• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perkuat Sektor Industri Menengah & Inovasi IPTEK

Rabu (15/1/2014) di Jakarta, berdasarkan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) dan Presiden RI Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan menetapkan No. 3 Tahun 2014 Undang-undang (UU) Tentang Perindustrian. Jumat (2/2/2018) di Jakarta, Presiden RI Joko Widodo menetapkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 2 Tahun 2018 tentang Kebijakan Industri Nasional Tahun 2015-2019.

Perpres No. 2/2018 diundangkan di Jakarta, (6/2/2018) pada Lembaran Negara RI No. 8 Tahun 2018. Dasar yuridis Perpres No. 2/2018 ialah Pasal 4 ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 : “Presiden Republik Indonesia memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar.” Perpres ini melaksanakan ketentuan Pasal 12 ayat (5) UU Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian dan Pasal 3 ayat (4) Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional Tahun 2015-2035.

Menurut Prof. Dr. Ari Kuncoro, SE, MA, dosen dan dekan pada Fakultas Ekonomi Bisnis-Universitas Indonesia (FEB-UI), Rakyat dan Pemerintah Negara RI perlu memperkuat industri menengah dan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).

“Pilihan strategis bagi Rakyat dan Pemerintah ialah (1) memperkuat industri menengah; (2) Negara harus meningkatkan inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK); karena teknologi adalah pilar dan kuda-kuda sektor industri; (3) perubahan paradigma pendidikan; dari tradisi pendidikan hafalan ke pendidikan yang mengarahkan peserta didik kepada riset,relevansi dan pemecahan masalah sosial, ekonomi, dan lingkungan; (4) pembangunan infrastruktur harus mendukung ketiga bidang strategis ini,” ungkap Prof. Dr. Ari Kuncoro, alumnus S1 ekonomi moneter dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis - Universitas Indonesia (FEB UI), MA (master of arts ) dari University of Minnesota di Amerika Serikat dan S3 (Ph.D ) Ekonomi dari Brown University di Amerika Serikat kepada Staging-Point.Com, Jumat (5/4/2019) di Ruangan President Lounge, Menara Batavia. Jl. K.H. Mas Mansyur No.Kav. 126, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Prof. Dr. Ari Kuncoro menyebut contoh penguatan infrastruktur industri 4.0. “Kita tidak perlu meniru Jepang memasuki fase industri 5.0. Karena peluang ekonomi kita saat ini lebih pada industri 4.0. Kini semua proses komunikasi sosial, ekonomi, dan politik serba online di berbagai Negara. Ini pula peluang ekonomi kita saat ini. Masyarakat kota membutuhkan koneksi cepat, aman dan nyaman yang dilayani melalui online seperti pesanan barang, jasa transportasi, dan makanan. Maka inovasi IPTEK, pendidikan keahlian, dan pembangunan infrastruktur juga perlu realistis untuk dapat melayani hak-hak dan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat saat ini,” ungkap Prof. Dr. Ari Kuncoro.

Pasal 4 Permen Perindustrian No. 6/M-IND/PER/7/2016 menyatakan bahwa industri menengah memiliki maksimal 19 karyawan dan nilai investasi minimal satu miliar rupiah atau industri minimal 20 karyawan dan investasi maksimal 15 miliar rupiah. Menurut data Kementerian Perindustrian (2016), awal 2016, 97,22% angkatan kerja Negara RI terserap pada industri kecil-menengah misalnya kosmetik, fashion, makanan, minuman, kerajinan, perhiasan, furnitur, herbal, dan produk logam. Menurut Pasal 31 ayat (5) UUD 1945 : “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan Bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Rabu pagi (4/4/2018) di Cendrawasih Hall, JCC Senayan (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis program Agenda Nasional Bangsa Indonesia Making Indonesia 4.0 pada peresmian Industrial Summit 2018. “Dan mulai hari ini, Making Indonesia 4.0  saya tetapkan sebagai salah satu Agenda Nasional Bangsa Indonesia dan Kementerian Perindustrian akan menjadi leading sector untuk  agenda ini. Dan saya minta pada kementerian dan lembaga lainnya, Pemerintah Daerah dan pelaku-pelaku usaha untuk mendukung penuh program ini sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing demi kesuksesan dan kemajuan Bangsa yang kita cintai ini,” papar Presiden RI Joko Widodo (Setkab RI, 4/4/2018).

Fokus Pemerintah RI sejak 2018 ialah industri makanan dan minuman, elektronik, otomotif, tekstil, dan kimia. “Sebagai langkah awal dalam menjalankan “Making Indonesia 4.0”, terdapat lima industri yang menjadi fokus implementasi Industri 4.0 di Indonesia, yaitu makanan dan minuman, tekstil, otomotif, elektronik dan kimia,” papar Presiden RI Joko Widodo pada peresmian Industrial Summit 2018 di Cendrawasih Hall, Jakarta Convention Center Senayan (Jakarta), Rabu pagi (4/4/2018). 

Oleh : Fens Alwino (Jakarta)