• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Beberapa Pohon Picu Intensifikasi Kekeringan

Pohon-pohon dan tanaman memengaruhi cuaca (weather); cara beberapa pohon menggunakan air dapat meningkatkan kekeringan.  Untuk adaptasi terhadap kekeringan dan panas, beberapa pohon dan tanaman berupaya mendinginkan dirinya. Caranya ialah menghabiskan air tanah sehingga memicu intensifikasi kekeringan. Begitu hasil riset dan kajian dari assistant professor biologi William Anderegg, Anna Trugman, dan Profesor biologi David Bowling asal University of Utah di Amerika Serikat. Hasil riset tim ahli ini dirilis oleh jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, edisi 2019 (William Anderegg, et al, 2019).

“We've known for a long time that plants can affect the atmosphere and can affect weather. We show that the actual physiology of the plants matters. How trees take up, transport and evaporate water can influence societally important extreme events, like severe droughts, that can affect people and cities,” ungkap William Anderegg (University of Utah, 24/6/2019).

William Anderegg dan timnya menggunakan informasi dari 40 situs dari seluruh dunia, dari Kanada hingga Australia. Di setiap lokasi, instrumen riset mengumpulkan data tentang aliran panas, air dan karbon masuk dan keluar dari udara, serta spesies pohon yang lazim tumbuh di sekitar instrumentasinya. Kemudian tim ahli itu membandingkan data dengan data base sifat-sifat pohon sehingga memungkinkan para peneliti menarik kesimpulan tentang sifat-sifat (traits)  dan pohon dan beberapa tanaman yang sangat berkaitan dengan intensifikasi kekeringan.

William Anderegg mempelajari sifat-sifat pohon memengaruhi hutan mengatasi dan menghadapi keadaan panas dan kering. Hasilnya, beberapa tanaman dan pohon memiliki sistem pipa internal yang memperlambat pergerakan air, membantu tanaman meminimalkan kehilangan air ketika panas dan kering. Tetapi tanaman lain memiliki sistem yang lebih cocok mengangkut uap air dalam jumlah besar ke udara, bukaan lebih besar pada daun, lebih banyak kapasitas memindahkan air dalam organisme.

Proyek riset terbaru William Anderegg dan koleganya berupaya mengetahui: Bagaimana sifat-sifat pohon tersebut memengaruhi kekeringan itu sendiri? Tumbuhan dan hutan mengeluarkan air dari tanah dan menghembuskannya ke atmosfer, memengaruhi keseimbangan air dan panas di permukaan planet kita (Bumi), yang secara fundamental mengendalikan cuaca. Dalam beberapa kasus, seperti di hutan hujan Amazon (Brazil), semua uap air dapat memicu curah hujan. Bahkan deforestasi dapat memengaruhi cuaca melawan angin dengan membuat daerah lebih kering dari sebelumnya.

Dua ciri atau sifat menonjol dari pohon dan tanaman yaitu (1) maksimum penukaran gas daun dan (2) transportasi air. Sifat pertama, tingkat daun dapat memompa uap air ke udara; sifat kedua, berapa banyak air yang bisa dipindahkan pohon ke daun.

Hasil riset William Anderegg dan koleganya menemukan bahwa di daerah dingin, tanaman dan pohon memperlambat penggunaan air sebagai respons terhadap penurunan kelembaban tanah. Tetapi di iklim panas, beberapa tanaman dan pohon dengan transportasi air tinggi dan tukar-menukar gas daun mendongkrak pendinginan (AC), sehingga ketika tanah kering, kehilangan lebih banyak air dalam upaya melakukan fotosintesis dan tetap dingin saat menipis sisa kelembaban tanah.

Hasil riset William Anderegg dan koleganya sangat bermanfaat untuk memahami antara sifat-sifat pohon dan kondisi kekeringan guna membantu para ilmuwan iklim, Pementah dan Rakyat  tiap negara dan daerah untuk merencanakan dampak kekeringan di masa datang terhadap masyarakat dan lingkungannya.  “You end up getting to these conditions that are hotter and drier much faster with those plants than with other plants. Failing to account for this key physiology of plants would give us less accurate predictions for what climate change is going to mean for drought in a lot of regions,” ungkap William Anderegg (University of Utah, 24/6/2019).

Iklim tidak sama dengan cuaca. Meskipun cuaca bersifat jangka pendek, seperti ramalan cuaca lima hari pada laporan berita sore; iklim adalah pola cuaca dalam jangka waktu yang lama, biasanya 30 tahun. Iklim planet kita sedang memanas—kenaikan sekitar 1 hingga 1 1/2 derajat dari abad silam. Di sisi lain, apohon-pohon secara positif dan negatif memengaruhi iklim planet kita, dan, pada gilirannya, memengaruhi pula cuaca planet kita (The Guardian, 2006).

 

Oleh: Servas Pandur