• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


NASA Pantau Perubahan Air Tawar Di Planet Bumi

Ilmuwan-ilmuwan badan antariksa Amerika Serikat, National Aeronautics and Space Administration (NASA), merilis paket program riset khusus memantau dan memprediksi perubahan air tawar atau segar (fresh water)—Follow the Water--selain banjir, salju, ganggang, air di angkasa, air tanah, hujan, dan kekeringan di berbagai zona  planet Bumi. Targetnya ialah membantu Rakyat dan Pemerintah dalam rangka tata kelola air secara berkelanjutan di seluruh dunia. Misalnya, saat ini NASA melibatkan tim dari 12 negara yang satelitnya bekerja bersama untuk mengirimkan data curah hujan global setiap setengah jam (NASA/Goddard Space Flight Center, 12/6/2019).

NASA antara lain fokus pada pemantauan perubahan air segar di planet bumi. Karena hujan misalnya merembes ke dalam tanah dan mendukung kehidupan tanaman. Maka data curah hujan membantu monitoring pergerakan air tawar di planet Bumi, dan menyentuh kehidupan sehari-hari manusia, termasuk ramalan cuaca, pemantauan tanaman, dan perkiraan banjir. Untuk banyak bagian dunia, terutama negara-negara berkembang dan medan yang sulit dijangkau dan pengukuran tanah jarang atau tidak ada, dataset NASA global merupakan satu-satunya sumber informasi konsisten tentang curah hujan dan kelembaban tanah.

“Fresh water is critically important to humans, both in obvious ways and in unseen ways such as moving heat around Earth's entire climate system. With our current satellites, we are now making great progress in pinning down both the detail needed for local water decisions and the global view essential to better understanding our changing climate,” ungkap Jared Entin,  manajer program hidrologi daratan pada Earth Science Division, NASA Headquarters, Washington, Amerika Serikat (NASA/Goddard Space Flight Center, 12/6/2019).

NASA misalnya memantau kekeringan di timur Australia sehingga panen gandum berkurang dan untuk pertama kalinya gandum diimpor dalam 12 tahun teakhir. Zona timur benua Afrika dan zona Timur Tengah mengalami kekeringan paling parah di Bumi. Akibatnya, tanaman stres di seluruh Somalia, Sudan, dan Yaman. NASA selalu merilis perkiraan banjir, kekeringan, pasokan air, kualitas air, dan status air di Bumi, dengan memantau keberadaan air—sumber daya paling berharga--di planet Bumi.

NASA juga memperhatikan keberadaan air di angkasa, bukan hanya lautan, sungai, dan danau. Karena ketika air berputar di sekitar planet Bumi kita, atmosfer menyimpan uap air, menciptakan reservoir di langit yang secara berkala mengembun menjadi hujan dan salju. Maka satelit NASA selalu mengukur salju di udara, serta program-program lain, melengkapi pengamatan regional jangka panjang dari satelit NASA yang menciptakan perkiraan salju di seluruh rentang gunung barat Amerika Serikat—misalnya melalui program Airborne Snow Observatory, NASA dan Departemen Sumber Daya Air California--dan seluruh dunia.

NASA mengembangkan program pemantauan salju. Alasannya, lebih dari satu miliar orang, mencakup beberapa benua, mengandalkan air dari salju gunung untuk persediaan air minum, pertanian, dan bahkan tenaga listrik tenaga air. Namun, pola salju turun dari waktu ke waktu, dari tahun ke tahun sangat bervariasi dan karena efek iklim jangka panjang. Maka lahir kebutuhan memantau dan mengukur air pada salju gunung. Misalnya, NASA meningkatkan penginderaan jauh yang ada dan sedang berkembang untuk memantau berapa banyak air di gunung dan paket salju musiman - satu sumber air tawar paling vital di dunia.

Saat ini, NASA bermitra U.S. Agency for International Development melalui program  SERVIR untuk menyediakan data satelit, alat komputasi, dan pelatihan mitra lokal memperkirakan banjir di Afrika dan menilai dampak iklim pada salju gunung di Himalaya. Program-program ini hanya beberapa contoh dari banyak proyek NASA. Selain itu, ratusan peneliti, lembaga pemerintah, dan nirlaba lainnya mengembangkan alat dan aplikasi pengelolaan air berbasis set-data NASA yang gratis dan terbuka.

Karena air sangat penting bagi kehidupan di planet Bumi, NASA sedang meneliti air tawar di Bumi guna memahami aliran air tawar di Bumi dan sekitar Bumi seperti atmosfer, permukaan bumi, dan bawah tanah. Selama dua dekade terakhir, NASA menyediakan set-data untuk penelitian tentang pergerakan, distribusi, dan interaksi setiap bagian dari siklus air di seluruh dunia.

Kini NASA siap meneliti siklus air tawar :  Menguap dari lautan tropis yang hangat, air tawar mengembun menjadi awan, bersirkulasi di atas angin tempat sebagian jatuh sebagai hujan atau salju. Di tanah, air tawar tersimpan dalam es, salju, sungai dan danau. Atau, air meresap ke dalam tanah, menghilang dari pandangan untuk menyusup ke tanah dan akuifer. Atau, sebelum menghilang dari pandangan, air dapat menguap kembali ke atmosfer, kelembapan terkait erat dengan aliran energi Bumi, yang memengaruhi pola cuaca yang mengatur distribusi air tawar.

Para peneliti yang didanai oleh NASA, telah menggunakan data satelit dan udara untuk lebih menginformasikan alat perkiraan banjir, kekeringan dan upaya bantuan kelaparan, dan perencanaan dan pemantauan pasokan air kawasan. Upaya ini mengatasi beberapa kebutuhan paling mendesak dari orang-orang di seluruh dunia.

Satelit NASA memantau medan gravitasi Bumi, yang menyediakan wawasan tentang pergerakan massa besar seperti es dan air - termasuk air di bawah tanah. Perubahan jumlah air di akuifer, reservoir air tawar bawah tanah, menyingkap beberapa tren memprihatinkan. Dari 37 akuifer terbesar di Bumi, sepertiganya sedang habis oleh masyarakat yang memompa air lebih cepat daripada mengisi-ulang dari curah hujan. Penurunan air ini terjadi terutama ketika pertanian dan akuifer bertepatan, dan kebutuhan air manusia dapat dengan mudah memperburuk kondisi kekeringan periodik, seperti pada dekade terakhir di Lembah Tengah California, Cekungan Indus di barat laut India dan Pakistan dan akifer Arab di Arab Saudi.

Sekitar 70% air tawar di Bumi digunakan untuk pertanian atau irigasi. Akuifer bawah tanah adalah sumber penyedia pasokan air pertanian di daerah kering dan zona hujan hanya dapat terjadi setahun sekali dan selama kekeringan ketika air permukaan langka. Catatan satelit dapat membantu pembuat keputusan mengelola sumber-daya air.

Selain dampak dari pertanian, data satelit menunjukkan dampak perubahan iklim terhadap air tawar di Bumi, terutama dalam penurunan es laut dan lapisan es di kutub. Ilmuwan NASA juga mengamati naik-turunnya variabilitas alami rentang tahun basah atau kering. Saat catatan satelit global meluas ke masa depan, para Pemerintah, peneliti dan manajer air akan terus memantau air-tawar di bawah tanah saat pola iklim bergeser dan kebutuhan air manusia meningkat tajam di berbagai negara akibat ledakan penduduk dan sosial-ekonomi global. 

Oleh: Servas Pandur