• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


SALTO : Robot Cepat-Tangkas Militer Amerika Serikat

Proyek riset Angkatan Darat (US Army) Amerika Serikat (AS) sejak 2016 yang melibatkan tim peneliti robot Justin Yim dan Ronald Fearing asal University of California Berkeley di AS, berhasil menciptakan robot tangkas SALTO – singkatan gerak saltatorial (melompat seperti belalang) pada medan-medan sulit dan penuh hambatan (U.S. Army Research Laboratory, 28/5/2019).

“This Army investment extends the current state of the art for small ground robot mobility beyond what is currently capable through traditional wheeled and tracked locomotion which are severely limited in complex three-dimensional terrain. These advances will inform and guide our Army Research Laboratory researchers as they continue to develop innovative solutions for robotic actuation and mobility and will enable agile robots that can go anywhere a Soldier can and beyond. This research brings us a step closer to providing our warfighters with effective unmanned systems that can be deployed in the field,” ujar Dr. Brett Piekarski, Vehicle Technology Directorate, Army Research Laboratory di Amerika Serikat (U.S. Army Research Laboratory, 28/5/2019).

SALTO adalah hasil karya cipta Justin Yim dan Ronald Fearing (2019) yang terinspirasi oleh gerak serangga khususnya ilham dari gerakan fisik, kaki, lengan, dan telinga galagos yang kokoh dan kuat di Afrika; gerak dasarnya ialah gerak melompat, memantul di tempat, mengikuti sasaran bergerak, menavigasi rintangan, dan mendarat di permukaan rumit, terlalu halus, atau terlalu kasar, yang sulit dilakukan oleh robot-robot  beroda dan sistem kontrol sangat canggih.

“Small robots are really great for a lot of things, like running around in places where larger robots or humans can't fit. For example, in a disaster scenario, where people might be trapped under rubble, robots might be really useful at finding the people in a way that is not dangerous to rescuers and might even be faster than rescuers could have done unaided. We wanted Salto to not only be small, but also able to jump really high and really quickly so that it could navigate these difficult places,” ungkap Justin Yim, mahasiswa pasca-sarjana UC Berkeley di Amerika Serikat (U.S. Army Research Laboratory, 28/5/2019).

Galagos—lazim dilabel ‘bush babies’ (bayi-bayi semak) atau nagapies (little night monkey) temasuk primata kecil nokturnal, yang sangat beragam dan sukses survival di benua Afrika (African Wildlife Foundation, 2012). Mata galagos sangat besar sehingga penglihatannya tajam di malam hari, kaki belakang sangat kuat, telinga besar seperti telinga kelelawar dengan pendengaran akut, dan ekor panjang sebagai penyeimbang gerakan tubuhnya. Sehingga galagos mampu melacak serangga di kegelapan, tanah, atau menangkapnya dari alam terbuka. Galagos melipat telinganya saat istirahat.

Gerakan galagos sangat cepat dan gesit. Karena menyimpan energi elastis pada tendon kaki bagian bawahnya, galagos mampu melompat hingga tinggi 2,5 meter. Di tengah melompat, galagos mendekatkan lengan dan kakinya ke tubuh; kemudian mengeluarkan lengan dan kakinya pada detik terakhir untuk meraih cabang. Dalam serangkaian lompatan, galago dapat menempuh jarak sepuluh yard hanya dalam beberapa detik. Ekor, yang lebih panjang dari gabungan kepala dan tubuh, membantu otot-otot kaki yang kuat memberi tenaga pada lompatan. Galagos juga dapat melompat seperti kanguru atau berlari atau berjalan dengan empat kaki. Pergerakan fisiknya yang kuat, rumit, dan terkoordinasi ini disebabkan oleh separuh rostral dari korteks parietal posterior tersambung dengan motor, premotor, dan area visuomotor pada korteks frontal (Aerts, Peter, 1998: 1607-1620; Stepniewska, Iwona; Fang, Pei-Chun; Kaas, Jon H., 2005: 4878–4883).

Justin Yim bekerjasama dengan Ronald Fearing, profesor sains komputer dan rekayasa listrik pada UC Berkeley di Amerika Serikat. Biomimetic Millisystems Lab milik Ronald Fearing selama ini meneliti dan mengembangkan mekanika gerakan-gerakan hewan yang dapat diterapkan dalam gerakan tangkas robot. Lab milik Fearing misalnya membuat robot yang terinspirasi gerakan serangga merangkak di permukaan yang rumit yang terlalu halus atau terlalu kasar bagi robot beroda.

"Unlike a grasshopper or cricket that winds up and gives one jump, we're looking at a mechanism where it can jump, jump, jump, jump. This allows our robot to jump from location to location, which then gives it the ability to temporarily land on surfaces that we might not be able to perch on,” papar Fearing (U.S. Army Research Laboratory, 28/5/2019).

Yim melengkapi SALTO dengan teknologi baru pemandu titik dan sudut sasaran gerak dan menekuk kakinya, melacak sudut dan posisinya yang tepat, mengirim data itu kembali ke komputer, serta memiringkan dirinya untuk lompatan berikut. “By understanding the way that these dynamics work for Salto, with its mass and size, then we can extend the same type of understanding to other systems, and we could build other robots that are bigger or smaller or differently shaped or weighted,” papar Justin Yim (U.S. Army Research Laboratory, 28/5/2019).

SALTO siap melaksanakan berbagai operasi pencarian dan penyelamatan nyawa dalam misi kemanusiaan atau operasi militer. Tim peneliti dan penemu robot SALTO memaparkan keahlian-keahlian baru SALTO pada The 2019 International Conference on Robotics and Automation di Montreal (Kanada) pada 21 Mei 2019.

“The physical environment the Army operates in is highly irregular, cluttered, and constantly changing. The science underlying the advancements is critical for achieving the desired mobility, speed of action, and situational awareness generation necessary for future Army operations,” papar Dr. Samuel Stanton, manajer program Army Research Office, satu elemen pada Army Research Laboratory, U.S. Army Combat Capability Development Command di Amerika Serikat (U.S. Army Research Laboratory, 28/5/2019).

Kini CCDC (U.S. Army Combat Capabilities Development Command) Army Futures Command di Amerika Serikat, sedang mengembangkan konsep-konsep komando misi baru yang akan memungkinkan dan memudahkan prajurit Amerika Serikat dan robot-robot beroperasi sebagai tim efektif pada masa datang. Combat Capabilities Development Command (CCDC), komando subordinasi dalam Army Futures Command, berupaya mengeksplorasi seberapa jauh robot dapat menjadi pelengkap bagi para komandan militer AS dan para stafnya selama proses pembuatan suatu keputusan.

“It's paramount that commanders and their staff be able to make the best possible decision at the right time, given their circumstances and the information that is available to them,” ungkap Osie David, insinyur kepala pada Command, Control, Communications, Computers, Cyber, Intelligence, Surveillance and Reconnaissance (C5ISR) Center pada Combat Capabilities Development Command (CCDC) militer AS (Daniel Lafontaine, 23/5/2019).

Oleh: Servas Pandur