• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Lacak Organisme Hasil Rekayasa Gen (Sintetik) Di Alam Terbuka

Eric Young, asisten profesor rekayasa-kimia (chemical engineering) pada  Worcester Polytechnic Institute (WPI) dan tim riset multi-lembaga lainnya di Amerika Serikat, mengembangkan satu sarana bio-sekuriti (biosecurity tool) yang dapat melacak mikro-organisme rekayasa berbasis keunikan penanda DNA / deoxyribonucleic acid (DNA signatures). Dengan dukungan ilmuwan dari Raytheon dan perguruan tinggi lainnya di Amerika Serikat, ahli kimia Eric Young mengembangkan metode berbasis penanda DNA guna melacak dan mengidentifikasi organisme-rekayasa secara genetik yang telah dirilis secara kebetulan atau rekayasa di luar lab atau alam terbuka (Worcester Polytechnic Institute, 21/5/2019).

“We realize the power of engineering and bioengineering. We are excited about the promise of synthetic biology, but we also have an ethical responsibility to think about the potentially negative uses of the technologies we develop,” ungkap Eric Young, ahli biologi sintetik, rekayasa gen bakteri, ragi dan jamur (Worcester Polytechnic Institute, 21/5/2019).

Baru-baru ini, ilmuwan peneliti dan Pemerintah Amerika (AS) membutuhkan sarana atau metode pelacak organisme hasil rekayasa—sengaja atau tidak sengaja—di luar lab atau alam terbuka. Fokus risetnya ialah metode, sarana atau cara membedakan organisme hasil rekayasa genetik atau sintetik dengan jutaan mikro-organisme secara alamiah di alam terbuka atau alam lingkungan? Ini fokus riset dan pengembangan metode biosekuriti dari Eric Young dan koleganya (Science Daily, 21/5/2019).

“My lab is developing engineered organisms to solve problems, and we use safety practices beyond what we are required to use. Hopefully, this project will lead us to a low-cost tool that we can use to make sure everyone is working to prevent the release of organisms into the environment, from universities to manufacturing plants to DIY bio enthusiasts in their garages,” papar Eric Young (Worcester Polytechnic Institute, 21/5/2019).

Selama beberapa dekade, Pemerintah AS mensponsori penelitian dan pengembangan organisme hasil rekayasa dan cara-cara merancang DNA;  Pemerintah AS dan masyarakat biologi-sintetik telah bekerja sama mengembangkan praktik-praktik keselamatan dan etika untuk memastikan organisme hasil rekayasa, aman atau tanpa risiko. Misalnya, Pemerintah AS mensponsori pengembangan “kill switches” yang memungkinkan organisme hasil rekayasa dapat bertahan hidup di luar lab (Science Daily, 21/5/2019).

Riset Eric Young dan koleganya merupakan tim riset multi-lembaga guna merespons kebutuhan Pemerintah AS dan masyarakat biologi-sintetik tersebut di atas. Misalnya, proyeks riset Eric Young dan timnya didanai oleh program hibah 18 bulan dari Finding Engineering Linked Indicators (FELIX) melalui through Intelligence Advanced Research Projects Activity (IARPA), organisasi dalam Office of the Director of National Intelligence (ODNI) di AS.

ODNI mendanai riset-iset guna merespons kebutuhan masyarakat intelijen AS. Hibah itu telah diperpanjang ke fase ke-2 untuk masa tambahan 24 bulan. Raytheon—kontraktor bidang pertahanan di Massachusetts, Amerika Serikat—kontraktor utama proyek ini. Eric Young—satu dari 5 sub-kontraktor proyek-- menerima hibah sebesar 377.746 dollar AS dalam proyek ini. Subkontraktor lainnya ialah ilmuwan peneliti dari Johns Hopkins University, Princeton University, University of California di San Francisco, dan Mission Bio, perusahan bio-teknologi di San Fransisco, Amerika Serikat (Science Daily, 21/5/2019).

“We are supplying the 'expert' information the detection device will look for. We are taking into account the genetic engineering of the past 50 years and reducing all of that knowledge and information down to a set of essential signatures for bioengineered organisms that we would most likely need to find. It's up to our sponsor and the team to decide which organisms are important, and we help decide what signatures we have to look at. It's very exciting work,” ungkap Eric Young (Worcester Polytechnic Institute, 21/5/2019).

Para ilmuwan menciptakan mikroorganisme hasil rekayasa dengan memasukkan gen-gen baru ke dalam genomnya untuk menghasilkan obat, biofuel, atau produk makanan. Satu bakteri yang mengandung gen manusia untuk memproduksi insulin, atau ragi yang mengandung banyak gen dari beberapa organisme untuk membuat artemisinin obat anti-malaria adalah contohnya. Kunci pembedanya akan mengidentifikasi penanda-penanda genetik setiap organisme (Science Daily, 21/5/2019).

Berdasarkan cara produksinya, sebagian besar organisme hasil rekayasa genetik, memiliki satu atau lebih bagian pendek DNA yang unik bagi genomenya dan membedakannya dengan saudara DNA-nya yang bukan hasil rekayasa. Sehinga penanda DNA ini dapat digunakan untuk melacak dan mengidentifikasi organisme hasil rekayasa dalam populasi organisme yang terbentuk secara alamiah. Fokus riset Eric Young dan koleganya dalam proyek itu ialah menghasilkan contoh-contoh organisme hasil bio-rekayasa yang mengandung penanda-penanda unik ini. Kolega lainnya membuat algoritma machine-learning yang dapat menemukan pananda baru—yang belum teridentifikasi oleh para ahli selama ini. Target proyek ini ialah cepis deteksi (alat pelacak) penanda DNA organisme hasil rekayasa genetik yang siap-pakai pada akhir proyek (Science Daily, 21/5/2019).

“It's a whole lot more complicated when you don't know what organisms you might need to look for. We have to think about what is most likely to be out there and what would somebody with limited resources create. We need to create tools that can detect a wide range of engineered organisms. And they need to be flexible enough that they could detect a specific set of signatures but then detect newly added signatures as they are found. We are helping develop a technology to do that,” papar Eric Young (Worcester Polytechnic Institute, 21/5/2019). 

Oleh: Servas Pandur