• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Bakteri Kulit Selamatkan Katak Dari Virus Mematikan

“Microbiome”, bakteri (bacteria) yang hidup pada kulit katak di Eropa, menyelamatkan katak (amfibi) dari ranavirus, satu jenis virus mematikan. Ranavirus membunuh sejumlah besar katak di Eropa - spesies yang paling sering terlihat dalam kolam-kolam di Inggris - dan termasuk satu dari banyak ancaman terhadap kehidupan amfibi (katak) di seluruh dunia. Begitu hasil penelitian sejumlah ilmuwan pada University of Exeter di Exeter, Devon, South West England (Inggris) dan Institute of Zoology, divisi penelitian Zoological Society of London di Inggris (Lewis J. Campbell, et al, 2019).

Tim ilmuwan itu membandingkan microbiome dengan kelompok-kelompok ranavirus. Hasilnya, populasi katak dengan riwayat wabah memiliki microbioma kulit “berbeda”,  jika dibandingkan dengan populasi katak yang tidak mengalami riwayat terserang wabah. Hasil riset tim ilmuwan itu dirilis oleh jurnal Frontiers in Microbiology, edisi 21 Juni 2019 (Lewis J. Campbell, Trenton W. J. Garner, Kevin Hopkins, Amber G. F. Griffiths, Xavier A. Harrison, Outbreaks of an Emerging Viral Disease Covary With Differences in the Composition of the Skin Microbiome of a Wild United Kingdom Amphibian”, Frontiers in Microbiology, 2019).

“Ranavirus is widespread, but its presence in the environment doesn't necessarily mean frogs become diseased - there appears to be some other factor that determines this. The skin is often the first infection point in ranavirus, and the first stage of the disease can be skin sores. Whether a population of frogs becomes diseased might depend on the species of bacteria living on their skin,” ungkap Dr. Lewis Campbell (University of Exeter, 21/6/2019).

Dr. Lewis Campbell dan tim peneliti itu menguji bakteri yang hidup pada kulit lebih dari 200 katak umum dewasa liar di Eropa (Rana temporaria) pada sepuluh populasi. Mereka menemukan bahwa mikrobioma katak biasanya sangat mirip dengan miokrobioma katak lainnya dalam populasi yang sama (tinggal di wilayah geografis yang sama); tetapi populasi katak dengan riwayat penyakit yang sama, lebih mirip satu sama lain, daripada populasi katak dengan riwayat penyakit berbeda. Meskipun amfibi dapat secara parsial menjaga mikrobioma-nya dengan menghasilkan protein-protein yang bermanfaat bagi bakteria tertentu di lingkungannya; namun, ranavirus dapat memusnahkan seluruh populasi katak (Science Daily, 21/6/2019).

“There's growing evidence that skin bacteria may protect amphibians from lethal pathogens such as chytrid fungus, and that we can develop cocktails of probiotic bacteria to prevent vulnerable individuals from contracting disease. Our work suggests that given enough effort and research, similar probiotic therapies may be effective against ranavirus,” Dr. Xavier Harrison (University of Exeter, 21/6/2019).

Proyek riset itu didanai oleh (1) Natural Environment Research Council, lembaga yang melayani sains lingkungan di Inggris; (2) Royal Society (The Royal Society of London for the Improvement of Natural Knowledge), wadah organisasi sejak 1660 untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Inggris dan mendapat piagam dukungan dari Raja Charles II Inggris tahun 1662; dan (3) Marie Curie Foundation, wadah oganisasi karitas di Inggris yang melayani perawatan dan dukungan bagi orang-orang yang mengalami ‘terminal illnesses’ dan keluarganya.

Proyek riset itu melibatkan ilmuwan yaitu (1) Dr. Lewis J. Campbell asal Environment and Sustainability Institute, University of Exeter, Penryn, Inggris dan Institute of Zoology, Zoological Society of London, London, Inggris; (2) Trenton W. J. Garner, BSc, MSc, PhD, asal Institute of Zoology, Zoological Society of London, London, Inggris; (3) Kevin Hopkins asal Institute of Zoology, Zoological Society of London, London, Inggris;  (4) Amber G. F. Griffiths asal FoAM Kernow, Penryn, Inggris; (5) Xavier A. Harrison, PhD, asal Institute of Zoology, Zoological Society of London, London, Inggris dan College of Life and Environmental Sciences, University of Exeter, Exeter, Inggris.

Oleh: Servas Pandur