• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Misteri & Penyusutan Es-Salju Gunung Kilimanjaro (Tanzania)

Selama 100 tahun terakhir, Gunung Kilimanjaro—gunung tertinggi di benua Afrika—di negara Tanzania, seakan menyimpan banyak misteri atau teka-teki alam bagi para ilmuwan dari berbagai negara. Hasil riset Andreas Hemp (2006) menemukan bahwa (1) hutan Kilimanjaro tanpa zona bambu; tidak seperti pegunungan Afrika Timur lainnya yang kaya hutan bambu; (2) hanya ada beberapa tanaman langka—di antaranya tinggi sekitar 40 m—di hutan Kilimanjaro. Hasil riset itu dirilis oleh African Journal of Ecology edisi September 2006.

“There are elephants on the dry side of the mountain...but the valleys are too steep and deep for elephants to traverse to the wet side where the bamboo could grow,” ungkap Andreas Hemp (Blackwell Publishing Ltd, 11/9/2006). “Kilimanjaro has long been excluded from the tropical rainforest biodiversity hotspot of Tanzania, but these exciting finds change the whole way we think about forest diversity of eastern Africa,” papar Jon Lovett, ahli keragaman hayati Afrika dari University of York, Amerika Serikat.

Kini awal abad 21, hutan Kilimanjaro berubah karena kebakaran hutan dan logging. “The cloud forests are draped in moss and are an important water source as they catch moisture from the mist which shrouds them...when they are burn the hydrology of the whole mountain is affected,” papar Andreas Hemp (Blackwell Publishing Ltd, 11/9/2006).

Sekitar 85% es penutup gunung Kilimanjaro tahun 1912, telah sirna tahun 2007; 26% es di sana tahun 2000, kini sedang raib. Sinyal radioaktif penanda uji atom 1951-52 "Ivy" yang terdeteksi pada tahun 2000 1,6 meter (5,25 kaki) di bawah permukaan es Kilimanjaro kini hilang, dengan perkiraan 2,5 meter (8,2 kaki) hilang dari  ladang es Kilimanjaro tahun 2009.

Begitu hasil riset paleoklimatolog Profesor Lonnie G. Thompson, ahli ilmu bumi pada Ohio State University, dan Ellen Mosley-Thompson, Henry Brecher dan Bryan Mark dari Byrd Polar Research Center dan Douglas Hardy dari University of Massachusetts di Amerika Serikat, yang yang dirilis oleh jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences edisi 2009. Proyek riset itu didukung oleh The Paleoclimate Program of the National Science Foundation dan dukungan tambahan dari The Climate, Water and Carbon (CWC) Program pada Ohio State University.

“This is the first time researchers have calculated the volume of ice lost from the mountain's ice fields. If you look at the percentage of volume lost since 2000 versus the percentage of area lost as the ice fields shrink, the numbers are very close. It has lost half of its thickness. In the future, there will be a year when Furtwängler is present and by the next year, it will have disappeared. The whole thing will be gone!” ungkap Profesor Lonnie G. Thompson, peneliti ahli pada Byrd Polar Research Center, Ohio State University (Ohio State University, 2/11/2009).

Tahun 2000, Profesor Lonie G. Thompson dan koleganya mengebor dan meneliti enam inti pada ladang es Kilimanjaro dan merilis hasil riset ini pada jurnal Science edisi 2002. Hasil riset ini dapat dibandingkan dengan hasil riset tim Thompson tahun 2009. Kesimpulannya, antara lain, perubahan-perubahan (inti) es di Gunung Kilimanjaro, mencerminkan perubahan di Gunung Kenya dan Pegunungan Rwenzori di Afrika, serta gletser tropis di Gunung Andes, Amerika Selatan dan di Pegunungan Himalaya (Science Daily, 3/11/2009).

“The fact that so many glaciers throughout the tropics and subtropics are showing similar responses suggests an underlying common cause. The increase of Earth's near surface temperatures, coupled with even greater increases in the mid- to upper-tropical troposphere, as documented in recent decades, would at least partially explain the observed widespread similarity in glacier behavior,” ungkap Thompson (Ohio State University, 2/11/2009).

Tahun 2007,  klimatolog Philip Mote, ilmuwan peneliti asal University of Washington (Amerika Serikat), dan George Kaser, glasiolog pada the University of Innsbruck di Austria, merilis hasil riset dan kajiannya tentang raib atau penyusutan lahan es di Gunung Kilimanjaro pada jurnal American Scientist. Kesimpulannya, penyusutan ladang es di Gunung Kilimanjaro tidak berhubungan atau tidak dipengaruhi oleh pemanasan global akhir-akhir ini.

“There is no evidence to support that assertion. It's not that it is impossible, but rather the decline is most likely associated with processes dominated by sublimation and with an energy balance dominated by solar radiation, rather than by a warmer troposphere,” ungkap Mote (University of Washington, 11/6/2007).

Gunung berapi Kibo adalah titik tertinggi sekitar 19.340 kaki di atas permukaan laut di Kilimanjaro. Hasil Survei tahun 1889 menunjukkan bahwa es Kibo menempati sekitar 12,5 mil persegi. Jelang 1912, lebih dari dua dekade sebelum Ernest Hemingway menulis cerita pendek karya besarnya, "Snows of Kilimanjaro," area es itu menyusut sekitar 7,5 mil persegi. Tahun 1953, area es di Kilimanjaro hanya seluas 4,3 mil persegi dan tahun 2003, luas area es Kilimanjaro lebih sedikit dari 1,5 mil persegi. “It is certainly possible that the icecap has come and gone many times over hundreds of thousands of years. But for temperate glaciers there is ample evidence that they are shrinking, in part because of warming from greenhouse gases,” papar Mote (University of Washington, 11/6/2007).

Sedangkan dalam edisi jurnal Science tahun 2002, Profesor Lonnie G. Thompson dan koleganya memperkirakan bahwa ladang es penutup Gunung Kilimanjaro bakal raib tahun 2015 – 2020 akibat pemanasan global. Tim ahli itu menghitung raibnya lapisan es dengan membandingkan hasil foto udara tahun 2000 dengan foto-foto tahun 1962. Hasilnya, puncak-ladang es telah menyusut setidaknya 17 meter (hampir 56 kaki) sejak 1962 - penyusutan rata-rata sekitar setengah meter tingginya tiap tahun (Ohio State University, 13/2/2006).

Tahun 2006, Thompson dan koleganya melakukan penelitian lapangan Gunung Kilimanjaro. Tim peneliti melibatkan Bryan Mark, asisten profesor geografi; Jeffrey McKenzie, mahasiswa post-doktoral; Sangsuk Lee, peneliti pada Byrd Polar Research Center, Ohio State University (OSU); Henry Brecher, peneliti Byrd Polar Research Center (OSU) mempersiapkan serial foto Gunung Kilimanjaro. Hasilnya, perkiraan Thompson et al (2002) tentang raibnya es di Gunung Kilimanjaro, terbukti dan tepat (Ohio State University, 13/2/2006). 

Oleh: Servas Pandur