• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Tata-Guna Lahan Ubah Biodiversitas & Fungsi Ekosistem Gunung Kilimanjaro

Sebanyak 50 ahli peneliti dari 30 universitas asal Jerman, Tanzania, Swiss, Denmark, dan Afrika Selatan berupaya mempelajari dan mengkaji keragaman hayati dan fungsi ekosistem di habitat alami dan lingkungan habitat akibat perubahan penggunaan lahan di semua zona ketinggian lereng selatan Gunung Kilimanjaro—gunung tertinggi di Afrika Afrika—di Tanzania. Hasilnya, penggunaan lahan (land use) di daerah pegunungan tropis itu telah mengubah keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis. Kadar perubahan tersebut sangat dipengaruhi oleh iklim (University of Würzburg, 27/3/2019).

Dua alasan tim ahli itu meneliti keragaman hayati dan fungsi ekosistem di habitat Gunung Kilimanjaro, Tanzania; yaitu pertama, pada lingkungan dunia yang terancam perubahan iklim saat ini, pegunungan tropis adalah pusat keanekaragaman hayati dan merupakan tempat perlindungan vital bagi tanaman dan hewan; organisme-organisme ini berfungsi vital seperti penyimpanan karbon, retensi nutrisi dalam tanah, pasokan air, penyerbukan, dan pengendalian hama; di sisi lain, daerah-daerah pegunungan tropis semakin terancam oleh perluasan pertanian dan eksploitasi sumber alam secara berlebihan (Science Daily, 27/3/2019).

Kedua, tahun 2019 menandai peringatan 250 tahun Alexander von Humboldt, naturalis pertama yang mendokumentasikan distribusi dan adaptasi spesies di pegunungan tropis abad ke-19 Masehi. Humboldt juga mengamati bahwa pegunungan tinggi mewakili mikrokosmos dari zona iklim bumi. Saat ini, temuan ilmiahnya lebih relevan daripada sebelumnya (Science Daily, 27/3/2019).

“Until now it has been unclear how human land use affects the biodiversity and ecological functionality of tropical mountain ecosystems,” ungkap Dr. Marcell Karl Peters dari Chair of Animal Ecology and Tropical Biology pada Julius-Maximilians-Universität Würzburg (JMU) di Bavaria, Jerman (University of Würzburg, 27/3/2019).

Selama 6 (enam) tahun tim ahli peneliti itu mengumpulkan data dan hasil risetnya dirilis oleh jurnal Nature edisi Maret 2019 (Marcell K. Peters, Andreas Hemp, Tim Appelhans, Joscha N. Becker, Christina Behler, Alice Classen, Florian Detsch, Andreas Ensslin, Stefan W. Ferger, Sara B. Frederiksen, Friederike Gebert, Friederike Gerschlauer, Adrian Gütlein, Maria Helbig-Bonitz, Claudia Hemp, William J. Kindeketa, Anna Kühnel, Antonia V. Mayr, Ephraim Mwangomo, Christine Ngereza, Henry K. Njovu, Insa Otte, Holger Pabst, Marion Renner, Juliane Röder, Gemma Rutten, David Schellenberger Costa, Natalia Sierra-Cornejo, Maximilian G. R. Vollstädt, Hamadi I. Dulle, Connal D. Eardley, Kim M. Howell, Alexander Keller, Ralph S. Peters, Axel Ssymank, Victor Kakengi, Jie Zhang, Christina Bogner, Katrin Böhning-Gaese, Roland Brandl, Dietrich Hertel, Bernd Huwe, Ralf Kiese, Michael Kleyer, Yakov Kuzyakov, Thomas Nauss, Matthias Schleuning, Marco Tschapka, Markus Fischer, Ingolf Steffan-Dewenter, “Climate–land-use interactions shape tropical mountain biodiversity and ecosystem functions”, Nature, 2019).

Tim peneliti itu mempelajari kekayaan spesies tanaman, hewan dan mikroorganisme serta fungsi ekosistem seperti kandungan nutrisi tanah, penyerbukan dan dekomposisi daun pada ketinggian antara 850 dan 4.550 meter di habitat Gunung Kilimanjaro. Dengan ketinggian 5.895 meter, Gunung Kilimanjaro merupakan gunung tertinggi di benua Afrika, yang sangat kaya spesies tanaman dan hewan. Kondisi-kondisi iklim berubah sesuai ketinggian Gunung Kilimanjaro, seperti halnya spesies tumbuhan dan hewan yang hidup di habitatnya (Science Daily, 27/3/2019).

“The present study is unique in terms of the number of recorded species groups and ecological functions, the number of studied sites and the elevation gradient from tropical savanna to Afroalpine ecosystems,” papar Profesor Dr. Ingolf Steffan-Dewenter, penggagas studi ilmiah ini (University of Würzburg, 27/3/2019).

Hasil riset tim ahli itu menunjukkan bahwa penggunaan lahan menyebabkan kehilangan secara signifikan keanekaragaman hayati dan mengubah fungsi ekosistem pegunungan tropis Kilimanjaro di Tanzania. Intensitas perubahan ini bervariasi di berbagai zona ketinggian Gunung Kilimanjaro. Meskipun komunitas-komunitas biologis masih mengalami perubahan besar, keseluruhan keanekaragaman hayati dan fungsi ekologis tidak begitu terpengaruh, jika dibandingkan dengan komunitas-komunitas biologis di daerah sabana kaki bukit Kilimanjaro (Science Daily, 27/3/2019).

“Our study shows that the impact of land use on the biodiversity and functionality of ecosystems is strongly correlated with the climatic context. In the savanna zone at the foot of the mountain, up to 50 percent of species are lost even when land use is moderate and the functionality of ecosystems exhibits significant changes. In contrast, the ecosystems at medium elevations with a moderate climate are slightly more robust,” ungkap Peters (University of Würzburg, 27/3/2019). 

Oleh: Servas Pandur