• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Pengaruh Hirup Karbon Hitam Pada Pembuluh Darah Paru-Paru

Hirup partikel kecil karbon hitam, biasanya akibat pembakaran diesel atau polusi udara, mempengaruhi sirkulasi pulmonari (paru-paru)--peningkatan volume pembuluh darah perifer yang lebih kecil di paru-paru. Untuk pertama kalinya, hal ini diriset dan dikaji oleh Carrie P. Aaron  et al (2019) yang dirilis oleh jurnal European Respiratory Journal edisi Juni 2019 (Carrie P. Aaron, Eric A. Hoffman, Steven M. Kawut, John H.M. Austin, Matthew Budoff, Erin D. Michos, Karen Hinckley Stukovsky, Coralynn Sack, Adam A. Szpiro, Karol D. Watson, Joel D. Kaufman, R. Graham Barr, “European Respiratory Journal”, 2019).

Hasil riset tim ahli itu menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan hasil observasi terhadap orang terpapar level-level lebih tinggi karbon hitam (black carbon) sebanding dengan orang-orang yang merokok sebungkus sehari selama 15 tahun. Hirup karbon hitam dari udara terpolusi mempengaruhi perubahan-perubahan dalam pembuluh darah paru-paru (European Lung Foundation, 5/6/2019).

Carrie P. Aaron et al (2019) menemukan bahwa paparan polutan diesel pada tingkat yang dianggap relatif rendah dapat berkontribusi terhadap perubahan halus pada paru-paru yang dapat membuat orang lebih rentan terhadap pengembangan penyakit paru-paru kronis, penyebab utama kematian ketiga di dunia; perbedaan yang diamati pada orang yang terpapar pada tingkat karbon hitam yang lebih tinggi, sebanding dengan level orang yang merokok sebungkus rokok sehari selama 15 tahun.

“A few previous studies have suggested a link between air pollution and the pulmonary circulation, but we wanted to evaluate whether there were associations between chronic air pollution exposure and the vascular structure of the lungs. We were interested in the lung vasculature as we think it may be related to chronic lung conditions,” papar Ketua tim riset, Dr. Carrie Pistenmaa Aaron, Assistant Professor pada Columbia University di  New York, Amerika Serikat (European Lung Foundation, 5/6/2019).

Proyek riset itu berbasis di US National Heart, Lung, and Blood Institute's Multi-Ethnic Study of Atherosclerosis (MESA) Lung and Air Pollution Studies di Amerika Serikat. Dr. Carrie Pistenmaa Aaron dan koleganya menganalisis data lebih dari 3.000 orang dari enam wilayah metropolitan di AS. Satu tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari University of Washington, Amerika Serikat, menghitung paparan jangka panjang partisipan terhadap polutan udara luar dengan menggunakan data pemantauan khusus dari database pemantauan Badan Perlindungan Lingkungan (Environmental Protection Agency/EPA) di Amerika Serikat, dan menganalisis lalu lintas, pola cuaca, dan data penggunaan lahan.

Dengan CT scan dada antara 2010-2012, tim peneliti itu mengukur pembuluh darah paru partisipa. Usia, tinggi, berat badan, jenis kelamin, ras dan etnis masing-masing peserta, merokok selama bertahun-tahun, paparan asap rokok, riwayat kesehatan, dan faktor sosial ekonomi lainnya juga dimasukkan dalam analisis, karena faktor-faktor ini juga dapat berdampak pada paru-paru.

Para peneliti itu memperkirakan bahwa rata-rata, peserta penelitian terpapar ke tingkat karbon hitam tahunan 0,8 mikrogram per meter kubik dan partikel halus (PM2.5), ukuran lain dari polusi udara yang mencakup partikel karbon hitam, 11 mikrogram per meter kubik. Level ini berada di bawah batas polusi udara saat ini untuk PM2.5 menurut EPA di AS, dan lebih rendah dari nilai batas Uni Eropa (UE) saat ini untuk polusi. Meskipun paparan rata-rata yang relatif rendah ini, hasil analisis tim ahli itu menunjukkan bahwa paparan ke tingkat karbon hitam yang lebih tinggi berkaitan dengan volume yang lebih besar dari pembuluh darah di pinggiran paru-paru.

“Our findings suggest that long-term exposure to black carbon may impact the pulmonary circulation. No previous research has looked specifically at whether these changes in humans lead to disease, so we cannot say for certain how this may be affecting health. However, other studies of similar pulmonary vascular measures on CT and MRI in humans, in addition to a number of studies in animals, suggest that differences in the pulmonary vasculature might make people more likely to develop chronic lung disease,” papar Dr. Aaron (European Lung Foundation, 5/6/2019).

Tim peneliti menemukan bahwa kontributor utama tingkat karbon hitam di kota-kota negara maju adalah kendaraan berbahan bakar diesel, anuar minyak (oil furnaces) dan pembangkit listrik tenaga batubara; sedangkan di seluruh dunia, sumber utama karbon hitam berasal dari tungku pembakaran kayu, kebakaran hutan dan pembukaan hutan.

“There are many ways to reduce outdoor air pollution levels - they start with energy efficiency, switching to clean or renewable energy sources, and by using technology to make fossil-fuel based energy as clean as possible,” ungkap Dr. Aaron (European Lung Foundation, 5/6/2019).

 

Oleh: Servas Pandur