• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Keunggulan “Apartemen Vertikal” Budi-daya Kepiting

Rabu (24/4/ 2019) di Kelurahan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), lembaga riset dan kajian Center for Innovation and Governance di Jakarta dan PT Tritunggal Segara Indonesia (TSI) melaksanakan seminar setengah hari tentang budi-daya kepiting dengan menggunakan alat (teknologi) pembiakan apartemen vertikal. Seminar budi-daya kepiting itu diikuti oleh 50 nelayan asal Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

“Sistem budi-daya kepiting dengan alat pembiakan bibit kepiting bukan melalui media alamiah, tetapi menggunakan apartemen vertikal yang sudah diterapkan di China, Malaysia, Singapura, dan Vietnam. Bahkan paling banyak diterapkan di China. Idealnya, pengembang-biakan 1 ekor kepiting di 1 kotak apartemen atau kontainer dengan pengawasan khusus salinitas dan faktor-faktor lainnya; airnya harus jernih; pada tiap tahap pengelupasan badannya (molting), tubuh kepiting akan membesar, yang siap dijual atau dikonsumsi,” ungkap Hendra Sugandhi, Managing Director PT TSI pada seminar itu.

PT TSI bekerja sama dengan FPIK Institut Pertanian Bogor (IPB) mengembangkan sistem budi-daya kepiting dengan alat pembiakan apartemen vertikal ini karena memiliki banyak keunggulan dan manfaat. Yakni (1) terhindar dari risiko bencana alam; (2) menghemat luasan lapak atau areal budi-daya; “Untuk seribu ekor, kita butuh kira-kira luasan besar pembiakannya 11x6 m,” ungkap Hendra Sugandhi; (3) Bibit kepiting terlindung dari predator; (4) Pembiakan lebih cepat bila kepiting satu sama lain terpisah karena kepiting saling memangsa (kanibal); (5) Siklus pertumbuhan bibit-bibit kepiting tetap terkontrol; (6) Pengelolaan air jernih terjaga; (7) kepiting terhindari dari serangan penyakit; (8) asal-usul kepiting tercatat; dan (9) Insang kepiting bersih dengan sirkulasi air jernih sehingga komoditasnya berkualitas.

Budi-daya rajungan (blue crab) dengan alat pembiakan apartemen vertikal, menurut Hendra Sugandhi, cocok dikembangkan di Kepulauan Seribu. “Mungkin di Kepulauan Seribu ini lebih cocok budi-daya rajungan atau blue crab. Karena kian lama, kian sulit diandalkan hasil tangkapan;  jumlah kepiting dari pembiakan alamiah berisiko habis atau sulit memenuhi lonjakan kebutuhan masyarakat. Dengan sistem budidaya apartemen vertikal, jumlah produksi dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar,” ujar Hendra Sugandhi.

Vegetasi rajungan (blue crab) banyak hidup di  Kepulauan Seribu. Mereka biasanya hidup lebih ke tengah kawasan perairan. Di alam liar, seekor kepiting dapat bertelur 1-4 juta sel telur. Dari jumlah itu, kepiting tumbuh dewasa, mungkin hanya kurang dari satu persen karena dimakan predator, faktor-faktor alam lain, dan kepiting saling-memangsa di alam liar. Bahkan sekalipun masih berada pada tahap larva, kepiting sudah menjadi makhluk kanibal.

Hendra Sugandhi (PT Tritunggal Segara Indonesia) dan ahli dari IPB telah membangun 10 tingkat kontainer sistem apartemen vertikal budi daya kepiting di Ali Sadikin Center, Kawasan Jaya Ancol, Jakarta. “Intinya mengelola kualitas air guna menjaga fisiologis pembiakan kepiting.  Makanannya kerang dan ikan rucah. Bibit kepiting harus sehat segar, dan kakinya lengkap, serta matanya harus baik,” ungkap Hendra Sugandhi.

Hendra Sugandhi merinci tahap pertumbuhan kepiting dalam sistem apartemen vertikal. “Pada tiap molting atau pergantian cangkang, ukuran tubuh kepiting naik sebesar 30 %; kepiting meninggalkan cangkang dan insang awalnya; beberapa bagian tubuhnya agak retak; tubuh kepiting menjadi lembek (kepiting soka); gizinya paling baik disantap, karena kulitnya dapat dimakan, dengan kadar kalsium tinggi. Ukuran kepiting yang paling cepat molting adalah 70-80 gram. Molting dipengaruhi oleh cahaya, salinitas, dan ketersediaan makananSetelah molting, tubuh kepiting berganti total 100%, mulai dari capit, kaki renang, hingga seluruh tubuhnya,” papar Hendra Sugandhi.  

Menurut Profesor Dr. Martani Huseini dari Center for Innovation and Governance, sistem budi-daya kepiting dengan apartemen vertikal ini cocok diterapkan di Kepulauan Seribu dan zona-zona pesisir nelayan di seluruh Negara RI. “Hasil tangkapan kepiting dari nelayan dari waktu ke waktu berkurang di Kepulauan Seribu. Harga per kg hanya Rp 70 ribuan saat ini. Dengan sistem budi daya apartemen vertikal, produksi kepiting akan naik dan stabil guna melayani kebutuhan di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Denpasar, dan Palembang. Budi daya ini juga dapat melayani kebutuhan Tiongkok dan menambah devisa bagi Negara RI; maka Pemda DKI, misalnya, perlu membiayai sistem budi daya ini dari dana APBD atau sumber lain,” ungkap Prof. Dr. Martani Huseini kepada Staging-Point.Com, Rabu (24/4/2019) di Kelurahan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta).

Oleh: Eko Budi Raharto (Jakarta)