• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Ikon Ekosistem Benua Afrika “Serengeti-Mara” Terancam

Selama ini, ikon eksosistem benua Afrika adalah Serengeti-Mara di Tanzania utara dan barat daya Kenya. Ekosistem ini termasuk satu dari world-heritage paling besar yang dilindungi di planet Bumi, sepanjang 40.000 km, termasuk Serengeti National Park dan Maasai Mara National Reserve di timur benua Afrika. Tiap tahun satu juta rusa kutub, sekitar 500 ribu gazel, dan 200.000 zebra migrasi di Serengeti Park di Tanzania hingga Maasai Mara di Kenya untuk mencari air dan padang rumput (Science Daily / York University, 28/3/2019).

Namun, kini lonjakan kegiatan manusia di sekitar ikon ekosistem Afrika itu, menekan kehidupan satwa liar pada jantungnya, merusak tempat hidup dan huninya, dan mengganggu jalur migrasi rusa kutub, zebra, dan kijang. Begitu hasil riset kolaborasi ahli yang dipimpin oleh ilmuwan asal University Groningen dan bekerjasama dengan ahli asal 11 lembaga dari berbagai negara (Science Daily / University of York, 28/3/2019).

Kolaborasi ahli itu antara lain melibatkan Dr. Simon Mduma, Direktur Wildlife Research Institute dari Pemerintah Tanzania; Prof. Mark Ritchie dari Syracuse University di Syracuse, New York, Amerika Serikat; Dr. Joseph Ogutu dari University of Hohenheim di Stuttgart, Jerman; Dr. Kate Parr dari University of Liverpool di Inggris; Dr. James Probert dari University of Liverpool di Inggris; Patrick Wargute dari Directorate of Resource Surveys and Remote Sensing di Nairobi, Kenya.

Tim ahli itu meriset data 40 tahun ekosistem Serengeti-Mara dan menemukan lonjakan sekitar 400% kegiatan manusia di beberapa wilayah perbatasannya; sedangkan populasi satwa liar di wilayah-wilayah jantung ekosistemnya di Kenya, telah merosot lebih dari 75%. “This finding alters our view on what is needed to protect biodiversity. There is an urgent need to rethink how we manage the boundaries of protected areas to be able to conserve biodiversity. The future of the world's most iconic protected area and their associated human population may depend on it,” ungkap Dr. Michiel Veldhuis, lead-author studi ilmiah ini dari University of Groningen di Groningen, Belanda (University of Groningen, 28/3/2019).

“Protected areas across East Africa are under pressure from a wide range of threats. Our work shows that encroachment by people should be considered just as serious a challenge as better known issues such as poaching and climate change,” ujar Dr. Colin Beale dari University of York di York, Inggris (University of Groningen, 28/3/2019). Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Science edisi 2019 (Michiel P. Veldhuis, Mark E. Ritchie, Joseph O. Ogutu, Thomas A. Morrison, Colin M. Beale, Anna B. Estes, William Mwakilema, Gordon O. Ojwang, Catherine L. Parr, James Probert, Patrick W. Wargute, J. Grant C. Hopcraft, Han, “Cross-boundary human impacts compromise the Serengeti-Mara ecosystem”, Science, 2019).

“Our results show that we cannot rely on the sheer extent of protected areas to conserve biodiversity - human impacts are pervasive and threaten even our most iconic reserves,” papar Profesor Dr. Kate Parr dari University of Liverpool di Inggris (University of Groningen, 28/3/2019). 

Oleh: Servas Pandur