• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Air Di Bumi Berasal Dari Pembentukkan Bulan

Di tata surya kita, Bumi unik. Antara lain karena Bumi adalah satu-satunya planet terestrial, yang memiliki sejumlah besar air dan bulan yang relatif besar, yang menstabilkan poros Bumi. Bulan dan air penting bagi kehidupan berkembang di Bumi. Baru-baru ini, hasil riset ahli planet Dr. Gerrit Budde, Dr. Christoph Burkhardt, dan Profesor Thorsten Kleine (2019) asal Institut für Planetologie, University of Münster, Wilhelm-Klemm-Straße 10, Münster di Jerman, menunjukkan untuk pertama-kalinya bahwa air datang ke Bumi dengan pembentukan Bulan sekitar 4,4 miliar tahun yang lalu (Gerrit Budde et al, 2019).

Hasil riset dan kajian Gerrit Budde  dan koleganya diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal Nature Astronomy, edisi 2019 (Gerrit Budde, Christoph Burkhardt & Thorsten Kleine, “Molybdenum isotopic evidence for the late accretion of outer Solar System material to Earth”,  Nature Astronomy, 2019). Proyek riset ini didanai oleh organisasi penyandang dana riset ilmiah Die Deutsche Forschungsgemeinschaft di Jerman dan European Research Council (ERC), lembaga publik penyandang dana riset sains dan teknologi di Uni Eropa (University of Münster, 21/5/2019).

Hasil riset dan kajian Gerrit Budde dan koleganya dapat menjelaskan bagaimana Bumi menjadi planet yang dapat dihuni dan kehidupan berkembang di planet Bumi selama ini. Bulan terbentuk ketika Bumi ditabrak oleh Theia--benda seukuran Mars—kira-kira 4,4 miliar tahun silam. Selama ini, para ilmuwan menduga bahwa Theia berasal dari bagian dalam tata-surya dekat Bumi. Namun, hasil riset dan kajian ahli planet pada Institut für Planetologie, University of Münster di Jerman, menunjukkan bahwa Theia berasal dari tata surya luar dan mengirim sejumlah besar air ke Bumi (Gerrit Budde et al, 2019).

Bumi tumbuh melalui tabrakan (collions) dengan embrio planet seukuran Bulan hingga ukuran Mars dari Tata Surya bagian dalam; tabrakan itu juga mengumpulkan material dari jarak-jarak heliosentris yang lebih besar, termasuk benda mirip chondrite berkarbon, kemungkinan sumber air Bumi dan spesies yang sangat mudah menguap. Gerrit Budde dan koleganya berupaya meneliti dan memahami kapan dan bagaimana air ditambahkan ke Bumi sehingga Bumi menjadi planet layak-huni dan layak-hidup (Gerrit Budde et al, 2019).

Riset Gerrit Budde dan koleganya menunjukkan bahwa komposisi isotop Mo dari mantel awal Bumi jatuh di antara reservoir non-karbon dan reservoir karbon dan dari ovservasinya, tim ahli itu dapat mengukur pertambahan material mirip-karbon seperti chondrite ke Bumi secara independen dari asumsi-asumsi tentang blok-blok pembentukannya (Gerrit Budde et al, 2019).

Karena sebagian besar Mo dalam mantel awal Bumi dideliver oleh tabrakan tahap akhir, data riset Gerrit Budde dan koleganya menunjukkan bahwa Bumi bertambah karbon di akhir sejarah pertumbuhannya--mungkin melalui dampak pembentukan Bulan. Pengiriman material karbonan tahap akhir ini mungkin akibat ketidakstabilan orbit planet-planet raksasa gas; dan ini menunjukkan bahwa Bumi layak-huni sangat terkait dengan tahap-tahap pertumbuhannya yang sangat akhir (Gerrit Budde et al, 2019).

Secara rinci, tim ahli itu menguraikan asal-usul air datang ke Bumi. Bumi terbentuk di tata surya bagian dalam 'kering', dan karenanya agak mengejutkan bahwa ada air di Bumi. Untuk memahami mengapa hal ini terjadi, kita harus kembali ke masa ketika tata surya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun silam.

Hasil penelitian sebelumnya menunjukan bahwa tata surya menjadi terstruktur sehingga bahan 'kering' dipisahkan dari bahan 'basah': apa yang disebut meteorit 'berkarbon', yang relatif kaya air, berasal dari tata surya luar; sedangkan meteorit 'non-karbon' kering berasal dari tata surya bagian dalam. Sedangkan penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa material berkarbon cenderung menjadi asal-usul deliver air ke Bumi; namun, tidak diketahui kapan dan bagaimana material berkarbon ini - dan dengan demikian air - datang ke Bumi.

“We have used molybdenum isotopes to answer this question. The molybdenum isotopes allow us to clearly distinguish carbonaceous and non-carbonaceous material, and as such represent a 'genetic fingerprint' of material from the outer and inner solar system,” papar Dr. Gerrit Budde, ketua penulisan karya dan studi ilmiah ini (University of Münster, 21/5/2019).

Pengukuran-pengukuran dari tim ahli itu menunjukkan bahwa susunan isotop molibdenum (molybdenum isotopic) Bumi terletak di antara meteorit yang mengandung karbon dan non-karbon. Hal ini menunjukkan bahwa beberapa molibdenum Bumi berasal dari sisi luar tata-surya. Dalam hal ini, unsur-unsur kimiawi molibdenum berperan penting, karena bahan-bahan tersebut merupakan unsur-unsur iron-loving, maka sebagian besar molibdenum Bumi terletak di inti Bumi.

Hasil riset Gerrit Budde dan koleganya, untuk pertama kalinya, menunjukkan bahwa material berkarbon (carbonaceous material) dari sisi luar tata-surya tiba terakhi di Bumi. “The molybdenum which is accessible today in the Earth's mantle, therefore, originates from the late stages of Earth's formation, while the molybdenum from earlier phases is entirely in the core,” ungkap Dr. Christoph Burkhardt, second-author studi ilmiah ini (University of Münster, 21/5/2019).

Sebagaimana telah dikemukakan pada bagian awal tulisan ini, hasil riset tim ahli itu juga menunjukkan bahwa sebagian besar dari molibdenum di mantel Bumi dipasok oleh protoplanet Theia yang tabrak dengan Bumi 4,4 miliar tahun silam yang menghasilkan pembentukan Bulan. Tabrakan itu menyediakan material karbonat memadai untuk seluruh air di Bumi. “Our approach is unique because, for the first time, it allows us to associate the origin of water on Earth with the formation of the Moon. To put it simply, without the Moon there probably would be no life on Earth,” ungkap Profesor Thorsten Kleine, ahli planet asal University of Münster (University of Münster, 21/5/2019). 

Oleh: Servas Pandur