• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kemiripan Hoaks ‘April Mop’ & Berita Palsu (Disinformasi)

Tim peneliti computing dan communication Edward Dearden dan Dr. Alistair Baron (2019)  pada Natural Language Processing di Lancaster University, Inggris, baru-baru ini meneliti trik atau muslihat (deception) dengan membandingkan bahasa berita hoaks April Fools (April Mop) dan berita palsu (fake news). Hasilnya, ada kemiripan bahasa tulisan humor-hoaks April Fools atau April Mop dengan fake-news (disinformasi online).  Jadi, studi tentang berita hoaks April Mop (1 April) dapat memberi petunjuk identifikasi fake news (Lancaster University, 29/3/2019; Dearden, E. & Baron, A, 20th International Conference on Computational Linguistics and Intelligent Text Processing. Springer, 17 p., 20/02/2019).

Kedua ahli itu menghimpun serangkaian data baru (novel dataset/corpus) lebih dari 500 artikel April Fools pada 370 situs Internet selama 14 tahun terakhir. “April Fools hoaxes are very useful because they provide us with a verifiable body of deceptive texts that give us an opportunity to find out about the linguistic techniques used when an author writes something fictitious disguised as a factual account. By looking at the language used in April Fools and comparing them with fake news stories we can get a better picture of the kinds of language used by authors of disinformation,” papar lead-author studi ini, Edward Dearden, mahasiswa Ph.D bidang computing and communication pada Lancaster University dengan afiliasi Security Lancaster (Cyber Security) (Lancaster University, 29/3/2019).

Para peneliti itu memusatkan risetnya tentang fitur-fitur khusus teks-teks hoaks April Fools, misalnya panjang-lebar rincian teksnya, ketidak-jelasan, gaya penulisan formal, dan kerumitan tata-bahasanya. Kemudian kedua ahli itu membandingkan berita hoaks April Fools dengan dataset berita palsu (fake news), yang sudah disusun oleh tim peneliti lain. Perbandingan teks-teks hoaks April Fools dengan artike-artikel berita asli pada periode yang sama – tidak terpublikasi pada 1 April – menyingkap perbedaan-perbedaan gaya (Science Daily, 29/3/2019).

Hasil riset dan kajian para ahli itu menemukan bahwa meskipun tidak semua fitur hoaks dalam April Fools dapat berguna bagi deteksi berita-berita palsu (fake news), namun terdapat sejumlah kesamaan karakter keduanya. Misalnya, hoaks-hoaks April Fools dan artikel-artikel berita palsu (fake news) cenderung berisi bahasa tidak terlalu rumit, mudah dibaca, dan kalimat-kalimatnya lebih panjang dari berita-berita asli (genuine news).

“Looking at details and complexities within a text are crucial when trying to determine if an article is a hoax. Although there are many differences, our results suggest that April Fools and fake news articles share some similar features, mostly involving structural complexity,” ungkap Dr. Alistair Baron, co-author studi ilmiah ini (Lancaster University, 29/3/2019).

Rincian laporan berita asli khususnya nama, tempat, waktu, tanggal, hari, apa, siapa, dan bagaimana jarang dan sangat kurang digunakan dalam hoaks April Fools dan fake-news. Sebutan orang pertama, seperti ‘kami’ merupakan fitur pokok April Fools dan fake-news. Hal ini berbeda dengan dugaan selama ini dalam melacak kebohongan (deception detection), bahwa pembohong lebih sedikit menggunakan sebutan orang pertama (Science Daily, 29/3/2019).

Secara umum, hasil riset itu menemukan bahwa perbandingan antara hoaks April Fools dan berita asli (genuine news) yakni (1) April Fools umumnya lebih pendek dari berita asli; (2) April Fools menggunakan lebih banyak kata-kata unik; (2) April Fools menggunakan kalimat-kalimat lebih panjang; (3) April Fools lebih mudah dibaca; (4) mengacu pada peristiwa tidak jelas tentang masa depan; (5) berisi lebih banyak rujukan pada masa sekarang; (6) kurang tertarik dengan peristiwa masa silam; (7) lebih sedikit berisi kata benda yang tepat (proper nouns); (8) lebih banyak menggunakan kata ganti orang pertama (Science Daily, 29/3/2019).

Sedangkan perbandingan antara bahasa fake-news dengan genuine news, kedua ahli itu menemukan : (1) Fake-news lebih pendek; (2) mudah dibaca; (3) bahasanya sederhana; (4) lebih sedikit tanda-tanda punktuasi; (5) lebih banyak kata-benda yang tepat; (6) umumnya kurang formal, berisi banyak kata kotor dan kesalahan pengejaan; (7) sangat sedikit menyebut tanggal; dan (8) lebih banyak memakai kata ganti orang pertama (Science Daily, 29/3/2019).

Tim peneliti itu menciptakan machine-learning ‘classifier’ guna mengidentifikasi artikel hoaks April Fools, fake-news atau genuine news. “Our findings suggest that there are certain features in common between different forms of disinformation and exploring these similarities may provide important insights for future research into deceptive news stories,” papar Dr. Alistair Baron (Lancaster University, 29/3/2019). 

Oleh: Servas Pandur