• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Konsumsi Rokok Per Kapita Terus Meningkat di Negara RI

Saat ini sangat urgen kebutuhan Pemerintah negara-negara atau masyarakat berpenghasilan rendah dan menengah untuk mengatasi lonjakan konsumsi rokok. Framework Convention on Tobacco Control (Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau / Rokok) dari World Health Organization (WHO), badan kesehatan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) tidak terbukti secara statistik menurunkan konsumsi rokok di seluruh dunia. Begitu hasil riset Profesor Steven J. Hoffman asal The Dahdaleh Institute for Global Health Research, Faculty of Health, and Osgoode Hall Law School dan koleganya asal Kanada (Steven J Hoffman et al, 2019).

“The policies promoted by this treaty - plain packaging, smoke-free areas, tobacco taxes - have been monolithically proven to be effective. What this study shows is that it's probably not enough at the global level to recognize these policies as important or to formally adopt them. We need countries to implement them to make sure they're affecting people's lives around the world. If not, what's at stake, according to the WHO, is one billion people around the world might die from tobacco consumption in the 21st century,” papar Profesor Steven J. Hoffman, lead-author studi ilmiah itu (York University, 20/6/2019).

Hasil riset dan kajian itu dirilis oleh jurnal British Medical Journal (BMJ) edisi 13 Mei 2019 (Steven J Hoffman et al, “Impact of the WHO Framework Convention on Tobacco Control on global cigarette consumption: quasi-experimental evaluations using interrupted time series analysis and in-sample forecast event modelling”, BMJ (2019).

Riset itu melibatkan ilmuwan yaitu (1) Profesor Steven J Hoffman asal Global Strategy Lab, Dahdaleh Institute for Global Health Research, Faculty of Health and Osgoode Hall Law School, York University, 4700 Keele Street, Dahdaleh Building 2120, Toronto, Ontario, M3J 1P3, Kanada; Department of Global Health and Population, Harvard T H Chan School of Public Health, Harvard University, Boston, MA, Amerika Serikat; Department of Health Research Methods, Evidence, and Impact and McMaster Health Forum, McMaster University, Hamilton, Kanada; dan School of Epidemiology and Public Health, Faculty of Medicine, University of Ottawa, Ottawa, Kanada;

(2) Assistant Professor Mathieu J P Poirier asal Global Strategy Lab, Dahdaleh Institute for Global Health Research, Faculty of Health and Osgoode Hall Law School, York University, 4700 Keele Street, Dahdaleh Building 2120, Toronto, Ontario, M3J 1P3, Kanada; Department of Health Research Methods, Evidence, and Impact and McMaster Health Forum, McMaster University, Hamilton, Kanada; School of Kinesiology and Health Science, Faculty of Health, York University, Toronto, Kanada;

(3) Manajer research fellow Susan Rogers Van Katwyk asal Global Strategy Lab, Dahdaleh Institute for Global Health Research, Faculty of Health and Osgoode Hall Law School, York University, 4700 Keele Street, Dahdaleh Building 2120, Toronto, Ontario, M3J 1P3, Kanada; School of Epidemiology and Public Health, Faculty of Medicine, University of Ottawa, Ottawa, Kanada;

(4) Research fellow Prativa Baral asal Global Strategy Lab, Dahdaleh Institute for Global Health Research, Faculty of Health and Osgoode Hall Law School, York University, 4700 Keele Street, Dahdaleh Building 2120, Toronto, Ontario, M3J 1P3, Kanada; dan (5) Research Manager Lathika Sritharan asal Global Strategy Lab, Dahdaleh Institute for Global Health Research, Faculty of Health and Osgoode Hall Law School, York University, 4700 Keele Street, Dahdaleh Building 2120, Toronto, Ontario, M3J 1P3 Kanada.

Riset tim ahli itu dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, Hoffman dan co-author asisten profesor Mathieu Poirier, menganalisis data 71 negara yang mewakili 95% konsumsi tembakau dunia dan lebih dari 80% populasi dunia tahun 1970 - 2015. Hasilnya, konsumsi rokok turun di sebagian besar negara, namun tren konsumsi bervariasi dari satu negara ke negara, khususnya negara-negara berpenghasilan rendah (Science Daily, 20/6/2019).

Akses data terbuka tiap negara per tahun tentang penjualan, produksi, impor, dan ekspor dikompilasi oleh tim ilmuwan itu. Para peneliti menemukan penurunan umum konsumsi rokok per kapita sejak sekitar tahun 1985 pada lima dari sepuluh negara konsumen rokok : Amerika Serikat, Jepang, Polandia, Brasil, dan Jerman. Amerika Serikat. Sejak awal 1980-an, konsumsi rokok pada Kanada, dan Australia menunjukan tren menurun; sedangkan negara-negara Amerika Latin dan Karibia hanya mengalami sedikit penurunan. Konsumsi rokok per kapita terus naik di Tiongkok dan Negara RI. Di Tiongkok,  misalnya, konsumen rokok mencapai lebih dari 2,5 juta metrik ton tahun 2013.

Kedua, Hoffman dan timnya menggunakan data dari studi pertama dan melihat konteks Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang diratifikasi oleh 181 negara sejak 2003. Penelitian ini menggunakan dua metode eksperimen yakni interrupted time-series analysis (ITS) dan in-sample forecast event modelling. Hasilnya, tidak ada perubahan signifikan tingkat konsumsi rokok global setelah adopsi perjanjian FCTC (Science Daily, 20/6/2019)

Pasca 2003, negara-negara berpenghasilan tinggi per kapita dan Eropa mengalami penurunan konsumsi tahunan lebih dari 1.000 batang per orang dewasa; sedangkan negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah dan negara-negara Asia menunjukkan peningkatan lebih dari 500 batang per tahun per orang dewasa. Karena itu, Hoffman dan timnya menyarankan bahwa Pemerintah dan Rakyat negara-negara berpenghasilan rendah-menengah, perlu menerapkan pedoman ketat kontrol konsumsi rokok atau tembakau.

“This study sets a new gold standard for how to evaluate international laws. The FCTC was widely celebrated at the time it was launched and no one has actually evaluated that treaty on a global level until now,” ungkap Assistant Professor Mathieu J P Poirier, cou-author studi ilmiah itu (York University, 20/6/2019). 

 

 

Oleh: Servas Pandur