• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Ratusan Ikan Hiu dan Pari Terperangkap Sampah Plastik

Akhir-akhir ini, sejumlah jenis ikan laut terjerat dalam sampah-sampah puing-puing di laut (anthropogenic marine debris); jenis ikan yang sering terperangkap antara lain ikan bertulang rawan (Kelas Chondrichthyes misalnya elasmobranch: hiu, skate dan pari, holocephalans: chimaeras) (KJ Parton et al, 2019).

Ilmuwan asal University of Exeter di Inggris baru-baru ini meneliti ikan-ikan hiu dan pari yang terperangkap dalam anthropogenic marine debris dengan membandingkan data hasil tinjauan pustaka  karya ilmiah dan data baru dari situs media sosial Twitter. Hasil riset tim ilmuwan itu dirilis oleh jurnal Endangered Species Research, 2019 (KJ Parton, TS Galloway, BJ Godley, “A global review of shark and ray entanglement in anthropogenic marine debris”, Endangered Species Research, 2019).

"One example in the study is a shortfin mako shark with fishing rope wrapped tightly around it. The shark had clearly continued growing after becoming entangled, so the rope -- which was covered in barnacles -- had dug into its skin and damaged its spine,” ungkap Kristian Parton dari Penryn Campus, Centre for Ecology and Conservation, University of Exeter di Cornwall, Inggris (University of Exeter, 4/7/2019).

Hasil riset ilmuwan itu menemukan, bahwa 47 peristiwa elasmobranch terjerat atau terperangkap dalam sampah-sampah atau puing plastik di laut (N = 557 hewan) pada 26 makalah ilmiah; 16 keluarga ikan berbeda dan 34 spesies terperangkap atau terjerat dalam sampah atau puing plastik di Lautan Atlantik, Lautan Pasifik, dan Lautan India.

Benda penjerat paling umum adalah alat tangkap “hantu” (ghost fishing gear)—misalnya jaring dan peralatan lain yang sudah menjadi sampah di laut--sebesar 74% hewan, diikuti oleh tali pengikat polipropilen (polypropylene strapping bands)  sebanyak 11% hewan, serta penjerat lainnya misalnya sampah plastik bundar, kantong plastik dan ban karet yang menjerat sekitar 1%  dari total hewan terjerat di laut (KJ Parton et al, 2019).

Dari data Twitter, tim ilmuwan itu menemukan 74 kasus elasmobranch  yang terperangkap dan mewakili 14 keluarga dan 26 spesies; alat tangkap “hantu” paling sering menjebak dan memerangkap ikan-ikan (94,9% hewan) yang sebagian besar terjadi di Samudera Atlantik (89,4% dari total hewan yang terjerat). Terperangkapnya hewan-hewan pada puing-puing dan sampah di laut merupakan gejala lingkungan laut terdegradasi dan sangat merusak atau mengganggu kehidupan hewan, khususnya ikan, di laut selama ini.

Kristian J. Parton et al (2019) menyimpulkan bahwa terperangkapnya ikan-ikan dan hewan laut lainnya pada puing-puing dan sampah laut mungkin masih merupakan ancaman lebih kecil terhadap kelestarian kehidupan di lautan; namun, keselamatan kehidupan hewan-hewan (animal welfare) misalnya sakit, perih, hingga kematian hewan-hewan, masih sedikit mendapat perhatian dan standardisasi pelaporan data di berbagai negara.

“Although we don't think entanglement is a major threat to the future of sharks and rays, it's important to understand the range of threats facing these species, which are among the most threatened in the oceans. Additionally, there's a real animal welfare issue because entanglements can cause pain, suffering and even death,” ungkap Kristian J. Parton (University of Exeter, 4/7/2019).

Tim ilmuwan itu menyebut contoh hasil kajian naskah akademik yang melaporkan 557 hiu (shark) dan ikan pari (ray) terperangkap dalam sampah plastik di laut; jumlah itu terdiri dari 34 spesies yang hidup di lautan Atlantik, Pasifik, dan India. Hampir 60% hewan-hewan ini terdiri dari sedikit dogfish sedikit, ratfish tutul atau dogfish berduri. Sedangkan dari data baru Twitter, tim ilmuwan itu menemukan laporan 74 kasus yang terdiri dari 559 ikan hiu dan ikan pari dari 26 spesies termasuk hiu paus, putih besar, hiu harimau dan hiu “berjemur” (basking sharks) (Science Daily, 4/7/2019).

“Due to the threats of direct over-fishing of sharks and rays, and 'bycatch' (accidental catching while fishing for other species), the issue of entanglement has perhaps gone a little under the radar. We set out to remedy this. Our study was the first to use Twitter to gather such data, and our results from the social media site revealed entanglements of species - and in places - not recorded in the academic papers,” papar Profesor Brendan Godley, co-coordinator bidang strategi kelautan University of Exeter dan co-author studi ilmiah itu (University of Exeter, 4/7/2019).

Studi ilmiah itu juga menyebut faktor-faktor risiko spesies ikan terperangkap di laut yakni (1) faktor habitat - hiu dan pari di laut terbuka, tampaknya lebih mungkin terjerat, seperti halnya ikan-ikan atau hewan yang hidup di dasar laut; (2) faktor migrasi - spesies yang menempuh jarak jauh lebih berisiko menghadapi sampah plastik; dan (3) faktor bentuk tubuh - hiu memiliki risiko lebih besar daripada sinar; spesies dengan fitur yang tidak biasa - seperti pari manta, hiu berjemur dan ikan hiu (Science Daily, 4/7/2019). 

Oleh: Servas Pandur