• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Kawasan-Lindung-Dunia Hanya Lindungi 4-9% Satwa-Liar (Wildlife)

Kepegawaian (staffing) dan sumber daya (resources) kawasan lindung dunia (The World's Protected Areas / PAs) saat ini merosot tajam. Akibatnya, hanya 4-9% mamalia, burung, dan amfibi darat (terrestial amphibians) yang terlindungi di seluruh PAs dunia awal abad 21. Begitu hasil riset dan kajian Lauren Coad dan koleganya (2019) terhadap lebih dari 2.100 PAs di seluruh dunia (Lauren Coad, et al, 2019).

Sekitar 196 negara telah menanda-tangan 2011–2020 Strategic Plan for Biodiversity. Maka negara penanda-tangan memperluas zona PAs. Karena PAs sangat penting bagi perlindungan keragaman hayati. Namun, banyak situs PAs tidak memiliki cukup sumber-daya bagi konservasi keragaman-hayati. Lauren Coad et al (2019) menggunakan laporan manajemen 2167 PAs dengan luas cakupan wilayah sekitar 23% estate PA darat dunia. Hasilnya, kurang dari ¼ zona PAs ini melaporkan cukup staf dan anggaran.

“This analysis shows that most protected are as are poorly funded and therefore failing to protect wildlife on a scale sufficient to stave off the global decline in biodiversity. Nations need to do much more to ensure that protected areas fulfill their role as a major tool to mitigate the growing biodiversity crisis,” ungkap Prof. Dr. James Watson asal WCS di Bronx, NY, Amerika Serikat dan University of Queensland di Australia, dan satu dari co-authors studi ilmiah ini (Wildlife Conservation Society, 5/6/2019).

Berdasarkan data cakupan geografis 11.919 spesies vertebrata darat yang tumpang-tindih dengan sampel tim peneliti pada PAs, Lauren Coad et al (2019) memperkirakan bahwa hanya 4-9% amfibi darat, burung, dan mamalia terlindungi dalam estate PAs dunia saat ini. Jadi, meskipun zona PAs meningkat di seluruh dunia, tim peneliti itu mengusulkan bahwa perlu langkah konkrit meningkatkan kualitas sumber-daya PAs guna melindungi keragaman hayati PAs, khususnya merespons krisis keragaman hayati saat ini di berbagai negara.

Akhir-akhir ini, banyak negara berupaya memenuhi target perjanjian multilateral Convention on Biological Diversity (CBD) khususnya Target 11 Aichi (Aichi Target 11) dari Nagoya Protocol tahun 2010 yakni 17% zona daratannya dan 10% zona lautannya sebagai PAs tahun 2020. Namun, tim peneliti itu menemukan bahwa dana tata-kelola PAs sangat miskin dan mengusulkan bahwa PAs perlu menerapkan indikator-indikator efektivitas tata-kelola PAs yang berguna bagi pelaporan target PAs, program aksi konservasi, standar PA seperti ‘Green List’ vesi IUCN (The International Union for Conservation of Nature) (Science Daily, 5/6/2019). Target CBD atau Biodiversity Convention ialah konservasi keragaman hayati; pemanfaatan unsur-unsurnya secara berkelanjutan; dan pembagian benefit yang adil dan equitabel dari hasil sumber-sumber daya genetiknya.

“While continued expansion of the world's protected areas is necessary, a shift in emphasis from quality over quantity is critical to effectively respond to the current biodiversity crisis. If metrics of management effectiveness are not included in measurements of progress toward target 11 before 2020, we risk mistakenly reporting success in achieving Target 11, and sending a false message that sufficient resources are being committed to biodiversity protection,” papar Dr. James Watson (Wildlife Conservation Society, 5/6/2019).

Hasil riset dan kajian itu dirilis oleh jurnal Frontiers in Ecology and the Environment, 2019 (Lauren Coad, James EM Watson, Jonas Geldmann, Neil D Burgess, Fiona Leverington, Marc Hockings, Kathryn Knights, Moreno Di Marco, “Widespread shortfalls in protected area resourcing undermine efforts to conserve biodiversity,” Frontiers in Ecology and the Environment, 2019).

Studi ilmiah itu melibatkan sejumlah ahli yaitu (1) Lauren Coad asal Centre for International Forestry Research, Bogor (Indonesia) dan UN Environment-World Conservation Monitoring Centre, Cambridge (Inggris); (2) Prof. Dr James EM Watson asal School of Earth and Environmental Sciences, The University of Queensland, Brisbane (Australia); Wildlife Conservation Society, Global Conservation Program, Bronx, NY (Amerika Serikat); (3) Jonas Geldmann asal  Conservation Science Group, Department of Zoology, University of Cambridge, Cambridge (Inggris); (4) Neil D Burgess asal UN Environment-World Conservation Monitoring Centre, Cambridge (Inggris) dan Center for Macroecology, Evolution and Climate, Natural History Museum of Denmark, University of Copenhagen, Copenhagen (Denmark); (5) Fiona Leverington asal School of Earth and Environmental Sciences, The University of Queensland, Brisbane (Australia);  Protected Area Solutions, Brisbane (Australia); (6) Marc Hockings asal UN Environment-World Conservation Monitoring Centre, Cambridge (Inggris) dan School of Earth and Environmental Sciences, The University of Queensland, Brisbane (Australia); (7)  Kathryn Knights asal Protected Area Solutions, Brisbane (Australia) dan School of Biosciences, University of Melbourne, Melbourne (Australia); (8) Moreno Di Marco asal School of Earth and Environmental Sciences, The University of Queensland, Brisbane (Australia) dan CSIRO Land & Water, EcoSciences Precinct, Dutton Park (Australia).

 

 

Oleh: Servas Pandur