• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Peluang Solusi Perang Dagang AS vs Tiongkok Melalui WTO

Senin (12/11/2018) di Istana Merdeka (Jakarta) Presiden RI Joko Widodo merilis data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang pertumbuhan ekonomi Negara RI. “...Kemudian juga perang dagang antara Tiongkok dengan Amerika yang sampai saat ini pun juga belum ada tanda-tanda mereda.. Tapi alhamdulillah ini patut kita syukuri bahwa kinerja ekonomi kita dalam situasi yang sangat-sangat sulit seperti ini, saya kira informasi terakhir dari BPS kita tahu pertumbuhan ekonomi kita stabil dan naik di triwulan ketiga yaitu pada angka 5,17%. Inflasi juga bisa dikendalikan pada angka 3,23%,”papar Presiden RI Joko Widodo saat menerima sejumlah bupati dari berbagai daerah Negara RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin siang (12/11/2018) (Humas Setkab RI, 12/11/2018).

Profesor Mari Elka Pangestu, Ph.D, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada Universitas Indonesia (UI) dan Menteri Perdagangan RI (21 Oktober 2004 – 19 Oktober 2011) melihat bahwa perang dagang Tiongkok vs Amerika Serikat belakangan ini memicu ketidakpastian iklim ekonomi dan perdagangan dunia serta mempengaruhi ekspor dan investasi Negara RI.

“Latar belakang perang dagang Amerika Serikat vs Tiongkok berawal dari ketidakpuasan Amerika Serikat terhadap kebijakan-kebijakan Tiongkok seperti kebijakan HAKI, produk-produk teknologi, dan peran BUMN Tiongkok yang tidak menciptakan persaingan sehat dengan Amerika Serikat dan koalisinya. Walaupun sebetulnya dipicu oleh defisit perdagangan Barat. Amerika Serikat berupaya mengejar perubahan itu melalui alat tarif terhadap barang impor dari Tiongkok. Akibatnya, terjadi ketidakpastian iklim ekonomi dan perlambatan perdagangan ekonomi dunia; Tiongkok yang mengalami perlambatan  pertumbuhan ekonomi, diperparah oleh perang dagang; produk-produk kita mengalami penurunan permintaan dari Tiongkok, mitra dagang kita yang utama; ekspor dan investasi kita juga terpengaruh oleh perang dagang kedua negara ini,” papar Profesor Mari Elka Pangestu, Ph.D, alumnus Bachelor dan Master of Economics dari Australian National University (ANU) di Australia dan  S3 (Ph.D) Perdagangan Internasional, Keuangan, dan Ekonomi Moneter dari Universitas California (Davis, AmerikaSerikat) tahun 1986, kepada Staging-Point.Com, Sabtu (6/4/2019) di Wisma SJ, Jln Margonda Raya, Depok (Jawa Barat).

Upaya Pemerintah RI menjembatani penyelesaian perang tarif Amerika Serikat vs Tiongkok melalui KTT ASEAN dan KTT APEC November 2018. “Indonesia saat itu mencoba dari pagi sampai siang untuk menjadi jembatan, menjembatani. Sana kelompok sendiri, sini kelompok sendiri, kita di tengah coba membuat jembatan agar ini bisa sambung. Tapi, sampai jam setengah tiga, gagal, enggak sambung,” kata Presiden Jokowi saat membuka Kompas 100 CEO Forum Tahun 2018, di Jakarta Convention Center, Jakarta, Selasa siang (27/11/2018).

Menurut Profesor Mari Elka Pangestu, Ph.D, perang tarif Amerika Serikat vs Tiongkok adalah isu bilateral yang dapat diselesaikan melalui forum World Trade Organization (WTO). “Konflik dagang AS vs Tiongkok adalah isu bilateral antara kedua negara yang berdampak global. Amerika Serikat paling rugi, karena 40% barang impor ke AS dari Tiongkok adalah milik perusahan AS; sehingga perusahan dan konsumen AS dirugikan. Sedangkan Tiongkok merelokasi negara tujuan ekspornya ke Negara RI, Bangladesh, Vietnam, dan negara lain. Misalnya, ban Tiongkok diekspor ke RI. Tetapi, AS tidak mau melibatkan pihak ketiga dalam penyelesaian sengketa dagang ini. Padahal, RI misalnya kalah lawan Austalia dalam pengadilan WTO perihal aturan perdagangan buah-buahan dan daging. Maka RI harus mengubah aturan dan kebijakannya,” ungkap Profesor Mari Elka Pangestu, Ph.D.

Keputusan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menerapkan tarif 10% barang impor senilai US $ 200 miliar dan 25% senilai US$ 50 miliar asal Tiongkok, memicu peralihan rute asal impor barang serupa ke AS, seperti impor furnitur beralih dari Taiwan sebesar 37,2% dan Vietnam sebesar 19,3% triwulan pertama 2019; peralihan rute impor lemari es ke AS dari Tiongkok ke Korea Selatan dan Meksiko serta ban dari Tiongkok ke Korea Selatan dan Vietnam. Sehingga impor dari Tiongkok ke AS turun 6,4% (Lisa Baertlein/Reuters, 11/4/2019).

Presiden Amerika Serikat Donald Trump berupaya mengatasi defisit dagang AS-Tiongkok sebesar 336 milar dollar AS tahun 2017 (Paul Wiseman & Darlene Superville/Associated Press, 26/2/2019). Defisit mencapai 12,4% pada Desember 2018 yang memicu rekor anjloknya perdagangan barang senilai 891,3 miliar dollar AS akhir 2018 (Lucia Mutikani/Reuters, 6/3/2019). Presiden Tiongkok Xi Jinping juga menerapkan tarif sebesar 110 miliar dollar AS asal Amerika Serikat terhadap barang impor seperti kedelai dan komoditi lainnya asal AS.Reuters, 6/3/2019).

 

Oleh: Fens Alwino (Jakarta)