• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Komodo Dragon & Pusat Archipelago NKRI

“Outstanding universal value!” Atau “nilai universal luar biasa!” Begitu UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) mengakui, menjamin, dan melindungi kehidupan di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar, Flores dan sekitarnya sejak tahun 1991. Maka seluas 219.322 ha di zona Komodo, diakui, dijamin dan dilindungi oleh UNESCO sebagai “World Heritage Site dan Biosphere Reserve!”

Rabu (10/7/2019) siang, Presiden RI Joko Widodo meninjau proyek Pengembangan Pelabuhan Terpadu di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).  Presiden RI Joko Widodo didampingi oleh Mensesneg Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi K. Sumadi, dan Gubernur NTT Viktor Laiskodat (Humas Setkab RI, 10/7/2019).

Saat itu, Dirut PT ASDP Pelabuhan Terpadu Labuan Bajo, Ira Puspadewi, melaporkan ke Presiden Joko Widodo bahwa proyek ini terintegrasi dengan Kawasan Marina Terpadu Labuan Bajo—rencana pembangunan 180 kamar hotel selesai Desember 2019, marina, pentas budaya, pasar Rakyat dan area komersil—di Kabupaten Manggarai Barat, NTT. “Dengan pembangunan ini kami juga harus memindahkan dermaga,” lapor Ira Puspadewi (Humas Setkab RI, 10/7/2019).

Akhir-akhir ini, minat para ilmuwan dan masyarakat internasional ke Komodo Dragon kian meningkat. Ke depan zona ini dapat menjadi pusat wisata dunia dengan label ‘Jurassic Island’. Jika Bali dengan branding dan imej ‘Pulau Dewata’, zona Komodo, Rinca, Padar, Flores dan sekitarnya adalah zona era Jurassic, barometer kestabilan ekosistem global.

Maka bukan kebetulan, ahli-ahli asal UNESCO yang kini beranggotakan 193 negara dan 11 asosiasi, sejak 1991, sudah mengakui dan siap menjamin serta melindungi keunikan dan kestabilan ekosistem di Komodo, Rinca, Padar, Flores dan sekitarnya, selama jutaan tahun terakhir. Zona-zona ini terletak di kawasan Labuan Bajo, Manggarai Barat. Sekali lagi, apa pun rencana pengembangan dan pembangunan di zona ini, mesti berbasis prinsip dasar yakni KONSERVASI. Ini semangat dasarnya.

Mengapa titik-tolaknya dari visi UNESCO? Karena akhir-akhir ini, masyarakat dan wakil Rakyat di Kabupaten Manggarai Barat—lokasi zona Taman Nasional Komodo (TNK)—menolak rencana privatisasi di TNK dan sekitarnya. Maka pembangunan di Labuan Bajo juga perlu memperhatikan kearifan lokal, local heritage, local knowlegde, dan lingkungannya, yang selama ribuan tahun atau bahkan jutaan tahun, telah merawat Komodo Dragon dan habitatnya hingga hari ini.

Sejak 1991, TNK sudah ditetapkan oleh UNESCO sebagai warisan dunia seluas 219.322 hektare. Ada dua alasan di balik penetapan itu. Pertama, karena TNK “to contain superlative natural phenomena or areas of exceptional natural beauty and aesthetic importance serta to contain the most important and significant natural habitats for in-situ conservation of biological diversity, including those containing threatened species of outstanding universal value from the point of view of science or conservation (UNESCO/UN, 1992).

Menurut UNESCO, pulau-pulau di kawasan TNK dihuni sekitar 5.700 giant lizards yang menarik minat dan upaya banyak ahli guna mempelajari evolusi kehidupan di planet bumi.   Perihal ini, UNESCO hanya membuat kesimpulan dan penetapan bahwa “The property is identified as a global conservation priority area, comprising unparalleled terrestrial and marine ecosystems and covers a total area of 219,322 hectare.”

Bagi NKRI, zona Komodo, Rinca, Padar, Flores, dan sekitarnya—lingkungan penyangga TNK --terletak di jantung kepulauan Indonesia (the center of Archipelago) dan persimpangan dua lempeng benua (Australia dan Asia) sebagai “shatter belt” garis Wallace (Wallacea Biogeographical Region) antara ekosistem berciri Australia dan Asia.

Misteri kehidupan di TNK belum dapat dijelaskan secara ilmiah dan alamiah hingga awal abad ke- 21, kecuali rahasia berkat Allah Yang Maha Kuasa! Hingga hari ini, ahli-ahli dari Indonesia dan sistem intelijen dunia belum dapat menjelaskan alasan Komodo Dragon bertahan di kawasan TNK, kecuali rakyat yang sudah hidup berdampingan dengan Komodo selama ratusan bahkan ribuan tahun di zona TNK.

Kearifan lokal rakyat telah merawat komodo, keragaman hayati dan ekosistemnya selama ratusan tahun bahkan ribuan tahun di TNK. Taman Nasional menyediakan pengungsi bagi banyak spesies darat terkenal lainnya seperti unggas scrub berkaki oranye, tikus endemik, dan rusa Timor. Terumbu karang yang kaya menjadi “rumah” bagi kekayaan keanekaragaman spesies, dan arus laut yang kuat menarik kehadiran penyu, paus, lumba-lumba, dan duyung.

Maka, jangan gusur hak-hak Rakyat dan kearifannya merawat ekosistem komodo dragon sampai hari ini.  Batas-batas TNK mengelilingi fitur taman utama, pemandangan luar biasa dan spesies unik seperti komodo dragon, burung, mamalia laut, spesies terumbu karang, dan lainnya.

Ini yang bisa saya saksikan ketika berkunjung ke Pulau Komodo Agustus 2018. Zona penyangga laut di sekitar TNK adalah kunci menjaga keutuhan dan keutuhan ekosistem TNK dan jumlah spesies luar biasa di TNK yang mencakup wilayah laut dan daratan Pulau Flores sebagai Cagar Biosfer Komodo.

Kita dapat bermitra dengan dukungan UNESCO guna mendukung pembangunan berkelanjutan, perdamaian, dialog lintas keragaman-budaya budaya, sains keragaman-hayati, kultur, komunikasi dan informasi di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Ini merupakan prioritas program UNESCO sejak 2007. Maka pembangunan infrastruktur fisik perlu disertai oleh pembangunan infrastruktur sains, teknologi, dan soft-power program bidang budaya, edukasi dan sains sustainabilitas. Program ini dapat dimulai dari program riset dan sains air, tanah, dan pohon di TNK dan sekitarnya. 

 

Oleh: Komarudin Watubun