• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Masa Depan Air Di ‘Kutub Ketiga’ Bumi

Himalaya, Karakoram dan Hindu Kush lazim dilabel ‘kutub ketiga’ (third pole) planet Bumi. Karena ketiga pegunungan di Asia itu menyediakan air minum—air kehidupan—untuk keragaman hayati, tanaman dan lebih dari 1 (satu) miliar penduduk atau 1/7 penduduk planet Bumi awal abad 21. Salju dan gletser pada ketiga pegunungan ini mengandung volume air tawar (fresh water) terbesar selain lapisan es kutub Bumi.

Hasil data satelit kira-kira 40 tahun terakhir tentang Kutub Ketiga planet Bumi itu, menunjukkan bahwa semua gletser di Pegunungan Himalaya mulai raib dan kehilangan es dengan rata-rata dua kali lipat selama 25 tahun pertama 1975-2000 dan 16 tahun terakhir 2000-2016. Kesimpulan analisis data satelit 40 tahun ini berasal dari tim ilmuwan yang terlibat dalam proyek High Mountain Asia Team (HiMAT) dari NASA (National Aeronautics and Space Administration) selama 2016-2019 (NASA’s Earth Science News Team, 26/6/019).

“The explosive growth of satellite technology has been incredible for this region. We can do things now that we couldn't do ten years ago - and ten years ago we did things we couldn't do before that”, papar Dr. Jeffrey S. Kargel, ilmuwan senior pada Planetary Science Institute di Tucson, Arizona, dan ketua tim HiMAT-NASA khusus studi danau gletser (Carol Rasmussen/ Sara Blumberg, 26/6/2019).

Kemajuan teknologi komputer juga memudahkan tim peneliti NASA itu memproses banyak data guna membuat prakiraan cuaca pada topografi yang kian rumit. Tim HiMAT Arendt memadukan beragam jenis hasil pengamatan satelit dan model numerik guna membuat perkiraan tentang air di zona Kutub Ketiga. Sejumlah kelompok data hasil karya tim HiMAT telah diunggah ke Distributed Active Archive Center pada National Snow and Ice Data Center, NASA. Hasilnya ialah produk baru Glacier and Snow Melt (GMELT) Toolbox.

GMELT menyediakan kompilasi pengetahuan saat ini tentang salju, es, dan air dan perubahan selama beberapa dekade terakhir di Kutub Ketiga. GMELT juga menyediakan sejumlah sumber daya (resources) baru guna membantu perencanaan dan persiapan Rakyat dan Pemerintah, menghadapi masa datang di wilayah ini.

Tim ahli HiMAT dari NASA dipimpin oleh Anthony Arendt, PhD, asal University of Washington di Amerika Serikat, melakukan survei sangat lengkap tentang salju, es dan air pada Kutub Ketiga dan bagaimana salju, es dan air di zona yang dilabel ‘a hard-prediction-region’ itu, berubah hingga saat ini. Proyek riset HiMAT dari NASA terbagi ke dalam 13 kelompok kordinasi riset yang mempelajari tiga dekade kawasan ini pada tiga bidang utama yakni cuaca dan iklim; es dan salju; dan risiko dan dampak hilir dari perubahan-perubahan itu. Tahun-tahun awal data satelit diambil dari data satelit mata-mata yang tidak termasuk jenis data klasifikasi (NASA/Goddard Space Flight Center, 26/6/2019).

Tim HiMAT dari NASA juga mencatat bahwa debu, jelaga, dan polusi di permukaan bumi termasuk satu faktor pokok berdampak terhadap pencairan atau penyusutan salju dan es masa datang. Salju putih murni mencerminkan lebih dari 90% radiasi matahari kembali ke atmosfer. Tetapi ketika salju diselimuti oleh partikel jelaga atau debu berwarna gelap, lapisan ini menyerap lebih banyak panas dan salju meleleh lebih cepat.

Tim HiMAT NASA merujuk pada hasil riset ilmiah selama ini bahwa alasan Zaman Es Kecil berakhir di Eropa adalah lapisan jelaga dari Revolusi Industri, yang tersimpan di Pegunungan Alpen. Selama 35 tahun terakhir di Asia, jumlah jelaga yang tersimpan di salju pegunungan, meningkat tajam. Jika jelaga dan debu masuk atau tersimpan di salju, partikel berwarna gelap itu menyerap lebih banyak panas dan salju meleleh lebih cepat (Carol Rasmussen/ Sara Blumberg, 26/6/2019).

Karena itu, satu tim HiMAT yang dipimpin oleh Thomas H. Painter, PhD, asal University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, meneliti khusus sajlu, es, partikel debu, dan jelaga di zona Kutib Ketiga, dengan menggunakan data satelit Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) dan NOAA/NASA Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS) dari NASA.

Tim HiMAT lainnya yang dipimpin oleh Sarah Kapnick, PhD, dari NOAA (The National Oceanic and Atmospheric Administration) di Amerika Serikat, meneliti partikel debu dan jelaga dalam model-model iklim global guna memahami sejarah dan perkiraan perubahannya pada masa datang. Sedangkan Summer Rupper asal University of Utah di Salt Lake City, Amerika Serikat, memimpin riset dan kajian tentang tantangan-tantangan cuaca masa datang. Tim Rupper mengembangkan model yang memilah es dan salju pada zona Kutub Ketiga selama musim hujan dan badai musim dingin.

Anggota tim HiMAT merilis makalah ilmiah tentang kesimpulan hasil riset tersebut pada jurnal Science Advances edisi 19 Juni 2019. Kesimpulan pokoknya antara lain pada tahun 2100, sekitar 35% - 75% volume gletser zona Kutub Ketiga, bakal menyusut atau raib akibat pencairan sangat cepat.

Dampak penyusutan volume gletser pada Kutub Ketiga terhadap curah hujan dan salju turun, belum jelas. Saat ini, curah hujan sangat beragam dari satu kawasan ke kawasan lain zona Kutub Ketiga; variasi hujan turun sangat bergantung pada musim hujan dan aliran badai musim dingin ke zona ini. Misalnya, curah hujan saat ini meningkat di Karakoram Range, zona gletser stabil atau maju, tetapi di setiap rentang zona lainnya wilayah ini, hampir semua gletser menyusut. Perubahan-perubahan itu bakal memengaruhi kehidupan dan pola tanam penduduk di India, Pakistan, Tiongkok dan negara-negara sekitarnya.

“Global climate dynamics will dictate where storms end up and how they intercept the mountains. Even small changes in the tracking of the storms can create significant variability,” ungkap Anthony Arendt, PhD (Carol Rasmussen/ Sara Blumberg, 26/6/2019).

 

Oleh: Servas Pandur