• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Cara Baru Cegah Penularan Malaria

Respons kekebalan alamiah (natural immune response) manusia terhadap penularan parasit malaria dapat mengenali dan membunuh parasit dalam fase siklus hidup malaria sebelum menyebar ke nyamuk. Karena respons kekebalan alamiah manusia tehadap tahap penularan parasit, dapat menjadi kunci melawan parasit malaria dan mencegah penyebaran penyakit malaria. Meskipun ada perkiraan sebelumnya bahwa peran manusia dalam siklus transmisi atau persebaran malaria secara imunologis ‘diam’ (Science Daily, 5/6/2019).

Begitu hasil riset ilmiah dari K.W. Dantzler et al (2019) asal University of Glasgow yang berkolaborasi dengan ahli Radboud University Medical Center, The Netherlands dan Harvard University yang mempelajari sampel-sampel plasma manusia (human plasma samples) lebih dari 500 orang yang terinfeksi malaria asal Cameroon, Burkina Faso, Gambia dan Malawi di Afrika (Radboud University Medical Center, 5/6/2019).

K.W. Dantzler et al (2019) menyingkap target respons antibodi manusia alami yang sebelumnya tidak diketahui, ditemukan di permukaan sel darah merah yang terinfeksi parasit malaria. Tim peneliti meyakini bahwa menggunakan vaksin untuk meningkatkan respon alami terhadap malaria, dapat menjadi cara efisien memblokir penyakit malaria dan penyebarannya.

“Whilst there is no single magic bullet that solves malaria, this is a very promising discovery. It helps us in understanding how malaria spreads in communities and offers an important new lead to develop novel tools. Such novel tools are critical to maintain the momentum of the ongoing malaria elimination campaign and finding new ways to end the spread of this awful disease,” papar Prof Teun Bousema dari  Radboud University Medical Center.

Proyek riset itu didanai oleh Wellcome, US National Institute of Health, European Research Council, Bloomberg Family Foundation melalui Johns Hopkins Malaria Research Institute, Netherlands Organization for Scientific Research, Swiss National Science Foundation, American Heart Association dan Agence Nationale de la Recherche. Hasil riset itu dirilis oleh jurnal Science Translational Medicine, 2019 (Kathleen W. Dantzler, et al, “Naturally acquired immunity against immature Plasmodium falciparum gametocytes”, Science Translational Medicine, Vol. 11, Issue 495, June 5, 2019).

Malaria tetap menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia karena sekitar 216 juta kasus setiap tahun dan lebih dari 400.000 kematian di seluruh dunia. Akhir-akhir ini, malaria berkembang sebagian besar di Afrika sub-Sahara dan Amerika Selatan serta penyebaran resistensi-artemisinin dari Asia Tenggara.

Penularan parasit Plasmodium, penyebab sakit malaria, bergantung pada nyamuk dan manusia. Nyamuk terinfeksi menyuntikan parasit ketika menggigit manusia, sehingga orang sakit dan kadang-kadang berisiko kematian. Beberapa parasit patogen berkembang menular yang dapat diambil oleh nyamuk lain. Bagian dari perkembangan parasit itu terjadi dalam sel darah merah di sumsum tulang manusia.

Karena itu, fokus riset K.W. Dantzler et al (2019) ialah penularan malaria pada tahap parasit guna menghasilkan cara efisien pencegahan penyebaran penyakit malaria. Khususnya kini fokus pencegahan malaria skala global lebih ke upaya pengurangan Plasmodium falciparum. Maka pemahaman tentang tahap penularan biologis malaria, dapat membuka peluang mengurangi atau mencegah penularan malaria selanjutnya ke nyamuk.

Tahap penularan P. falciparum yang belum matang--gametosit tahap I sampai IV--diserap dalam sumsum tulang manusia sebelum dilepas ke dalam sirkulasi sebagai gametosit stadium V yang matang. Proses ini dapat melibatkan interaksi antara reseptor inang dan adhesin yang berpotensi imunogenik pada permukaan sel darah merah (iRBC) terinfeksi.

K.W. Dantzler, et al (2019) mengembangkan satu uji (kadar logam atau unsur bahan penentu ingredient dan kualitas) sitometri (cytometry assay) guna meneliti kekebalan gemosit hidup (live gametocytes) dari bebagai tahap perkembangan pada orang-orang Malawi secara alamiah. Tim peneliti itu mengidentifikasi antibodi kuat dari gametocyte-iRBCs (giRBCs) belum matang tahap awal, tetapi tidak pada tahap dewasa giRBCs.

Antigen permukaan kandidat (n = 30), sebagian besar di antaranya berbagi antara aseksual dan gametosit-iRBCs, diidentifikasi dengan spektrometri massa dan imunisasi tikus, serta korelasi antara respons dengan microarray protein dan sitometri aliran. Respon yang diperoleh secara alami terhadap subset kandidat antigen dikaitkan dengan penurunan kepadatan aseksual dan gametosit, dan sampel plasma dari individu yang terinfeksi malaria, dapat menginduksi pembersihan kekebalan giRBC secara in vitro.

Reaksi permukaan sel darah merah yang terinfeksi dari antigen kandidat terpilih, divalidasi dengan menggunakan antibodi spesifik, dan analisis genetik menunjukkan subset dengan variasi minimal di seluruh strain. Data riset K.W. Dantzler, et al (2019) menunjukkan bahwa respons imun humoral terhadap giRBC yang belum matang dan antigen iRBC yang terbagi secara alami, diperoleh setelah pajanan malaria. Respon imun humoral ini mungkin memiliki potensi penularan malaria dengan membersihkan perkembangan gametosit, yang dapat dimanfaatkan untuk intervensi malaria.

Hasil riset K.W. Dantzler, et al (2019) itu menemukan antigen-antigen baru yang melekat pada permukaan sel darah merah yang terinfeksi pada dua tahap parasit yang berbeda dalam siklusnya dalam tubuh manusia, tahap aseksual replikatif dan tahap gametosit transmisif. Tim ahli itu juga menyimpulkan bahwa tubuh manusia menghasilkan antibodi alami sebagai respons terhadap antigen-antigen ini; dan peningkatan kadar beberapa antibodi ini berkaitan dengan berkurangnya tahap aseksual dan beban gametosit selama infeksi malaria.

Gametosit adalah satu-satunya tahap parasit yang mampu menular ke nyamuk dan karenanya penting bagi penyebaran penyakit malaria. Respon imun tubuh manusia yang baru ditemukan itu, mengurangi multiplikasi aseksual dan pematangan gametosit yang dapat ditularkan.

“This is a significant development in our need to find a plausible target for a malaria vaccine against the human blood stage forms of the parasite. Targeting antigens that are present both on asexual and gametocyte stages may reduce disease and transmission in one hit,” ungkap Professor Matt Marti, dari Institute of Infection, Immunity and Inflammation, Radboud University Medical Center.

Proyek riset itu melibatkan 31 ahli dari berbagai pusat riset dan perguruan tingg asal Perancis, Amerika Serikat, Belanda, Inggris, dan Malawi yaitu (1) Kathleen W. Dantzler, Ph.D, asal Department of Immunology and Infectious Disease, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Amerika Serikat) dan Wellcome Centre for Molecular Parasitology, Institute of Infection, Immunity and Inflammation, University of Glasgow, Glasgow (Inggris);

(2) Siyuan Ma, Department of Biostatistics, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Amerika Serikat); (3) Priscilla Ngotho dari Wellcome Centre for Molecular Parasitology, Institute of Infection, Immunity and Inflammation, University of Glasgow, Glasgow (Inggris); (4) Will J. R. Stone dari Radboud Institute for Health Sciences, Radboud University Medical Center (Belanda) dan Immunology and Infection Department, London School of Hygiene and Tropical Medicine, London (Inggris);

(5) Dingyin Tao dari  W. Harry Feinstone Department of Molecular Microbiology and Immunology dan The Malaria Research Institute, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore, MD (Amerika Serikat) dan National Center for Advancing Translational Sciences, National Institutes of Health, Rockville, MD (Amerika Serikat); (6) Sanna Rijpma dari Department of Biostatistics, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Amerika Serikat); (7) Mariana De Niz dari Wellcome Centre for Molecular Parasitology, Institute of Infection, Immunity and Inflammation, University of Glasgow, Glasgow (Inggris);

(8) Sandra K. Nilsson Bark dari  Department of Immunology and Infectious Disease, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Inggris); (9) Matthijs M. Jore dari  Radboud Institute for Health Sciences, Radboud University Medical Center (Belanda); (10) Tonke K. Raaijmakers dari Radboud Institute for Health Sciences, Radboud University Medical Center (Belanda); (11) Angela M. Early dari Broad Institute of Harvard dan MIT, Cambridge, MA (Amerika Serikat); (12) Ceereena Ubaida-Mohien dari National Institute on Aging, National Institutes of Health, Baltimore, MD (Amerika Serikat);

(13) Leandro Lemgruber dari Wellcome Centre for Molecular Parasitology, Institute of Infection, Immunity and Inflammation, University of Glasgow, Glasgow (Inggris); (14) Joseph J. Campo, Andy A. Teng, Timothy Q. Le, dan Cassidy L. Walker dari Antigen Discovery Inc., Irvine, CA (Amerika Serikat); (15) Patricia Hermand dan Philippe Deterre dari Sorbonne Universités, UPMC Univ Paris 06, INSERM, Centre d'Immunologie et des Maladies Infectieuses (CIMI-Paris), UMR 1135, ERL CNRS 8255, F-75013 Paris (Perancis); (16)  D. Huw Davies dan Phil Felgner dari Division of Infectious Diseases, Department of Medicine, University of California, Irvine, CA (Amerika Serikat);

(17) Isabelle Morlais dari UMR MIVEGEC UM1-CNRS 5290-IRD 224, Institut de Recherche pour le Développement, Montpellier Cedex (Perancis); (18) Dyann F. Wirth dari Department of Immunology and Infectious Disease, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Amerika Serikat); (19) Daniel E. Neafsey dari Broad Institute of Harvard and MIT, Cambridge, MA (Amerika Serikat); (20) Rhoel R. Dinglasan dari W. Harry Feinstone Department of Molecular Microbiology and Immunology dan The Malaria Research Institute, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Baltimore, MD (Amerika Serikat) dan Emerging Pathogens Institute, Department of Infectious Diseases and Immunology, University of Florida College of Veterinary Medicine, Gainesville, FL (Amerika Serikat);

(21) Miriam Laufer dari  Division of Malaria Research, Institute for Global Health, University of Maryland School of Medicine, Baltimore, MD (Amerika Serikat); (22) Curtis Huttenhower dari  Department of Biostatistics, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Amerika Serikat); (23) Karl Seydel dan Terrie Taylor dari Department of Osteopathic Medical Specialties, College of Osteopathic Medicine, Michigan State University, East Lansing, MI (Amerika Serikat) dan Blantyre Malaria Project, University of Malawi College of Medicine, Blantyre (Malawi);

(24) Teun Bousema dari Radboud Institute for Health Sciences, Radboud University Medical Center (Belanda) dan Immunology and Infection Department, London School of Hygiene and Tropical Medicine, London (Inggris); dan (24) Matthias Marti, Ph.D, dari Department of Immunology and Infectious Disease, Harvard T.H. Chan School of Public Health, Boston, MA (Amerika Serikat) dan Wellcome Centre for Molecular Parasitology, Institute of Infection, Immunity and Inflammation, University of Glasgow, Glasgow (Inggris).

Oleh: Servas Pandur