• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


‘Nieves Penitente’: Habitat Ganggang Salju Di Puncak Andes

‘Nieves penitentes’ adalah label atau sebutan struktur puncak es di puncak tertinggi pegunungan Andes di Cile, Amerika Selatan. Label itu bermakna ‘penyesalan’ (penitentes) yang melukiskan lingkungan kehidupan para bhiku yang keras, sulit, tandus, dan ibarat ujian bagi kehidupan di planet Bumi. Zona itu begitu keras dan sulit bagi kehidupan (harshest environments) yang mungkin analog dengan keadaan di planet lain. Namun, ganggang salju tumbuh subur di puncak-puncak es yang tinggi itu. Begitu hasil riset lapangan dan studi ilmiah pada tahun 2016 dari mahasiswa-peneliti (students-researchers) dan ilmuwan asal University of Colorado Boulder di Amerika Serikat (AS) (Lara Vimercati, et al, 2019).

Hasil riset lapangan dan studi ilmiah para peneliti itu dirilis oleh jurnal Arctic, Antarctic, and Alpine Research edisi Mei 2019. Proyek riset itu didanai oleh National Science Foundation, United States Air Force Office of Scientific Research, dan Geographic Society Committee for Research and Exploration di Amerika Serikat. (Lara Vimercati, Adam J. Solon, Alexandra Krinsky, Pablo Arán, Dorota L. Porazinska, John L. Darcy, “Nieves penitentes are a new habitat for snow algae in one of the most extreme high-elevation environments on Earth”, Arctic, Antarctic, and Alpine Research, 2019, VOL. 51, NO. 1, 190–200).

Riset lapangan dan studi ilmiah itu melibatkan sejumlah ilmuwan dan mahasiswi peneliti yaitu (1) Profesor Steve K. Schmidt asal Department of Ecology and Evolutionary Biology (EBIO) pada CU Boulder di Amerika Serikat dan co-author studi ilmiah itu; (2) Lara Vimercati, lead author studi ilmiah itu dan mahasiswi-peneliti doktoral pada EBIO; (3) Adam J. Solon, co-author studi ilmiah, asal Department of Ecology and Evolutionary Biology, University of Colorado, Boulder, Colorado di Amerika Serikat;  

(4) Alexandra Krinsky, co-author riset ilmiah dari Department of Entomology and Nematology, University of Florida, Gainesville, Florida di AS; (5) John L. Darcy, asal Department of Medicine, University of Colorado Denver, co-author riset; (5) Dorota L. Porazinska asal Department of Entomology and Nematology, University of Florida, Gainesville, Florida (Amerika Serikat), co-author riset;

(6) Pablo Arán, co-author riset, asal Laboratorio de Complejidad Microbiana y Ecología Funcional, Instituto Antofagasta & Centre for Biotechnology and Bioengineering (CeBiB), Universidad de Antofagasta, Antofagasta di Cile dan Departamento de Biotecnología, Facultad de Ciencias del Mar y Recursos Biológicos, Universidad de Antofagasta, Antofagasta di Cile; dan (7) Cristina Dorador, co-author riset, asal Laboratorio de Complejidad Microbiana y Ecología Funcional, Instituto Antofagasta & Centre for Biotechnology and Bioengineering (CeBiB), Universidad de Antofagasta, Antofagasta di Cile dan Departamento de Biotecnología, Facultad de Ciencias del Mar y Recursos Biológicos, Universidad de Antofagasta, Antofagasta di Cile.

Pada Maret 2016, tim mahasiswa-peneliti asal CU Boulder dan koleganya asal Cile melakukan ekspedisi 2 (dua) pekan ke Volcán Llullaillaco, pegunungan berapi ke-2 tertinggi di dunia, di Cile. Hasilnya, tim peneliti itu menemukan ganggang salju (snow algae) yang hidup dan tumbuh subur di puncak es ‘Nieves Penitentes’ gunung tinggi Andes (Andes Mountains), yang melindungi mikroba dengan menyediakan sumber air atau oasis di lingkungan tandus, miskin nutrisi, bahkan nyaris ‘tidak mungkin’ bagi kehidupan di planet Bumi.

“This is a very remote area that's difficult to access. The entire back of one of our pickup trucks had to be filled with barrels of drinking water. It's no trivial thing to go out there, and that's one of the reasons these formations haven't been studied much,” ungkap Profesor Steve Schmidt asal Department of Ecology and Evolutionary Biology (EBIO) pada CU Boulder, dan co-author studi ilmiah itu (University of Colorado, Boulder, 8/7/2019).

Penitentes--beberapa inci hingga 15 kaki tinggi—ada pada lingkungan paling sulit di planet Bumi, misalnya angin ekstrim, suhu berubah-ubah, dan paparan radiasi UV yang tinggi karena atmosfer yang tipis. Namun, tim peneliti itu menemukan bahwa puncak-puncak es itu menjadi perlindungan bagi mikroba dengan menyediakan sumber air di lingkungan yang tandus dan miskin nutrisi.

Setelah mencapai lokasi penitentes pada ketinggian 16.000 kaki di atas permukaan laut, para ilmuwan melihat bercak warna merah, tanda aktivitas mikroba yang sebelumnya telah diamati, pada salju dan es lainnya di seluruh dunia. Setelah membawa sampel untuk dianalisis, para peneliti mengkonfirmasi keberadaan spesies alga Chlamydomonas dan Chloromonas di es, dokumentasi pertama alga salju atau bentuk kehidupan lainnya di penitentes.

“Our study shows how no matter how challenging the environmental conditions, life finds a way when there is availability of liquid water. Snow algae have been commonly found throughout the cryosphere on both ice and snow patches, but our finding demonstrated their presence for the first time at the extreme elevation of a hyper-arid site. Interestingly, most of the snow algae found at this site are closely related to other known snow algae from alpine and polar environments,” papar Lara Vimercati (University of Colorado, Boulder, 8/7/2019).

Penemuan baru itu meningkatkan pemahaman para ilmuwan tentang titik-titik batas dari kehidupan di planet Bumi dan kehidupan asing (alien life). Misalnya, pembentukan-pembentukan mirip penitente, telah terlacak di Pluto dan diperkirakan eksis di Eropa, satu dari bulan Jupiter. Sedangkan wilayah Atacama di Cile diduga analog terbaik dari Bumi untuk tanah Mars. “We're generally interested in the adaptations of organisms to extreme environments. This could be a good place to look for upper limits of life,” papar Profesor Steve Schmidt.

Nieves penitentes adalah struktur es berbentuk puncak di pegunungan tinggi Andes. Tim peneliti itu menggunakan pendekatan molekuler dan mikroskopis, deskripsi pertama komunitas alga salju yang berada di es Penitente pada ketinggian 5.277 m a.s.l., yang menunjukkan habitat baru dari alga salju di satu lingkungan paling ekstrem di Bumi (Lara Vimercati, et al, 2019).

Bercak merah pada penitentes berisi komunitas mikroba, dominan alga genus Chlamydomonas dan Chloromonas, yang keduanya terkait erat dengan alga salju dari lingkungan alpine dan kutub. Tim peneliti itu hanya menemukan beberapa sekuens alga salju dari es jernih dan memang menemukan sekuens cyanobacteria dan bukti zat organik yang diendapkan oleh aeolian. Tephra (“tanah”) di dalam dan hanya menurun dari ladang Penitente menjadi rumah bagi komunitas bakteri dan eukariotik yang sangat berbeda dari komunitas es dalam hal keragaman alfa dan beta (Lara Vimercati, et al, 2019).

Dalam lingkungan keras itu, penitentes menyediakan air dan perlindungan ganggang salju dari angin kencang, radiasi UV tinggi, dan fluktuasi termal, menciptakan oasis di lanskap yang ekstrem di Andes, Cile. Beberapa riset akhir-akhir ini menunjukkan keberadaan struktur seperti penitente pada planet lain di tata surya kita. Karena itu, penitentes dan lingkungan kerasnya menyediakan analog terestrial baru bagi studi astrobiologis kehidupan di luar Bumi (Lara Vimercati, et al, 2019). 

Oleh: Servas Pandur