the RNA polymerase, thus preventing it from falling apart once it reaches the stop signal at the end of the bacterial gene,” ungkap Ferdinand Krupp, mahasiswa doktoral pada Institute of Medical Physics and Biophysics, Charité - Universitätsmedizin Berlin, satu dari penulis utama studi ilmiah itu (Charité - Universitätsmedizin Berlin, 6/3/2019).

Dalam riset ilmiah itu, tim ahli Charité bekerjasama dengan ahli dari Freie Universität Berlin dan Max Planck Institute for Molecular Genetics di Jerman. Mulai-mula tim ahli itu membuat secara terpisah, masing-masing unsur pokok kelompok protein ini. Kemudian tim ahli merakit unsur-unsur itu dan menempatkannya dalam satu film tipis air dan membekukannya. Dengan alat mikroskop cryo-elektron, para peneliti itu membuat 700.000 imej kelompok protein dari berbagai sisi atau angel dan menghitung struktur 3D-nya (Science Daily, 6/3/2019).

“Because of this, the RNA polymerase continues transcribing even once it reaches the viral genes. Once all the viral genes have been read, they are then used as a blueprint for making daughter viruses - meaning the virus has achieved its objective. Our data also explain many of the individual results recorded over five decades of research. Taken together, these findings may contribute to the development of new antibacterial drugs,” papar ahli biofisika Ferdinand Krupp (Charité - Universitätsmedizin Berlin, 6/3/2019). 

Oleh: Servas Pandur