• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Persaingan Teknologi Robot Masa Depan

Awal November 2018, Robotics Flagship—program robot masa depan di Eropa—merilis rencana mengembangkan robot dan AI (Artificial Intelligence) yang sehat-lestari secara sosial, ekonomi, dan lingkungan (triple bottom line) khususnya di Eropa. Proposal proyek ini telah diajukan Komisi Eropa (European Commission). Isinya, tahun 2020 rencana memilih pelaksana proyek ini dengan biaya 1 (satu) miliar euro guna meraih posisi terdepan Eropa di sektor sains dan teknologi. Program ini melibatkan sekitar 800 partisipan asal Eropa dan 370 dukungan dari seluruh dunia (Istituto Italiano di Tecnologia – IIT, 13/11/2018).

Proyek itu dipimpin oleh tim internasional yang melibatkan Cecilia Laschi dari SSSA-Scuola Superiore Sant'Anna (Italia) dan Barbara Mazzolai dari IIT--Istituto Italiano di Tecnologial (Italia). Kelompok kordinator proyek melibatkan Cecilia Laschi dari SSSA-Scuola Superiore Sant'Anna (Italia), Barbara Mazzolai dari IIT-Istituto Italiano di Tecnologia (Italia), Tamim Asfour dari KIT- Karlsruher Institut für Technologie (Jerman), Dario Floreano dari EPFL (Swiss), Stefano Stramigioli dari University of Twente (Belanda), Jean-Paul Laumond dari LAAS-CNRS (Perancis), dan Sabine Hauert dari University of Bristol (Inggris) (Istituto Italiano di Tecnologia – IIT, 13/11/2018).

***

Awal abad 21, sekitar 32% riset AI berada di zona Eropa. Apalagi zona Eropa berperan terdepan di sektor robot, otomatisasi, mekatronik, manufaktur digital, perusahan robot, start-ups, dan publikasi. Program baru robotik itu melibatkan AI, big data, matematika, dan biologi secara multidisiplin (Istituto Italiano di Tecnologia – IIT, 13/11/2018).

Rilis program robot Robotics Flagship itu berlangsung, ketika negara teknologi tinggi seperti Rusia, Amerika Serikat, Tiongkok dan Israel, misalnya, berupaya mengembangkan killer robots—peluncuran robot pelacak dan pembunuh target tanpa keterlibatan manusia (lethal autonomous weapons system/LAWS) (Noel Sharkey/ Forbes, 28/11/2018).

Misalnya, Juli 2017, Rusia merilis program seri senjata otonom berbasis jaringan kerja syaraf (neural-networks) guna melacak dan menembak target secara otonom. Tank Uran-9 dari kontraktor Pertahanan Rusia, JSC 766 UPTK, tanpa ruang awak, bersenjata dan amunisi, operasi jarak-jauh dan otonom, mampu mengidentifikasi, melacak, dan menahan target-target musuh serta menghindari rintangan. Uji-cobanya di Suriah (Noel Sharkey/ Forbes, 28/11/2018).

Annie Jacobsen (27/10/2015) merilis laporan program robot Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) di Los Alamos National Laboratory, Santa Fe, New Mexico, Amerika Serikat (AS). Menurut kepala Lab DARPA, Dr. Garret T. Kenyon—khusus program synthetic cognition guna membuat satu ‘artificial brain’—bahwa basis teknologi pengembangan AI ialah computing (mesin) dan neuro-sains (otak manusia). Program lainnya ialah Lab Dr. Susan V. Bryant dan Dr. David M. Gardiner pada University of California, Irvine (Amerika Serikat) ialah regenerasi tubuh manusia. Kedua program riset ini merupakan kontrak 4 (empat) tahun dengan DARPA dan peranjangan kontrak 5 (lima) tahun dengan Angkatan Darat AS. Dr. Bryant dan Dr. Gardiner adalah ahli biologi sel dan regenerasi sel.

Sasaran program DARPA, antara lain, program sains dan teknologi pemulihan pikiran dan memori prajurit yang menderita ‘traumatic brain injury’ selama perang. Misalnya, pada perang di Irak dan Afghanistan awal abad 21 yang melibatkan 2,5 juta prajurit AS, lebih dari 300.000 yang kembali ke AS, mengalami ‘brain injuries’. Tahun 2005, DARPA memprakarsai program Revolutionizing Prosthetics yakni program lengan prosthetic robot melalui DEKA Research and Development Corporation di New Hampshire (AS) dan kontrak DARPA-Applied Physics Laboratory, Johns Hopkins University membuat lengan robot cerdas-terkendali. Targetnya ialah rekayasa robot-robot ‘hunter-killer’ (LAWS) (Annie Jacobsen, 27/10/2015).

Matthew Rosenberg dan John Markoff menulis laporan pada The New York Times (25/10/2015) : “The Pentagon’s latest budget outlined $18 billion to be spent over three years on technologies that included those needed for autonomous weapons... Of the $18 billion the Pentagon is spending on new technologies, $3 billion has been set aside specifically for “human-machine combat teaming” over the next five years. It is a relatively small sum by Pentagon standards — its annual budget is more than $500 billion — but still a significant bet on technologies and a strategic concept that have yet to be proved in battle.”

Menurut Unmanned Systems Roadmap 2007-2013 Amerika Serikat (Desember 2007), Amerika Serikat merancang proposal anggaran sekitar 4 (empat) miliar dollar AS bidang sistem teknologi tanpa awak (unmanned system technology) tahun 2010. Hingga total anggaran naik mencapai 24 miliar dollar AS (University of Sheffield, 26/2/2008).

Februari 2008 di depan Royal United Services Institute (RUS) (Inggris), ahli robot Profesor Noel Sharkey dari Department of Computer Science pada University of Sheffield (Inggris) merilis data bahwa sekitar 4.000 robot disebarkan di Irak dan Oktober 2006 pesawat (tanpa awak) telah melakukan 400.000 ribu jam terbang. Kanada, Korea Selatan, Afrika Selatan, Singapura, Israel, dan Eropa memulai program senjata robot; Tiongkok, India, dan Rusia merintis program pesawat tempur udara (tanpa awak) (University of Sheffield, 26/2/2008).

Di sisi lain, pertengahan November 2016, satu tim peneliti dari University  at Buffalo di Amerika Serikat merilis hasil riset bahwa buru-buru melarang dan menyalahkan LAWS (killer robots) hanya merupakan solusi sesaat; karena masalah pokoknya ialah masyarakat dunia saat ini sedang memasuki kondisi dan sistem semacam ini telah dan bakal menjadi kenyataan (Science Daily, 15/11/2016).

“We have to deconstruct the term 'killer robot' into smaller cultural techniques. We need to go back and look at the history of machine learning, pattern recognition and predictive modeling, and how these things are conceived. What are the principles and ideologies of building an automated system? ... When we are defining what robots are and what they do we also define what it means to be a human in this culture and this society... We shouldn't focus on what is technologically possible. But rather the ideological, cultural and political motivations that drive these technological developments,” papar asisten profesor Tero Karppi, satu dari penulis studi ilmiah itu (University at Buffalo, 15/11/2016).

Hasil riset asisten profesor Tero Karppi dan koleganya itu dirilis oleh International Journal of Cultural Studies edisi 2016 (; T. Karppi, M. Bo hlen, Yvette Granata. “Killer Robots as cultural techniques”, International Journal of Cultural Studies, 2016). 

 

Oleh: Servas Pandur