• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


“Perang Dingin” Abad 21: Perang Teknologi Era Digital

“The cold war is over and Americans are trying to understand their place in a world without a defining Soviet threat.” Perang dingin sudah usai, dan Amerika Serikat sedang berupaya mengatur posisinya dalam tata-dunia baru tanpa ancaman Soviet. Begitu Joseph S. Nye, Jr, membuka kajiannya Soft Power pada jurnal Foreign Policy No. 80 tahun 1990.

Kini dunia memasuki “perang dingin baru” berbasis teknologi di era digital dan globalisasi abad 21. Rabu (5/6/2019) di Moskwa (Kremlin), Rusia, Presiden Rusia Vladimir Putin menerima kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Selama 6 (enam) tahun terakhir, Presiden Xi Jinping bertemu 30 kali dengan Presiden Putin. Kali ini, kunjungan Presiden Xi Jinping ke-6 ke Moskwa. Saat duduk di samping Presiden Putin di aula penuh hiasan dan ornamen Kremlin, Presiden Xi Jinping menyebut Presiden Putin : “closed friend’—sahabat karib : “We will strengthen our mutual support on key issues.” (Vladimir Isachenkov/ Nataliya Vasilyeva/AP, 6/6/2019).

Di Beijing (Tiongkok), jelang kunjungan kenegaraannya ke Rusia, Presiden Tiongkok Xi Jinping masih optimis tentang kemampuan Tiongkok menghadapi sengketa dagang dengan Amerika Serikat (AS) sejak 2018. Apalagi Rusia dan Tiongkok memilih posisi sama dalam isu global seperti krisis Venezuela di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), perang saudara di Suriah, dan program nuklir Iran—yang lebih sering berseberangan dengan posisi AS dan sekutunya. Nilai perdagangan Rusia-Tiongkok mencapai 100 miliar dollar AS tahun 2018 di bidang piranti keras militer, energi, transportasi, agrikultur, aviasi, dan ruang angkasa (Christopher Bodeen/AP, 5/6/2019).

Pukul 5:30 Rabu (5/6/2019) di Moskwa (Rusia), Presiden Putin dan Pesiden Xi Jinping menyaksikan Huawei Technologies milik Tiongkok—penyedia perlengkapan telkom terbesar di dunia awal abad 21--menandatangan kesepakatan kerjasama dengan perusahan telkom Rusia MTS guna mengembangkan generasi berikut jaringan teknologi ‘5-G’. Pemerintah AS memasukan Huawei dalam daftar hitam atas tuduhan pencurian hak cipta intelektual (intellectual property) dan mengabaikan sanksi terhadap Iran (AP, 6/6/2019).

Jumat (7/6/2019) di depan forum investasi di St. Petersburg (Rusia), Presiden Vladimir Putin—yang didampingi oleh Presiden Xi Jinping--mengeritik kebijakan Presiden AS Donald Trump terhadap Tiongkok, khususnya terhadap raksasa telkom Tiongkok, Huawei. Di era globalisasi perdagangan dewasa ini, sanksi dan tekanan diplomasi AS “becomes a parody of itself when common international rules are replaced with laws, administrative and judicial mechanisms of one country or a group of countries.” Presiden Putin menyebut tekanan dan sanksi AS terhadap Huawei sebagai upaya “blatantly squeeze it out of the global market... the first technological war of the digital era.” (Vladimir Isachenkov & Irina Titova/AP, 7/6/2019).

Pada forum investasi di St Petersburg (Rusia) itu, Presiden Xi Jinping merilis pernyataan sikapnya terhadap Pemerintah dan Negara AS : “It’s hard to imagine a complete break of the United States from China or of China from the United States. We are not interested in this, and our American partners are not interested in this. President Trump is my friend and I am convinced he is also not interested in this.” Pernyataan ini berbahasa Tiongkok dialihkan ke Inggris oleh Reuters (Vladimir Soldatkin, Darya Korsunskaya, Katya Golubkova, Andrey Ostroukh, Polina Ivanova/Tom Balmforth/Catherine Evans/Reuters, 7/6/2019).

Hubungan Rusia dan Tiongkok sedang tegang dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya akhir-akhir ini. Moskwa (Rusia) dan Washington (AS) berbeda sikap dalam kasus krisis Ukraina, perang saudara di Suriah, dan tuduhan intervensi Kremlin (Rusia) dalam Pemilihan Presiden AS tahun 2016. Sedangkan Tiongkok sedang menghadapi perang dagang (trade war) atau sengketa tarif (trade dispute) dengan AS.

Presiden Putin tidak diundang dalam perayaan D-Day pendaratan pasukan AS di Normandia, Perancis, ketika menghadapi pasukan Nazi-Jerman pada Perang Dunia II. Pada peringatan D-Day ke-70, Presiden Putin hadir di Perancis. Langkah Washington keluar dari kesepakatan kontrol senjata era Perang Dingin abad 20 Intermediate Range Nuclear Forces (INF) Treaty, dikritik oleh Putin dan Xi :  “undermine strategic stability.” (AP, 6/6/2019).

***

Agenda multilateral para menkeu dan gubernur bank sentral G-20 di Fukuoka (Jepang) Juni 2019, bakal tidak berdampak apa-apa terhadap tata-ekonomi global. Karena perang dagang AS vs Tiongkok belum usai. Kamis (6/6/2019) saat mengikuti Peringatan D-Day Normandia ke-75 di Caen (Perancis), Presiden AS Donald Trump berencana menaikan tarif hingga 25% terhadap produk impor lainnya senilai 300 miliar dollar AS—pasca KTT di Osaka, Jepang, akhir Juni 2019 : “I will make that decision I would say over the next two weeks — probably right after the G-20.” (Reuters, 8/6/2019; AP, 8/6/2019; Steve Holland, Stella Qiu / Reuters, 6/6/2019).

Sejak Mei 2018, Pemerintah AS menaikkan tarif impor asal Tiongkok. Alasannya, Tiongkok menerapkan taktik dagang predator sehingga perusahan-perusahan Tiongkok unggul di bidang teknologi khususnya artificial intelligence (kecerdasan buatan), robotik, dan kendaraan listrik; pencurian rahasia dagang (trade secrets) yang memaksa perusahan-perusahan asing menyerahkan rahasia teknologi strategis ke perusahan-perusahan Tiongkok yang telah disubsidi oleh Pementah Tiongkok.

Presiden AS Trump berupaya keluar dari jebakan defisit perdagangan AS-Tiongkok, antara lain sebesar 379 miliar dollar AS tahun 2018. Pilihan Presiden Trump ialah kenaikan tarif (pajak) 25% terhadap impor asal Tiongkok senilai 250 miliar dollar AS. Tiongkok juga menaikan tarif impor asal AS senilai 110 miliar dollar AS—khususnya produk pertanian seperti kacang-kacangan (AP, 6/6/2019).

Dari Fukuoka, selatan Jepang, Sabtu (8/6/2019), Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin siap membahas sengketa dagang AS-Tiongkok dengan Yi Gang, Gubernur Bank Sentral Tiongkok, Bank of China. Pada pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank sentral Group of 20 di Fukuoka Juni 2019, Mnuchin siap mengusulkan digitalisasi bisnis guna menjamin revisi sistem pajak yang adil khususnya perusahan-perusahan besar guna mendukung petumbuhan ekonomi global. Misalnya, bagaimana Facebook dan Amazon harus membayar pajak (Elaine Kurtenbach/AP, 8/6/2019).

Awal Juni 2019, Bank Dunia merilis perkiraan bahwa ekonomi global merosot karena sengketa dagang AS vs Tiongkok, kendala keuangan dan merosotnya pertumbuhan di negara-negara industri maju. Bank Sentral Australia dan India berupaya menaikan suku bunga guna mencegah risiko resesi. Bank Sentral Jepang—Bank of Japan—bakal mengubah strategi suku bunga yang sudah dipertahankan pada level minus 0,1% per tahun sejak 1999 guna menjaga kredit murah dan mendukung ekspansi ekonomi. Beberapa negara G-20 asal Eropa hendak mendorong minimum pajak perusahan besar multinasional (Kyodo News Service, 7/6/2019; AP, 8/6/2019)

Perang teknologi AS vs Tiongkok sudah di depan mata. Senin (20/5/2019) dari Beijing (Tiongkok), pers merilis kunjungan Presiden Xi Jinping ke perusahan JL MAG Rare-Earth Co. Ltd. di provinsi Jiangxi yang menambang dan memproses mineral langka dan eksotik--“an important and rare strategic resource”--dari bumi untuk mobil listrik, HP, perangkat solar power, rare-earth industry, dan teknologi lainnya (Xinhua, 23/5/2019).

Tiongkok memiliki sekitar 30% deposit sumber mineral langka, eksotik, dan stategis. AS, Australia dan beberapa negara lain juga memiliki sumber daya langka bumi, antara lain 17 unsur seperti yttrium dan scandium; namun, hasilnya berkurang sejak 1990-an, ketika Tiongkok membanjiri pasar dunia dengan pasokan harga murah dan membangun pemrosesan bijih-bijih serta mempoduksi magnet ringan dan produk-produk lainnya.

Tiongkok berupaya menjadi pemasok utama sumber daya langka dan strategis untuk HP, lightweight magnets, bateri, dan komponen lain teknologi digital atau industri 4.0. Sektor teknologi AS, seperti Apple dan perusahan lain, sangat bergantung pada manufaktur Tiongkok. Begitu pula produksi dan penjualan iPhone dari Apple di Tiongkok. Risikonya jelas antara lain memicu kerugian sekitar 80 miliar dollar AS hingga Mei 2019 (Joe McDonald & Michael Liedtke, 23/5/2019).

***

Presiden Xi Jinping berupaya membangun tata-dunia baru sejak awal abad 21. Risikonya ialah gesekan dengan kepentingan AS dan sekutunya di Asia Pasifik. Mula-mula Presiden Xi Jinping bergerak 7 September tahun 2013 di Astana, Kazakhstan dengan merilis “Silk Road Economic Belt” (Justyna Szczudlik-Tatar, 2013:1; Fallon, 2015:140). Targetnya,  “forge closer economic ties, deepen cooperation, and expand development in the Euro-Asia region” (Deepak, 2016:23; Yiwei, Wang, 2016:93).

Titik strategis berikut disasar oleh Presiden Xi Jinping ialah zona Negara RI di Asia Tenggara. Pada 3 Oktober 2013, Presiden Xi Jinping mengajukan prakarsa “21st Century Maritime Silk Road” kepada DPR RI dan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (Antoine and Robert Zielonka, 2015:1; Wong, AM., 2015:9). 

Sejak 2013, AS dan sekutunya mulai membaca arah Presiden Xi Jinping. Khususnya karena zona RI adalah pintu masuk kekuatan AS sejak Perang Dunia II ke Asia-Pasifik dan Timur Tengah. Namun, Pemerintah AS belum menggunakan hard-power dalam diplomasi seperti sanksi dan perang tarif. Meskipun buku Death by China (2011), karya Profesor emeritus Peter Kent Navarro (68) dan Greg Autry, tajam mengeritik model Tiongkok adalah ancaman besar terhadap kesehatan, kemakmuran, dan perdamaian dunia sejak era Nazi Jerman paruhan abad 20 (The Economist, 12/3/2017; Aljazeera, 12/3/2017; Bloomberg, 6/3/2017).

Sejak Februari 2018, pengaruh (pemikiran) Navarro menguat dalam pemerintahan Presiden Trump (Ana Swanson/The New York Times, 25/2/2018). Tahun 2006, Navaro merilis buku The Coming China Wars : Where They Will Be Fought, How They Can Be Won. Resep mengatasi Model Tiongkok, menurut Navarro dkk ialah perang tarif 43%, penolakan pakta-pakta perdagangan dengan Tiongkok, memperkuat hubungan militer AS-Taiwan, dan meningkatkan belanja militer AS (Foreign Policy, 20/3/2017). Karena supremasi tata-global model Tiongkok berbasis praktek dagang global tidak fair.

Kini dan ke depan, ada hal sangat menarik dari Joseph S. Nye, Jr (1990). Yakni “...That change, however, reflects the artificial effect of World War II : the United States was strengthened by the war.” AS keluar sebagai super-power dunia karena Perang Dunia II. Ini berdampak hingga hari ini. Awal Juni 2019, AS sedang menjual tank dan sistem senjata lainnya senilai lebih dari 2 (dua) miliar dollar AS ke Taiwan. AS adalah pemasok utama senjata ke Taiwan. Ini memicu geram dari Tiongkok yang belum pernah merilis upaya penggunaan kekuatan (hard-power) guna mengendalikan Taiwan (Reuters, 6/6/2019).

Tahun 2008, AS menjual senjata senilai 6,5 miliar—seperti heli tempur Apache dan 330 rudal Patriot—ke Taiwan; Tahun 2010, Pemerintah Presiden AS Barack Obama menjual senjata senilai 6,4 miliar dollar AS Taiwan—heli Black Hawk, rudal, dan kapal-kapal mine-hunting; Tahun 2011, AS menjual senjata jet tempur senilai 5,85 miliar dollar AS ke Taiwan; Tahun 2015, AS menjual paket senjata ke Taiwan – seperti dua figat, rudal anti-tank, amphibious assault vehicles, dan lain-lain seharga 1,83 miliar dollar AS (Liangping Gao & Ben Blanchard/ Robert Birsel/ Reuters, 6/6/2019).

Tahun 2017, Pemerintah Presiden AS Donald Trump menjual senjata senilai 1,42 miliar dollar AS ke Taiwan; Tahun 2018, AS setuju menjual suku cadang F-16 dan pesawat tempur senilai 330 juta dollar AS ke Taiwan; April 2019, AS setuju menjual program pelatihan pilot, dukungan logistik, dan perawatan guna mendukung pesawat tempur F-16 Taiwan senilai 500 juta dollar AS (Liangping Gao & Ben Blanchard/ Robert Birsel/ Reuters, 6/6/2019).

Awal Juni 2019, AS setuju menjual senjata, antara lain 108 General Dynamics Corp M1A2 Abrams, anti-tank dan amunisi anti-pesawat tempur (Stingers—sistem senjata potabel anti-pesawat tempur) senilai 2 (dua) miliar dollar AS ke Taiwan (Cate Cadell; Ben Blanchard; Darren Schuettler/Reuters, 6/6/2019; Mike Stone, Patricia Zengerle/Reuters, 6/6/2019). 

Awal Juni 2019, dari Washington (AS), Departemen Pertahanan AS (Pentagon) merilis rencana penjualan drone 34 ScanEagle buatan Boeing Co dengan kemampuan mengumpulkan data intelijen, ke Malaysia, Republik Indonesia, Filipina dan Vietnam senilai 47 juta dollar AS (Mike Stone & Patricia Zengerle; Yimou Lee (Taipei) & Ben Blanchard & Cate Cadell (Beijing); Mary Milliken, Chizu Nomiyama and Lisa Shumaker eds/Reuters, 6/6/2019). 

 

 

 

Oleh: Komarudin Watubun