• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Perlindungan Terumbu Karang Di Lingkungan Kian Rapuh

Dari Washington di Amerika Serikat (AS), National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2019) merilis lapoan tentang kajian pendekatan baru menyelamatkan terumbu karang yang akhir-akhir ini terus terancam oleh perubahan iklim, dan bagaimana pemerintah setempat dan para-pemangku kepentingan di berbagai negara, dapat menilai risikonya dan merumuskan respons kebijakan dan program pelindungan terumbu-karang (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine. 2019. A Research Review of Interventions to Increase the Persistence and Resilience of Coral Reefs. Washington, DC: The National Academies Press).

Laporan riset dan kajian itu didanai oleh National Oceanic and Atmospheric Administration dan Paul G. Allen Family Foundation di Amerika Serikat. Sedangkan lembaga-lembaga kontributor antara lain National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine; Division on Earth and Life Studies; Ocean Studies Board; Board on Life Sciences; Committee on Interventions to Increase the Resilience of Coral Reefs asal Amerika Serikat.

Menurut lembaga akademi nasional AS itu, sejak 1980-an, cakupan terumbu karang tropis di seluruh dunia, menurun sekitar 30% hingga 50%. Faktor penyebab penurunan ini ialah (1) polusi, (2) perusakan habitat, (3) penangkapan ikan yang berlebihan, (4) penyakit, dan (5) perubahan iklim. Emisi gas rumah kaca dan peningkatan suhu laut dan konsentrasi karbon dioksida (CO2) memicu pemutihan karang, wabah penyakit, dan pengasaman laut (OA).

“Maintaining the stability of coral reefs in the face of local and climate stressors is a key goal for supporting human well-being around the world. Many new interventions have promise for these efforts, but they differ widely in their readiness levels, and implementing them will require careful attention to regional contexts,” papar Stephen R. Palumbi, PhD, ketua komite beranggotakan 12 orang yang menulis laporan ini, dan Jane and Marshall Steel Jr. Professor pada Marine Sciences, Stanford University di Amerika Serikat (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 12/6/2019).

Kenaikan suhu air laut meningkatkan frekuensi pemutihan massal (mass bleaching events) dan memicu wabah penyakit. Ketika air laut menjadi lebih asam, karena menyerap karbon dioksida, karang semakin sulit tumbuh dan sulit mempertahankan kerangkanya. Kerusakan terumbu karang memicu risiko bagi manusia, khususnya masyarakat pesisir yang bergantung pada terumbu lokal untuk penangkapan ikan dan pariwisata. Terumbu karang juga menyerap energi dari gelombang yang melewatinya, sehingga melindungi masyarakat pantai dari badai.

Ilmuwan pada National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2019) di AS berupaya mengembangkan cara-cara baru melindungi terumbu karang di lingkungan perubahan iklim dan pemanasan global akhir-akhir ini. Dalam 2-5 tahun ke depan, hasil berbagai riset dan uji-coba dapat digunakan untuk meningkatkan daya-tahan terumbu karang terhadap kenaikan pemanasan global, misalnya antibiotik pengobatan penyakit, mencampur air dingin ke habitat terumbu, atau menaungi karang dari sinar matahari dan panas.

Usul intervensi lainnya ialah menggunakan alat-alat seperti CRISPR / Cas9 untuk memanipulasi karang secara genetik agar lebih tahan terhadap risiko kenaikan suhu air laut. Namun, usul-usul ini membutuhkan penelitian, kajian, dan pengembangan lebih lanjut sekurang-kurangnya selama satu dekade lagi. “Though all of these interventions entail some risk, the risk from doing nothing is increasing year by year,” ungkap Nancy Knowlton, anggota komite 12, penulis laporan itu (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 12/6/2019).

Pilihan dan pelaksanaan intervensi khusus atau kombinasi intervensi, menurut laporan itu, bergantung pada banyak faktor yaitu (1) kesiapan teknis, (2) latar-belakang sosial dan ekologis khusus, (3) faktor-faktor setempat seperti tingkat degradasi terumbu karang, kualitas air, sumber daya dan infrastruktur setempat, dan (4) partisipasi para pemangku kepentingan dalam menetapkan pilihan intervensi, tujuan, dan tindakans sesuai dengan tradisi dan nilai-nilai masyarakat setempat.“Stakeholder engagement enables choosing interventions with expected outcomes that align with the goals of the community,” papar anggota komite penulis laporan, Profesor Marissa L. Baskett, ahli sains lingkungan dan kebijakan pada  University of California, Davis (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 12/6/2019).

Laporan National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine (2019) mengusulkan pendekatan “manajemen adaptif” dalam membuat keputusan intervensi; pendekatan ini mengakui ketidakpastian dan melibatkan pembelajaran guna menyesuaikan dan meningkatkan strategi seiring waktu. Tahap pertama siklus manajemen adaptif adalah menetapkan tujuan dan sasaran bersama dengan para pemangku kepentingan. Model-model terumbu karang setempat dan perubahannya akibat intervensi adalah alat evaluasi dan perbandingan berbagai strategi intervensi terhadap terumbu karang serta menilai risiko tiap intervensi dengan risiko tanpa intervensi.

“The science of coral reef interventions is still young, and particular environments may respond to them in different ways. So using a structured and adaptive decision-making approach allows managers to make decisions even when there is uncertainty,” papar  Stephen Palumbi (National Academies of Sciences, Engineering, and Medicine, 12/6/2019).

 

 

 

 

 

 

Oleh Servas Pandur