• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Risiko Lonjakan Infrastruktur Jalan & Deforestasi di Kongo

Hutan-hutan Cekungan Kongo di Afrika, memiliki kekayaan kehidupan luar biasa selama ini. Karena zona hutan Cekungan Kongo merupakan wilayah hutan hujan ke-2 terbesar di dunia. Namun, pesatnya pembangunan jalan-jalan untuk logging di Cekungan Kongo, Afrika, memicu bencana alam dan kehancuran hayati khususnya binatang-binatang yang hidup di zona hutan hujan terbesar ke-2 di dunia itu (Science Daily, 24/6/2019).

Kehancuran hutan-hutan hujan Cekungan Kongo, dipicu oleh pembangunan jalan-jalan tidak beraspal untuk logging yang digunakan oleh perusahan-perusahan kayu, jalan aspal dan tidak aspal untuk umum hingga 4 (empat) kali lipat sejak 2000 di hutan hujan Cekungan Kongo. Begitu hasil riset kolaborasi tim ilmuwan asal Australia, Swiss, Belanda, Amerika Serikat, dan Inggris yang dirilis oleh jurnal Nature Sustainability, edisi 24 Juni 2019.

Profesor Bill Laurance asal James Cook University, Australia, memimpin riset kolaborasi ilmuwan itu. Dengan menggunakan imej satelit, Profesor Bill Laurance dan timnya  membuat pemetaan semua jalan di wilayah Kongo. Tim ilmuwan itu menemukan bahwa sejak tahun 2003, total jalan telah meningkat hampir 100.000 km—dari total 144.000 km menjadi 231.000 km. Dampaknya, banyak pembangunan jalan industri kehutanan di Afrika telah merusak ekosistem, menghancurkan dan memfragmentasi hutan-hutan serta menghancurkan kehidupan hayati atau satwa liar di hutan-hutan (Fritz Kleinschroth, et al, 2019).

“The situation in the Congo Basin is scary on top of more scariness. New roads are opening a Pandora's box of activities such as illegal deforestation, mining, poaching and land speculation. Industrial logging is a key economic driver for much of the road building. Some logging roads are abandoned, but many are used by slash-and-burn farmers and poachers to penetrate deep into surviving rainforests. As a result, the global population of forest elephants has collapsed by two-thirds over the past decade. Elephants, gorillas and chimps hardly have anywhere to hide from poachers now,” papar Profesor Bill Laurance, yang sudah bekerja selama 15 tahun di Afrika (James Cook University, 24/6/2019).

Di Cekungan Kongo, zona konsesi penebangan hutan, sekitar 44% jalan ditinggalkan tahun 2018; hanya 12% jalan di luar konsesi. Deforestasi per tahun antara 2000-2017 di dekat pembangunan jalan-jalan (dalam jarak 1 km) meningkat dan tertinggi untuk jalan lama, terendah untuk jalan yang ditinggalkan dan umumnya lebih tinggi di luar konsesi pembalakan hutan (Fritz Kleinschroth, et al, 2019).

Riset dan studi ilmiah itu melibatkan kolaborasi ilmuwan dari sejumlah negara yaitu (1) Dr. Fritz Kleinschroth asal Department of Environmental Systems Science, ETH Zurich, Zurich di Swiss; (2) Nadine Laporte asal School of Forestry, Northern Arizona University, Flagstaff, AZ, Amerika Serikat; (3) Profesor William F. Laurence asal Centre for Tropical Environmental and Sustainability Science, College of Science and Engineering, James Cook University, Cairns, Queensland, Australia;

(4) Scott J. Goetz asal School of Informatics, Computing and Cyber Systems, Northern Arizona University, Flagstaff, AZ di Amerika Serikat; dan (5) Jaboury Ghazoul asal Department of Environmental Systems Science, ETH Zurich, Zurich, Swiss; Ecology and Biodiversity Group, Utrecht University, Utrecht, Belanda; dan Centre for Sustainable Forests and Landscapes, University of Edinburgh, Edinburgh, Inggris. (Fritz Kleinschroth, Nadine Laporte, William F. Laurence, Scott J. Goetz dan Jaboury Ghazoul, “Road expansion and persistence in forests of the Congo Basin” Nature Sustainability, June 24, 2019).

Tim ilmuwan itu mengajukan usul bahwa industri kehutanan dan pembangunan jalan-jalan pada zona-zona pedalaman hutan harus merawat satwa dan hayati liar dan keutuhan kehidupan di hutan-hutan, antara lain melakukan tebang-pilih.  “This suggests that there's considerable scope to make industrial logging less damaging to forests. An especially promising strategy is for logging companies to block roads or destroy bridges over creeks after they've harvested the timber. Of course, we'd greatly prefer to have pristine forests. But African nations must earn money from their forests, and if better managed, selective logging could provide income and be a lot less destructive,” papar Profesor Bill Laurance (James Cook University, 24/6/2019).

Bencana kerusakan ekosistem hutan akibat pembangunan jalan-jalan dan kegiatan industri penambangan, bukan hanya terjadi di Afrika, tetapi juga risiko serupa terjadi di Asia dan Amerika Selatan.  “Corruption and a massive influx of aggressive foreign developers is the biggest worry, along with rapid population growth. It all leads to destructive development and road building. China in particular has the most predatory practices for logging, mining and road building in Africa. Many Africans are starting to see this, and I just hope something can be done in time,” ungkap Profesor Bill Laurance (James Cook University, 24/6/2019).

Selama ini, deforestasi mengancam kehidupan umat manusia dan spesies mahluk hidup lainnya serta ekosistemnya. Sumbangan terbesar dari perubahan iklim yang terjadi saat ini diakibatkan oleh deforestasi. Karena deforestasi mencakup penebangan hutan atau pohon-pohon dari lahan untuk mengalih-fungsikannya kepada sektor non-hutan seperti pertanian, infrastruktur jalan, peternakan, perkotaan, dan pertanian (non-forest use). Jadi, doferestasi mengubah peruntukan lahan hutan menjadi lahan non-hutan. Doferestasi selama ini terutama terjadi di zona hutan hujan tropis (Alina Bradford, 2015). Sekitar 31% pemukaan lahan planet Bumi ditutup oleh hutan-hutan (WWF, 2016). 

 

 

Oleh: Servas Pandur