• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Panas Ekstrim Bakal Melanda 1/3 Penduduk Afrika

Hasil riset terbaru tim ahli dari 3 universitas asal 3 negara di Eropa memperkirakan bahwa penduduk 173 kota besar atau 1/3 penduduk benua Afrika bakal dilanda panas ekstrim atau berbahaya pada masa datang berdasarkan proyeksi kependudukan dan perubahan iklim akhir-akhir ini. Perubahan iklim, pertumbuhan populasi dan urbanisasi memicu lonjakan suhu ekstrim selama tahun 2030, 2060 dan 2090 pada sekitar 173 kota besar di Afrika (Guillaume Rohat et al, 2019).

Sepertiga penghuni kota di Afrika dapat dipengaruhi oleh maut. Gelombang panas pada tahun 2090. Proyeksi ini juga menyoroti pengaruh pembangunan sosial ekonomi terhadap dampak perubahan iklim di Afrika. Begitu hasil  riset kolaborasi tim ahli asal University of Geneva (UNIGE) di University of Twente (Belanda) dan EU Joint Research Centre in Ispra (Italia) (Guillaume Rohat et al, 2019).

Proyek riset, kajian, penulisan, dan supervisi karya ilmiah itu melibatkan sejumlah ahli yaitu (1) Guillaume Rohat asal  Institute for Environmental Sciences, University of Geneva, Geneva (Swiss); Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation, University of Twente, Enschede (Belanda); dan National Center for Atmospheric Research (NCAR), Boulder, CO (Amerika Serikat); (2)  Johannes Flacke asal Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation, University of Twente, Enschede (Belanda); (3) Alessandro Dosio asal European Commission, Joint Research Centre, Ispra (Italia); (4) Hy Dao asal Institute for Environmental Sciences, University of Geneva, Geneva (Swiss) dan United Nations Environment Programme DEWA/GRID, Geneva (Swiss); (5) Martin van Maarseveen asal Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation, University of Twente, Enschede (Belanda) (Guillaume Rohat et al, 2019).

Hasil riset itu dirilis oleh jurnal Earth's Future, edisi online 20 Mei 2019 (Guillaume Rohat, Johannes Flacke, Alessandro Dosio, Hy Dao, Martin Maarseveen, “Projections of Human Exposure to Dangerous Heat in African Cities Under Multiple Socioeconomic and Climate Scenarios”,  Earth's Future, 2019).

Dampak perubahan iklim khusus bakal melanda penduduk dan lingkungan negara-negara iklim tropis dengan risiko kelembaban tinggi dan suhu panas sangat tinggi. Sedangkan negara-negara Afrika  bakal mengalami urbanisasi skala besar dan pembangunan sosial ekonomi. Sehingga terjadi ledakan penduduk perkotaan di Afrika. Kedua faktor ini berdampak terhadap kehidupan penduduk dan lingkungannya pada kota-kota besar di Afrika, khususnya risiko suhu panas ekstrim atau mematikan (Science Daily, 5/6/2019).

“We consider the critical threshold to be 40.6°C in apparent temperature, taking humidity into account.  The idea was to factor in all possible scenarios regarding climate change and urban population growth, the best and the worst, so we could find out what the future holds. This gave us twelve different plausible combinations for each of the years. It also meant we could calculate the number of people per day exposed to apparent temperatures above 40.6°C in cities in Africa on an annual basis. The same individual can be counted several times, because he or she may be exposed to these heat waves several days a year,” ungkap Guillaume Rohat, peneliti pada Institute for Environmental Sciences (ISE),  UNIGE (Université de Genève, 5/6/2019).

Tim ahli itu memadukan lima skenario proyeksi sosial-ekonomi dan tiga skenario proyeksi perubahan iklim dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun  2030, 2060 dan 2090. Berdasarkan 12 model ini, tim ahli itu menganalisis kependudukan, urbanisasi dan iklim pada 173 kota besar dengan penduduk sekurang-kurangnya 300.000 jiwa pada 43 negara di benua Afrika. Jika tiap penduduk pada 173 kota yang diteliti, terekspose tiap hari sepanjang tahun 2090, maka angkanya naik menjadi 647 miliar; sepertiga dari penduduk bakal terpapar tiap hari ke suhu minimum 40,6 ° C atau tiap kota di Afrika, berisiko mengalami panas ini selama empat bulan dalam setahun. Angka tersebut turun menjadi 10% dalam skenario terbaik untuk tahun 2030 (Science Daily, 5/6/2019).

“In the best case, 20 billion person-days will be affected in 2030, compared to 4.2 billion in 2010 -- a jump, in other words, of 376%. This figure climbs to 45 billion in 2060 (up 971%) and reaches 86 billion in 2090 (up 1947%). However, if we take the worst-case scenario for each of these three years -- namely a very steep population increase, an explosion in urbanisation and a climate badly disturbed by a continuous increase in CO2 -- the figures rise even more sharply: 26 billion in 2030 (up 519% compared to 2010), 95 billion in 2060 (up 2160%) and 217 billion in 2090 (up 4967%). We see that the worst scenario for 2090 affects 217 billion people -- that's a third of Africa's urban population potentially exposed on a daily basis,” papar Guillaume Rohat (Université de Genève, 5/6/2019).

Kolaborasi riset tim ahli itu membuat proyeksi berdasarkan proyeksi iklim dan penduduk perkotaan masa datang di Afrika guna menghitung risiko panas ekstrim masa datang. Studi ilmiah ini merupakan riset ilmiah pertama tentang proyeksi iklim dan penduduk perkotaan di Afrika. Tim ahli itu mengusulkan bahwa Rakyat dan Pemerintah negara-negara Afrika, selain negara di seluruh dunia, perlu menerapkan Paris Agreement.

“This proves that if we follow the Paris Agreement, we'll halve the number of people at risk in 2090, which is encouraging. We can see the importance of the UN Sustainable Development Goals: access to education, a drop in the number of children per woman, developments in the standard of living, and so forth. That's why we're currently in contact with several cities that we studied. The local actors are interested in the results for 2030 and 2060 so they can adapt to the inevitable and take measures to restrict urbanisation, especially by improving the quality of life in rural areas or promoting the development of other cities of more modest size,” ungkap Guillaume Rohat (Université de Genève, 5/6/2019). 

 

Oleh: Servas Pandur