• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Teknologi ‘Mata’ Otopilot Untuk Pendaratan Otomatis Pesawat

Pendaratan otomatis (automatic landing) telah menjadi prosedur standar pesawat komersial selama ini. Akhir Mei 2019, tim peneliti pada Technical University of Munich (TUM) dan TU Braunschweig di Jerman, berhasil melakukan uji-coba pendaratan pesawat secara otomatis (automatic landing) dengan bantuan penglihatan melalui teknologi sistem referensi optik (an optical reference system) berbasis kamera—ibarat ‘mata’ otopilot—di lapangan terbang Diamond Aircraft, Austria. Teknologi ini berfungsi lebih dahulu sebelum pendaratan, tanpa bantuan sistem pendaratan dari darat (M. E. Kügler, et al, 2019).

Riset itu melibatkan sejumlah ilmuwan yaitu M. E. Kügler dari Technical University of Munich, N. C. Mumm asal Technical University of Munich, F. Holzapfel asal Technical University of Munich, A. Schwithal asal Technical University of Braunschweig, dan M. Angermann asal Technical University of Braunschweig.

Hasil riset tim ahli itu dirilis oleh jurnal Proceedings of the ION 2019 Pacific PNT Meeting, edisi online 6 Januari 2019 (M. E. Kügler, N. C. Mumm, F. Holzapfel, A. Schwithal, and M. Angermann, “Vision-Augmented Automatic Landing of a General Aviation Fly-by-Wire Demonstrator”, dalam AIAA SciTech Forum, 7-11 January 2019).

Hasil riset dan uji-coba M. E. Kügler, et al (2019) sangat bermanfaat bagi bandara-bandara ukuran kecil. Karena bandara-bandara besar selalu dilengkapi oleh teknologi Instrument Landing System (ILS) yang memudahkan pesawat komersial mendarat otomatis dengan presisi tinggi. Antena-antena mengirim sinyal-sinyal radio ke otopilot guna memastikan navigasi pesawat aman dan tepat pada landasan pendaratan di bandara (runway).

Bahkan perkembangan teknologi navigasi terkini memudahkan pendaratan otomatis berbasis navigasi satelit. Namun, sistem pendaratan pesawat semacam ini masih mensyaratkan sistem augmentasi berbasis darat bandara dan sistem-sistem semacam ini tidak tersedia pada aviasi atau penerbangan umumnya pada bandara-bandara kecil. Akibatnya, penglihatan rapuh sehingga pesawat sulit mendarat atau terbang.

Untuk mengatasi risiko tersebut di atas, para peneliti berupaya mengembangkan teknologi sistem pendaratan otomatis. “Automatic landing is essential, especially in the context of the future role of aviation,” ungkap Martin E. Kügler, research associate pada  TUM Chair of Flight System Dynamics (Technical University of Munich (TUM), 4/7/2019).

Proyek riset “C2Land” dari Martin E. Kügler, et al (2019) didanai oleh German Federal Ministry for Economic Affairs and Energy di Jerman. Tim peneliti TUM bermitra dengan Technische Universität Braunschweig di Jerman, mengembangkan satu sistem pendaratan pesawat agar pesawat kecil dapat mendarat tanpa bantuan dari sistem navigasi berbasis darat

Tim ilmuwan TU Braunschweig merancang satu sistem referensi optik (an optical reference system) yang terdiri dari satu kamera dalam jangkauan penglihatan mata normal dan satu kamera infra-merah yang dapat menyediakan data hingga level penglihatan kabur (poor visibility). Tim ahli itu menciptakan teknologi imej yang memproses piranti lunak agar dapat menentukan posisi pesawat terhadap landasan runway pada data kamera penerimanya.

Tim peneliti TUM mengembangkan seluh sistem kendali otomatis dari pesawat hasil riset TUM—modifikasi Diamond DA42. Pesawat itu dilengkapi oleh peralatan kontrol sistem Fly-by-Wire melalui teknologi otopilot canggih yang juga dikembangkan oleh peneliti TUM di Jerman. Tim ahli menambahkan fungsi-fungsi tambahan yang terpadu dalam pianti lunak agar memungkinkan pendaratan otomatis pesawat. Misalnya, piranti lunak membandingkan data dari kamera dengan data sinyal GPS; perhitungan jalur luncur virtual untuk pendaratan; dan kontrol penerbangan untuk berbagai fase pendekatan pendaratan (M. E. Kügler, et al, 2019).

Akhir Mei 2019, tim peneliti itu menyaksikan karya ciptanya ketika pesawatnya dapat melakukan pendaratan otomatis di bandara Diamond Aircraft, Austria. Pilot pesawat, Thomas Wimmer, mengakui :  “The cameras already recognize the runway at a great distance from the airport. The system then guides the aircraft through the landing approach on a completely automatic basis and lands it precisely on the runway's centerline.” (Technical University of Munich (TUM), 4/7/2019).  

Oleh: Servas Pandur