• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Sensor Baru Pangan Kemasan: Murah & Ramah-Lingkungan

Dr Firat Güder asal Department of Bioengineering, Imperial College London di Inggris dan koleganya berhasil menciptakan sensor ikan atau daging busuk atau segar dalam kemasan dengan nama 'sensor gas listrik berbasis kertas' (paper-based electrical gas sensors/PEGS) (Giandrin Barandun et al, 2019)

PEGS sensor ramah-lingkungan, murah dan tersambung ke telepon genggam (smartphone) untuk kemasan ikan dan daging. Alat sensor baru itu dapat mendeteksi pembusukan pangan dan mengurangi sampah makanan, yang berguna bagi konsumen pangan dan supermarket. Alat sensor ikan dan daging segar atau busuk ini dapat menggantikan pola lama dengan tanggal, bulan atau tahun kedaluarsa (expire) pangan (Imperial College London, 5/6/2019).

Hasil riset tim ahli itu dirilis oleh jurnal ACS Sensors edisi 2019 (Giandrin Barandun, Matteo Soprani, Sina Naficy, Max Grell, Michael Kasimatis, Kwan Lun Chiu, Andrea Ponzoni, Firat Guder, “Cellulose fibers enable near zero-cost electrical sensing of water-soluble gases”, ACS Sensors, 2019). Proyek riset itu didanai oleh The Engineering and Physical Sciences Research Council (EPSRC).

“Use-by dates estimate when a perishable product might no longer be edible -- but they don't always reflect its actual freshness. Although the food industry -- and consumers -- are understandably cautious about shelf life, it's time to embrace technology that could more accurately detect food edibility and reduce food waste and plastic pollution,” ungkap penulis utama karya ilmiah itu, Giandrin Barandun, asal Department of Bioengineering, Imperial College London, Inggris (Imperial College London, 5/6/2019).

Hasil riset Giandrin Barandun et al (2019) itu juga menemukan bahwa satu dari tiga konsumen di Inggris membuang makanan semata-mata karena sudah kedaluarsa;  tetapi 60% (4,2 juta ton) dari makanan senilai £ 12,5 miliar yang dibuang tiap tahun itu, sebetulnya masih  aman dikonsumsi oleh manusia (Science Daily, 5/6/2019).

PEGS termasuk sensor proto-tipe lab dengan biaya produksi sekitar 2 sen dollar AS. PEGS dapat melacak gas-gas busuk seperti ammonia dan trimethylamine dalam daging busuk. Data sensor dapat dibaca HP (smartphone), sehingga orang dapat memegang HP-nya dan kemasan ikan atau daging untuk melihat apakah makanan itu aman dimakan oleh manusia. Peneliti pada Imperial College London, Inggris, membuat PEGS dengan mencetak elektroda karbon ke suatu kertas selulosa (Science Daily, 5/6/2019).

Bahan biodegradable ramah-lingkungan dan tidak beracun, sehingga tidak merusak lingkungan dan aman untuk kemasan makanan. Sensor digabungkan dengan tag “'near field communication (NFC)” - serangkaian microchip yang dapat dibaca oleh perangkat seluler terdekat. Selama pengujian laboratorium pada ikan dan ayam dalam kemasan, PEGS melacak sejumlah kecil gas pembusuk dengan cepat dan lebih akurat daripada sensor lain (Science Daily, 5/6/2019).

“Although they're designed to keep us safe, use-by dates can lead to edible food being thrown away. In fact, use-by dates are not completely reliable in terms of safety as people often get sick from foodborne diseases due to poor storage, even when an item is within its use-by. Citizens want to be confident that their food is safe to eat, and to avoid throwing food away unnecessarily because they aren't able to judge its safety. These sensors are cheap enough that we hope supermarkets could use them within three years. Our vision is to use PEGS in food packaging to reduce unnecessary food waste and the resulting plastic pollution,” Dr. Firat Güder, ketua penulis karya ilmiah itu (Imperial College London, 5/6/2019). 

Oleh: Servas Pandur