• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Peluang Bakteri Dari Kulit Katak Obat Infeksi Jamur

Beberapa dekade terakhir, epidemi (lethal disease) menyerang populasi katak dan binatang ampibi lainnya di seluruh dunia. Namun, ampibi lainnya dapat melawan epidemik ini. Hal ini mendorong kolaborasi riset tim ahli dari berbagai lembaga di Amerika Serikat dan Panama untuk meneliti bakteri dari kulit katak di Panama, yang dapat melawan jamur (antifungal) pada manusia dan binatang ampibi (Smithsonian Tropical Research Institute, 1/3/2019).

Hasil riset itu dirilis oleh jurnal Scientific Reports, edisi 2019 (Christian Martin H., Roberto Ibáñez, Louis-Félix Nothias, Cristopher A. Boya P., Laura K. Reinert, Louise A. Rollins-Smith, Pieter C. Dorrestein, Marcelino Gutiérrez, “Viscosin-like lipopeptides from frog skin bacteria inhibit Aspergillus fumigatus and Batrachochytrium dendrobatidis detected by imaging mass spectrometry and molecular networking”, Scientific Reports, 2019).

“Amphibians inhabit humid places favoring the growth of fungi, coexisting with these and other microorganisms in their environment, some of which can be pathogenic. As a result of evolution, amphibians are expected to possess chemical compounds that can inhibit the growth of pathogenic bacteria and fungi. Amphibians have glands scattered on their skin that produce different compounds. In addition, their skin is inhabited by a diverse community of bacteria that produce metabolites that inhibit the growth of fungi and other bacteria,” papar Roberto Ibáñez, ilmuwan dari Smithsonian Tropical Research Institute--satu unit Smithsonian Institution--di Panama City (Panama) (Smithsonian Tropical Research Institute, 1/3/2019).

Dari hasil-hasil riset sebelumnya, tim ilmuwan itu menyimpulkan bahwa bakteri kulit (skin bacteria) melindungi binatang ampibi dengan memproduksi senyawa melawan jamur. Kolaborasi riset itu meriset sumber-sumber antifungal (anti-jamur) itu yang dapat bermanfaat bagi manusia dan ampibi di Chiriquí highlands (Panama). Chytrid fungus penyebab wabah chytridiomycosis menyerang populasi ampibi di zona ini. Tim ahli mengumpulkan sampel-sampel dari 7 (tujuh) spesies katak untuk menemukan ‘skin bacteria’ (Science Daily, 1/3/2019).

Tim ahli itu menguji 201 strein bakteri dari sampel 7 (tujuh) spesies katak terhadap Aspergillus fumigatus, jamur penyebab aspergillosis invasif pada pasien immunocompromised. Hasilnya,  29 menunjukkan aktivitas antijamur;  strein bakteri Pseudomonas cichorii menunjukkan potensi sangat besar menghambat pertumbuhan A. fumigatus. Tim ahli itu menggunakan  spektrometri massa dan teknik jaringan molekuler serta mengamati interaksi antara bakteri ini dengan A. Fumigatus. Hasilnya, senyawa lipopeptida siklik yang mencakup massetolides dan viscosin (Science Daily, 1/3/2019).

Kemudian tim peneliti itu memisahkan viscosin dari unsur lain P. cichorii dan mengujinya invitro terhadap A. fumigatus dan jamur chytrid. Hasilnya, viscosin menunjukkan aktivitas signifikan melawan A. fumigatus dan jamur chytrid. Hasil uji-coba lab ini memberi peluang bagi riset dan pengembangan obat jamur aspergillosis pada manusia dan melawan epidemi chytridiomycosis, penyebab utama kematian binatang amfibi di seluruh dunia beberapa dekade terakhir (Science Daily, 1/3/2019).

“We are showing to the scientific community a set of possible alternative molecules to fight fungal drug resistance in humans. Although more studies are needed, our collaboration could spark interest in the conservation of amphibians as a novel source of bioactive compounds in humans. For amphibians, this is a promising study because there are only four bacterial secondary metabolites chemically described that inhibit chytrid fungi. In this study, we are introducing a new family of chemical compounds found in Panamanian frogs that could help amphibians worldwide,” Christian Martin H., penulis utama studi ilmiah ini bersama Marcelino Gutiérrez dari INDICASAT (Smithsonian Tropical Research Institute, 1/3/2019).

Studi ilmiah itu melibatkan para ahli dari Centro de Biodiversidad y Descubrimiento de Drogas; Instituto de Investigaciones Científicas y Servicios de Alta Tecnología (INDICASAT AIP); Collaborative Mass Spectrometry Innovation Center pada Skaggs School of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences dari University of California (San Diego, Amerika Serikat); Department of Pathology, Microbiology, and Immunology, Department of Pediatrics pada Vanderbilt University School of Medicine dan  Department of Biological Sciences pada Vanderbilt University, serta Smithsonian Tropical Research Institute. Riset itu didanai oleh  National Secretariat for Science and Technology of Panama (SENACYT) dan National Science Foundation (Smithsonian Tropical Research Institute, 1/3/2019). 

Oleh: Servas Pandur