• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Fosil Tikus Usia 3 Juta Tahun Singkap Rahasia Evolusi Warna

Hasil penelitian dan kajian ahli paleontologi Profesor Phillip L. Manning dari University of Manchester di Inggris dan koleganya dari tim ahli asal Amerika Serikat, Jepang dan Spanyol, berhasil menyingkap bukti-bukti pigmen warna-warni dari fosil tikus purba usia 3 (tiga) juta tahun. Penggunaan evolusi warna bagi kelangsungan hidup mamalia di alam terbukti dari rubah merah hingga zebra (University of Manchester, 21/5/2019).

Studi ilmiah Profesor Phil Manning dan koleganya menggunakan pencitraan sinar-X terhadap beberapa fosil berusia 3 juta tahun untuk mengurai kunci evolusi pigmen hewan purba dan mengenali tanda-kimiawi pigmen merah khusus hewan yang sudah lama punah untuk mengetahui evolusinya, Untuk menyingkap rahasia pola-pola fosil, tim ahli asal University of Manchester berkolaborasi dengan ilmuwan-ilmuwan lainnya, dengan menggunakan radiasi sinkrotron (synchrotron radiation) pada Stanford Synchrotron Radiation Lightsource di Amerikat Serikat dan Diamond Light Source di Inggris guna menyinari fosil secara intens dengan sinar X. Interaksi sinar X dengan kimia fosil ini memungkinkan tim ahli pertama kali mengenali kimia pigmentasi merah (pheomelanin) pada bulu fosil tikus yang awet selama 3 (tiga) juta tahun (University of Manchester, 21/5/2019).

“The fossils we have studied have the vast potential to unlock many secrets of the original organism. We can reconstruct key facets from life, death and the subsequent events impacting preservation before and after burial. To unpick this complicated fossil chemical archive requires an interdisciplinary team to combine their efforts to crack this problem. In doing this, we unlock much more than just palaeontological information,” ungkap Profesor Phillip L. Manning, ketua tim riset itu dan ahli paleontologi pada University of Manchester, School of Earth and Environmental Sciences, Interdisciplinary Centre for Ancient Life, Manchester di Inggris dan Department of Geology and Environmental Geoscience, College of Charleston di Amerika Serikat (University of Manchester, 21/5/2019).

Hasil riset ini dirilis oleh jurnal Nature Communications edisi Mei 2019 (Phillip L. Manning, Nicholas P. Edwards, Uwe Bergmann, Jennifer Anné, Arjen van Veelen, Dimosthenis Sokaras, ictoria M. Egorton, Roberto Alonso-Mori, Konstantin Ignatyev, Bart E. Van Dongen, Kazumasa Wakamatsu, Shosuke Ito, Fabien Knoll, Roy A. Wogelius, “Pheomelanin pigment remnants mapped in fossils of an extinct mammal”, Nature Communications 10, Article number: 2250 (2019)).

Studi ilmiah Profesor Phillip L. Manning dan koleganya menemukan bahwa evolusi warna berperan penting dalam evolusi kehidupan di Bumi. Bahkan evolusi warna juga berperan dalam proses seleksi (alam) dasar dan arah evolusi selama ratusan juta tahun di planet Bumi.

Riset dan studi ilmiah itu melibatkan banyak ahli dari sejumlah negara, misalnya, Nicholas P. Edwards asal Stanford Synchrotron Radiation Lightsource, SLAC National Accelerator Laboratory (Amerika Serikat); Uwe Bergmann asal Stanford PULSE Institute, SLAC National Accelerator Laboratory, Menlo Park (Amerika Serikat); Jennifer Anné asal The Children’s Museum of Indianpolis, 3000 N Meridian St, Indianapolis (Amerika Serikat); William I. Sellers asal University of Manchester, School of Earth and Environmental Sciences, Interdisciplinary Centre for Ancient Life, Manchester (Inggris); Arjen van Veelen asal University of Southampton, Faculty of Engineering and Physical Sciences, Southampton (Inggris); Dimosthenis Sokaras asal Stanford Synchrotron Radiation Lightsource, SLAC National Accelerator Laboratory, Menlo Park, CA (Amerika Serikat); Victoria M. Egerton asal University of Manchester, School of Earth and Environmental Sciences, Interdisciplinary Centre for Ancient Life, Manchester (Inggris) dan The Children’s Museum of Indianpolis, 3000 N Meridian St, Indianapolis (Ameerika Serikat); Roberto Alonso-Mori asal Linac Coherent Light Source, SLAC National Accelerator Laboratory, Menlo Park, CA (Amerika Serikat);  Konstantin Ignatyev asal Diamond Light Source, Didcot (Inggris); Bart E. van Dongen asal University of Manchester, School of Earth and Environmental Sciences, Interdisciplinary Centre for Ancient Life, Manchester (Inggris); Kazumasa Wakamatsu asal Department of Chemistry, Fujita Health University School of Health Sciences, Toyoake, Aichi asal Jepang; Shosuke Ito asal Department of Chemistry, Fujita Health University School of Health Sciences, Toyoake, Aichi (Jepang); Fabien Knoll asal University of Manchester, School of Earth and Environmental Sciences, Interdisciplinary Centre for Ancient Life, Manchester (Inggris) dan ARAID—Fundación Conjunto Paleontológico de Teruel-Dinópolis (Spanyol); Roy A. Wogelius asal University of Manchester, School of Earth and Environmental Sciences, Williamson Research Centre for Molecular Environmental Science & Interdisciplinary Centre for Ancient Life (Inggris).

“This was a painstaking effort involving physics, palaeontology, organic chemistry, and geochemistry. By working as a team, we were able, for the first time, to discover chemical traces of red pigment in fossil animal material. We understand now what to look for in the future and our hope is that these results will mean that we can become more confident in reconstructing extinct animals and thereby add another dimension to the study of evolution,” ungkap Profesor Roy A. Wogelius, ahli geo-kimia dan co-author studi ilmiah ini (University of Manchester, 21/5/2019).

Riset Profesor Phillip L. Manning dan koleganya (2019) tidak hanya berhasil menyingkap jejak kimiawi pigmen hitam pekat di dalam jaringan lunak fosil, tetapi juga jejak pigmen hewan merah yang selama ini jauh lebih sulit disingkap dan dilacak. Residu kimiawi pigmen hitam, yang mewarnai binatang-binatang seperti gagak, pertama kali diurai dan disingkap oleh tim ahli ini dalam penelitian sebelumnya hampir sepuluh tahun silam. Tetapi pigmen merah, karakteristik hewan seperti rubah, jauh lebih stabil dari waktu ke waktu geologis dan terbukti jauh lebih sulit dilacak.

“We had data which suggested red pigment residue was present in several fossils, but there was no useful data available to compare this to in modern organisms. So we needed to devote several years to analysing modern tissue before we could go back and review our results from some amazing fossil specimens. In the end, we were able to prove that detailed chemical analysis can resolve such pigment residue, but along the way we learned so much more about the chemistry of pigmentation throughout the animal kingdom,” papar Profeor Roy A. Wogelius (University of Manchester, 21/5/2019).

Tim ahli itu berhasil mengidentifikasi jejak logam-logam (metal) yang terinkorporasi ke dalam jaringan lunak organisme-organisme purba dan membandingkannya dengan cara inkorporasi logam-logam ke dalam spesies hidup. Secara kimia, jejak logam-logam pada bulu tikus terikat pada bahan kimia organik dengan cara yang persis sama seperti logam ini terikat pada pigmen organik pada hewan dengan konsentrasi tinggi pigmen merah dalam jaringannya. Tim ahli itu juga menerjemahkan temuan-temuan kimiawi itu ke dalam gelombang suara sehingga orang dapat mendengar frekuensi suara berbagai warna pigmen di dalam fosil. Untuk lebih menjamin kepastian penemuan itu, standar-standar perbandingan dianalisis oleh synchrotron radiation dan para ahli kimia pigmen di Fujita Health University, Jepang.

“Palaeontology offers research that is more than relevant to our everyday life. Information gleaned from the fossil record is influencing multiple fields, including; climate research, the burial of biowaste and radwaste, the measure of environmental impact of oil spills on living species with techniques developed on fossil organisms. Whilst our research is firmly anchored in the past, we set our sights on its application to the future,” jelas Prof. Manning (University of Manchester, 21/5/2019).

Oleh: Servas Pandur