• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Model 3D ‘Tangible Landscape’ Melawan Penyakit Pohon Ek

Kematian mendadak banyak pohon ek akibat serangan penyakit (pathogen) baru yang lebih agresif, menjadi ancaman serius di Oregon, Amerika Serikat. Sejak 1994, wabah penyakit ini telah membunuh jutaan pohon oak di California dan Oregon. Jika wabah ini menyebar dari zona isolasi di Curry County, Oregon, ke zona tetangganya Coos County, dampaknya serius antara lain penurunan produksi dan panen kayu sekitar 15%, kehilangan sekitar 1.200 lapangan kerja dan upah sekitar 58 juta dollar AS. Begitu isi laporan Oregon Department of Forestry (2019) (North Carolina State University, 20/5/2019).

Devon A. Gaydos dan koleganya (2019) dari Center for Geospatial Analytics, North Carolina State University di Amerika Serikat (AS) menciptakan suatu model 3D Tangible Landscape yang dapat membantu para pemangku kepentingan hutan menemukan cara melawan penyebaran penyakit pohon ek, melindungi pohon-pohon yang rentan terhadap serangan wabah, dan membantu industri kayu di kawasan Oregon.

Proyek riset dan penciptaan model 3D Tangible Landscape didanai oleh US Department of Agriculture Forest Service, National Science Foundation, dan National Institutes of Health di Amerika Serikat. Proyek riset dan pengembangan model 3D Tangible Landscape itu dirilis oleh jurnal Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, edisi Mei 2019 (Devon A. Gaydos, Anna Petrasova, Richard C. Cobb, Ross K. Meentemeyer, “Forecasting and control of emerging infectious forest disease through participatory modelling”, Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 2019).

Model 3D Tangible Landscape itu memiliki sejumlah keunggulan, antara lain interaktif, partisipatif, dan prediktif. Misalnya, model ini memungkinkan banyak orang dari bebagai latar-belakang dan tingkat ketrampilan dan keahlian berbeda-beda mengendalikan model-model simulasi pilihan-pilihan dan skenario respons atau keputusan melawan wabah penyakit pohon ek di Oregon, Amerika Serikat.

“The Tangible Landscape system makes it a lot easier because people can interact with the model by touch instead of through the code or the computer. People can add objects to a 3D model of the landscape to represent different types of management, and then with the click of a button we see how that action may affect the disease's spread within a few moments,” ungkap Devon Gaydos, mahasiswi doktoral pada North Carolina State University dan penulis utama studi ilmiah itu.

Model 3D Tangible Landscape menyediakan pula perkiraan-perkiraan tentang kemungkinan persebaran pathogen pohon ek, zonanya, pola persebarannya, dan pilihan-pilihan responsnya yang membutuhkan pengalaman piranti lunak teknis atau coding. Model itu juga memudahkan para peserta menghitung perkiraan anggaran biaya manajemen wabah dengan pilihan-pilihan respons melawan persebarannya secara skala besar dan skala kecil.

“You can think of our disease spread model like a weather forecast: Knowing what the weather may look like this afternoon can help you decide if you want to bring an umbrella to work. Similarly, knowing how the pathogen may spread over the next year can help people gather resources, figure out which areas to target for surveillance or management, and request funding,” ungkap Devon Gaydos (North Carolina State University, 20/5/2019).

Devon Gaydos dan koleganya (2019) membuat model 3D partisipatif karena wabah pathogen pohon ek di Oregon, Amerika Serikat, mempengaruhi banyak pemangku kepentingan, misalnya pemilik tanah pribadi, para produsen kayu, para manajer U.S. Forest Service, kelompok suku yang menganggap pohon tanoak keramat, dan ribuan penduduk setempat, termasuk pekerja sektor industri kayu. Mereka memulai dari kerjasama dengan selusin ahli setempat dan regional, dalam semangat saling-belajar satu sama lain (Science Daily, 20/5/2019).

“The idea of co-creating models with stakeholders is that by involving the people who are most affected, you're going to get better data as a scientist because they have a lot of information about local dynamics and on-the-ground management that you may not know. More and more stakeholders are becoming interested in using the model, and the Oregon Department of Forestry wants to use it in an economic analysis of the situation and to test different management scenarios for the future,” papar Devon Gaydos (North Carolina State University, 20/5/2019).

Tim ahli itu juga menemukan bahwa data dalam model itu perlu lebih akurat. Maka dibutuhkan dukungan para peserta program. Begitu pula, model itu perlu menunjukkan hasil dari berbagai respons atau keputusan guna mengatasi kerumitan operasi lapangan melawan wabah penyakit pohon ek di Oregon, Amerika Serikat (Science Daily, 20/5/2019).

“It's all about working together as partners to frame questions and problems, improve models and decide how to use those results for sustainable solutions,” ujar Profesor Ross Meentemeyer pada NC State Forestry and Environmental Resources dan direktur Center for Geospatial Analytics serta co-author studi ilmiah itu (North Carolina State University, 20/5/2019). 

Oleh: Servas Pandur