• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bukti Baru Aliran ‘Air-Tanah’ Di Mars

“Air-tanah” (groundwater) mungkin ada di wilayah geografis lebih luas di Mars—bukan hanya di kutub Mars—dan air tanah di kedalaman sekitar 750 meter muncul ke permukaan melalui retakan pada kawah-kawah tertentu. Begitu hasil analisa sejumlah peneliti pada Arid Climate and Water Research Center (AWARE), University of Southern California (USC) di Amerika Serikat (AS), yang dirilis oleh jurnal Nature Geoscience edisi elektronik Maret 2019 (Abotalib Z. Abotalib & Essam Heggy, “A deep groundwater origin for recurring slope lineae on Mars”, Nature Geoscience volume 12, pages 235–241 (2019)). Riset ini didanai oleh NASA Planetary Geology dan Geophysics Program di Amerika Serikat.

Hasil riset dan analisa tim peneliti USC itu menunjukkan bahwa air dari kedalaman sekitar 750 meter dapat mengalir ke permukaan Mars. “Such depth requires us to consider more deep-probing techniques to look for the source of this groundwater versus looking for shallow sources of water. We suggest that this may not be true. We propose an alternative hypothesis that they originate from a deep pressurized groundwater source which comes to the surface moving upward along ground cracks,” papar Dr. Essam Heggy, ahli radar dan pencitraan gelombang mikro dan anggota eksperimen eksperimen radar Mars Express Sounding (MARSIS/ Mars subsurface sounding radar experiment), yang menyelidiki permukaan Mars (University of Southern California, 28/3/2019/Xinhua, 29/3/2019).

Sedangkan kolega Dr. Essam Heggy, Dr. Abotalib Z. Abotalib, rekan penelitian pasca-doktoral di USC, mempelajari karakteristik Mars Recurrent Slope Linea, yang kondisinya mirip kering dan aliran-aliran jarak pendek air di beberapa dinding kawah Mars. “The experience we gained from our research in desert hydrology was the cornerstone in reaching this conclusion. We have seen the same mechanisms in the North African Sahara and in the Arabian Peninsula, and it helped us explore the same mechanism on Mars,” ungkap Abotalib Z. Abotalib, penulis utama (first author) studi ilmiah ini.

Pertengahan tahun 2018, sejumlah peneliti yang didukung oleh badan antariksa Italia, Italian Space Agency, melacak keberadaan sebuah danau di bawah lapisan es (polar ice caps) kutub selatan di Mars. Kini hasil studi Heggy dan Abotalib Z. Abotalib menunjukan bahwa air tanah dengan kedalaman 750 meter di Mars, masih bisa aktif dan mengalir ke permukaan Mars; fraktur dalam beberapa kawah Mars, memungkinkan air naik ke permukaan akibat tekanan dari area kedalaman di Mars. Aliran air ke permukaan Mars itu menghasilkan fitur linier tajam dan berbeda pada dinding-dinding kawah Mars (USC, 28/3/2019).

Riset sebelumnya keberadaan air “tanah” (groundwater) di Mars selalu berbasis pantulan gelombang elektromagnetik dari uji-coba penyelidikan melalui radar Mars Express and Mars Reconnaissance Orbiter.  Uji-coba ini mengukur pantulan gelombang dari permukaan maupun bawah permukaan Mars. Namun, metode tidak menghasilkan bukti keberadaan air di Mars, selain hasil riset 2018 South Pole (University of Southern California, 28/3/2019

Kedua peneliti itu menggunakan imej-imej optik resolusi tinggi dan pemodelan untuk mempelajari dinding-dinding kawah di Mars guna menghubungkan kehadiran fraktur-fraktur dengan sumber-sumber air yang menghasilkan aliran-aliran air jarak pendek. Heggy dan Abotalib, yang telah lama mempelajari akuifer bawah tanah dan pergerakan aliran air tanah di Bumi dan  lingkungan gurun, menemukan kesamaan antara mekanisme pergerakan air tanah di Sahara dan di planet Mars (University of Southern California/Amy Blumenthal, 28/3/2019).

“Groundwater is strong evidence for the past similarity between Mars and Earth--it suggest they have a similar evolution, to some extent. Understanding how groundwater has formed on Mars, where it is today and how it is moving helps us constrain ambiguities on the evolution of climatic conditions on Mars for the last three billion years and how these conditions formed this groundwater system. It helps us to understand the similarities to our own planet and if we are going through the same climate evolution and the same path that Mars is going. Understanding Mars' evolution is crucial for understanding our own Earth's long-term evolution and groundwater is a key element in this process,” ungkap Essam Heggy Heggy (University of Southern California/Amy Blumenthal, 28/3/2019).

Riset lainnya dari Essam Heggy dan mahasiswa pascasarjana Elizabeth Palmer dari Western Michigan University pada USC Viterbi, Ming Hsieh Department of Electrical Engineering, juga menyingkap keberadaan dasar es (ground ice) pada protoplanet Vesta di sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter kira-kira 300 juta mil dari Bumi. Riset selama 3 (tiga) tahun ini didanai oleh badan antariksa NASA di AS guna mendeteksi air di permukaan bumi dan planet melalui teknik pencitraan radar dan gelombang mikro. Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Nature Communication 12 September 2017 (University of Southern California, 12/2/2017). 

Oleh: Servas Pandur