• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perpindahan Ibukota RI Keluar Pulau Jawa

“Jakarta Is Sinking So Fast, It Could End Up Underwater” atau Jakarta berisiko berada di bawah permukaan laut. Begitu tulis Michael Kimmelman di The New York Times edisi 21 Desember 2017. Pemicunya ialah “a tsunami of human-made troubles" atau ulah-manusia dan risiko perubahan iklim.

Beverley Mitchell (Inhabitat, 10/16/2014) menulis sebelumnya : “Can the $40 Billion Great Garuda Project Stop Jakarta From Sinking Into the Sea?” Mitchell membandingkan merosotnya kota Venecia di Italia sekitar 0,08 inci per tahun; kota Jakarta merosot kira-kira 2,9 – 6,7 inci per tahun; sekitar 40% kota Jakarta kini berada di bawah permukaan laut.

Risiko pemanasan global kini telanjang di depan mata. Kehilangan massa es Antartika naik 6 (enam) kali per tahun dan pencairan es itu memicu kenaikan level permukaan laut di seluruh dunia berkisar lebih dari setengah inci per tahun selama 1979-2017. Begitu hasil riset Eric Rignot, Ph.D (peneliti NASA), Jérémie Mouginot (peneliti sains Bumi pada University of California-Irvine/UCI), Bernd Scheuchl (ilmuwan proyek sains sistem bumi pada UCI), Associate Professor Michiel van den Broeke (UCI), Melchior J. van Wessem dan Mathieu Morlighem (Utrecht University) yang dirilis oleh jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi Januari 2019 (Eric Rignot et al, “Four decades of Antarctic Ice Sheet mass balance from 1979–2017”,  PNAS, January 14, 2019).

Sinyal risiko berikutnya. Perubahan faktor pembentuk iklim berdampak jauh terhadap kehidupan di bumi. Misalnya, es Kutub Utara mencair yang memenuhi Samudera Atlantik, mengalir ke daerah Khatulistiwa, kemudian ke Kutub Selatan; air danau Chat masih ada tahun 1962, sejak 2001 airnya kering; air danau Tiberias kian susut; selat Bering di Siberia dan Alaska kian melebar; dampak lainnya kelangkaan air bersih dan pangan (Dr. Samadi, Msi, 15/10/2018).

***

Jumat (7/7/2017) pada acara Leaders’ Retreat Sesi II, Konferensi Tingkat Tinggi G20 di Hamburg (Jerman), Presiden RI Joko Widodo merilis perdagangan global, pembangunan berkelanjutan, perubahan iklim dan ketahanan energi. “Saya telah menandatangani Peraturan Presiden dan membentuk Tim Koordinasi Nasional bagi implementasi SDGs. Indonesia juga melakukan pengurangan sampah dengan reduce-reuse-recycle sebesar 30% pada tahun 2025 dan menetapkan target mengurangi sampah plastik laut (marine plastic debris) sebesar 70% hingga tahun 2025,” papar Presiden RI Joko Widodo (PresidenRI.go.id, 8 Juli 2017).

Bagi kota Jakarta, penerapan Kyoto Protocol sejak 1997-2001yang ditanda-tangan oleh 187 negara atau Paris Agreement dalam kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) sejak 2016, bukan solusi ideal saat ini dan ke depan. Alasannya, antara lain, menurut data Pemerintah RI saat ini, bahwa sekitar Rp 100 triliun kerugian ekonomi akibat kemacetan tiap tahun di Jakarta. Maka Pemerintah RI berencana memindahkan ibukota Negara RI ke zona seluas 300 ribu ha di luar Jawa; sekitar 60% dari 260 juta penduduk RI terkonsentrasi di Jawa (Agustinus Beo Da Costa / Reuters, 29/4/2019).

Proposal investasi sekitar Rp 571 trilun sektor infrastruktur 10 tahun ke depan di DKI Jakarta, yang diajukan oleh Gubernur DKI Anies Baswedan kepada Presiden RI Joko Widodo di Jakarta Maret 2019 (Maikel Jefriando/Gayatri Suroyo/Kim Coghill, Reuters, 20/3/2019), belum teruji dapat mengatasi risiko Jakarta kian merosot ke bawah permukaan laut.

Selama 30 tahun terakhir, tulis John Englander di Washington Post, edisi 3 Mei 2019, kota Jakarta telah merosot ke bawah permukaan laut sekitar 10 kaki. Menurut John Englander, perpindahan ibukota Negara RI Jakarta ke luar Pulau Jawa ibarat ‘a profound wake-up call’ bagi ratusan kota lainnya di dunia, temasuk ibukota Amerika Serikat, Washington D.C.

Alasannya, tulis John Englander, “But even a one-foot rise in sea level can dramatically increase coastal flooding. Hundreds of millions of people and trillions of dollars of assets are at risk. Indonesia’s decision to be proactive is something all coastal cities should do, what I call “intelligent adaptation.” Instead of spending hundreds of millions of dollars on futile efforts to protect Jakarta from the dozen rivers that run through it — extending fragile walls never engineered to cope with the present threat — it will now start investing in a new capital city that has a sustainable future!” 

Oleh: Komarudin Watubun