• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Mega-KKN & Perang Dagang AS vs Tiongkok

“Jurnalisme atau pers investigasi!” Begitu resep Peter Schweizer, Presiden Government Accountability Institute dan peneliti asal Tallahassee, Florida (Amerika Serikat/AS) melawan paktek korupsi di Amerika Serikat (AS). Riset dan investigasinya menghasilkan karya buku seperti Throw Them All Out: How Politicians and Their Friends Get Rich Off Insider Stock Tips, Land Deals, and Cronyism That Would Send the Rest of Us to Prison (2011) tentang insider-trading anggota-anggota Kongres AS yang berakhir dengan pengesahan Stock Act di AS.

Dalam buku Extortion: How Politicians Extract Your Money, Buy Votes, and Line Their Own Pockets (2013), Peter Schweizer mengupas hasil investigasi tentang cara politisi-politisi di AS menggunakan taktik-taktik mafia guna memperkaya diri. Kemudian dalam buku Clinton Cash: The Untold Story of How and Why Foreign Governments and Businesses Helped Make Bill and Hillary Rich (2015, 2016), Peter Schweizer menyingkap mesin uang skala besar jaringan Clinton yang memicu penyelidikan oleh biro penyelidik federal FBI (Federal Bureau Investigation) terhadap Yayasan Clinton di AS.

Secret Empires: How the American Political Class Hides Corruption and Enriches Family and Friends”.  Begitu judul buku terbaru setebal 336 halaman karya Peter Schweizer (2018) yang mengupas generasi baru mega-korupsi di AS. Yakni menyulap puluhan ribu dollar menjadi kesepakatan ekuitas senilai multi-miliar-dollar AS di zona-zona ‘gelap’ berbagai negara. Ini pola baru mata-rantai KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) di AS. Jaringan kekuatan asing berkolusi dengan lingkaran elit ekonomi-politik AS yang merugikan kepentingan nasional AS (Fred J. Eckert, 9/4/2019).

Misalnya, Wakil Presiden AS, Joe Biden, dan, Menlu AS, John Kerry, melakukan negosiasi diplomatik strategis dan sensitif dengan Pemerintah Tiongkok tentang Laut Cina Selatan, alih-teknologi, perdagangan, hak cipta, dan lain-lain. Putra Biden dan putra-tiri Kerry melakukan konsensi bisnis—termasuk beberapa kesepakatan ekuitas miliaran dollar AS. Buku Secret Empires (2018) menyingkap elit Partai Republik dan Partai Demokrat AS merekayasa korupsi baru—KKN berbasis kesepakatan yang sangat menguntungkan diri  atau merugikan Negara, melalui anak-anak dan anggota keluarga para elit—yang diduga melibatkan antara lain George Soros, Barack Obama (US President), Tom Steyer, Secretary of Commerce Penny Pritzker, Jared Kushner, Menlu AS John Kerry, dan lain-lain pada era pra-Presiden Donald Trump di AS.

Buku Secret Empires (2018) secara khusus mengupas dugaan mega-KKN dari Joe Biden, Hunter Biden, Mitch McConnell, dan Elaine Chao melalui berbagai kesepakatan bisnis dengan Pemerintah Tiongkok. Misalnya, perusahaan milik putra Biden mencapai kesepakatan 1,5 miliar dollar AS dengan Bank of China 10 hari setelah Wakil Presiden AS, Joe Biden, dan putranya terbang ke Tiongkok dengan Air Force Two tahun 2013.

Melalui investasi 1,5 miliar itu, menurut Peter Schweizer (2018), Pemerintah Tiongkok mengambil-alih perusahan teknologi militer (high-precision) AS, Henniges. Transaksi ini seharusnya mendapat persetujuan dari Pemerintah Federal AS karena berdampak terhadap keamanan nasional AS. Schweizer (2018) menulis bahwa perusahan milik putra Biden menerima “a $1 billion private equity deal from the Chinese government” dan menduga bahwa Pemerintahan Presiden Xi Jin Ping asal Tiongkok "to soften Trump’s policies on China by going through his kids. And they plan to do that by offering them lucrative deals.” (Adam Rubenstein/The Weekly Standard, 2019).

Presiden AS, Donald Trump, berharap bahwa Wapres AS, Joe Biden, diselidik atas dugaan Hunter Biden meraih konsesi bisnis menguntungkan dengan BUMN Bank of China. “100 percent. It’s a disgrace and then (Joe Biden) says China’s not a competitor of ours. China is a massive competitor of ours. They want to take over the world,” ujar Presiden AS Donald Trump, Mei 2019 (David Lawder, Nandita Bose/Reuters, 20/5/2019).

***

Perang dagang AS vs Tiongkok tampaknya tidak segera berakhir dalam waktu dekat. Pada 13 Mei 2019, Pemerintah Tiongkok menaikan tarif 5.140 mata-dagangan impor asal AS senilai 60 miliar dollar AS sebagai reaksi terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump menaikan tarif impor senilai 200 miliar AS asal Tiongkok awal Mei 2019. Pemerintah Tiongkok akan menambah tarif 25% terhadap 2.493 produk impor asal AS, termasuk gas alam cair, minyak kedelai, minyak kacang tanah, petrokimia, mineral beku dan kosmetik (Reuters, 14/5/2019; David Lawder/Simon Webb & Susan Thomas/Reuters, 14/5/2019). 

Senin (20/5/2019), dari New York, Amerika Serikat (AS), Alphabet Inc Google merilis laporan tentang rencana penangguhan bisnisnya dengan Huawei, perusahan teknologi smartphone asal Tiongkok, kecuali aplikasi dengan lisensi terbuka untuk umum. Pengguna Huawei dengan aplikasi Google saat ini masih dapat menggunakan aplikasi Google seperti Google Play dan Google Play Protect, kecuali transfer perangkat keras, perangkat lunak dan layanan teknis baru. Huawei Android berisiko kehilangan akses ke layanan populer, seperti Google Play Store, Gmail dan YouTube (Angela Moon/Reuters, 20/5/2019).

Kamis (16/5/2019) dari Washington, AS, Pemerintahan Presiden AS Donald Trump memasukan Huawei Technologies Co Ltd ke dalam daftar hitam (blacklist) perdagangan. Sehingga Huawei bakal menghadapi restriksi-restriksi bisnis dengan mitra dagang AS. Produsen chip seperti Intel Corp, Qualcomm Inc, Xilinx Inc dan Broadcom Inc bakal tidak memasok piranti lunak dan komponen ke Huawei (Angela Moon, Georgina Prodhan, David Shepardson, Karen Freifeld/Reuters,  20/5/2019).

Perang dagang AS vs Tiongkok tidak hanya sekedar isu ekonomi. Tiongkok adalah pasar ekspor ke-4 terbesar produk pertanian asal AS. Tahun 2018, Tiongkok membeli 9,3 miliar dollar AS komoditi pertanian AS. Perihal defisit perdagangan AS dengan Tiongkok, Presiden AS Trump menyatakan : “We have lost 500 Billion Dollars a year, for many years, on Crazy Trade with China. No More!” Defisit perdagangan AS-Tiongkok tahun 2018 mencapai 378,6 miliar dollar AS, bukan 500 miliar dollar AS (Hannah Fingerhut/ Associated Press, 10/5/2019).

Menurut Pemerintah AS, keunggulan daya saing Tiongkok terhadap AS lebih banyak akibat praktek dagang tidak fair. Akibatnya, sekitar 57 ribu pabrik AS menderita rugi dan 25 juta penganggur (Aljazeera, 12/3/2017). Dari surplus perdagangan dengan AS, Tiongkok mendapat sumber dana sangat besar untuk membeli perusahan-perusahan AS, bahkan pada sektor-sektor teknologi sangat sensitif bagi pertahanan dan keamanan AS (Ana Swanson / The New York Times, 12/7/2018). Begitu hasil riset dan kajian Profesor emeritus Peter Kent Navarro (68) dan Greg Autry dalam bukunya Death by China (2011). Presiden AS Trump dan jajarannya tampaknya melihat risiko hubungan ekonomi AS-Tiongkok seperti ini. 

Oleh: Komarudin Watubun