• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Papua & Diplomasi-Pasifik Negara RI Abad 21

Dari sisi geo-strategi, sejak proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia 18 Agustus 1945 di Jakarta oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh Hatta atas nama Bangsa Indonesia, zona Pasifik jarang menjadi fokus diplomasi Negara RI. Fokus Ir. Soekarno dan Hatta ialah bangsa-bangsa Asia dan Afrika bebas dari cengkraman penjajahan—termasuk bentuk baru penjajahan yakni ‘neo-kolonialisme’.

Kini awal abad 21, pergeseran pusat gravitasi ekonomi dunia semakin bergerak ke arah antara India-Tiongkok kira-kira tahun 2050. India dan Tiongkok menjadi negara adidaya baru di bidang ekonomi dan bersaing dengan Amerika Serikat (AS) di puncak kekuatan ekonomi global saat ini. Kini kekuatan global baru, Tiongkok, membidik zona Pasifik. Sedangkan AS dan sekutunya di ‘Five Eyes’—AS, Kanada, Australia, Selandia Baru, dan Inggris—adalah ‘aktor utama’ yang mengendalikan arus zona Pasifik sejak Perang Dunia II.

Pada konferensi perdagangan dan pariwisata ‘Pacific Exposition 2019’ 11-14 Juli 2019 di Auckland (Australia), Menlu RI Retno L.P. Marsudi merilis arah diplomasi ‘Momentum Pasifik’ guna merajut kemitraan bidang ekonomi, pariwisata dan budaya dari 17.000 pulau Negara RI dengan 20 negara di Pasifik Selatan.

Wakil-wakil Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kementerian pariwisata, pendidikan dan kebudayaan, kementerian luar negeri, wakil DPR RI, dan BKPM serta wakil Pemerintah Daerah Provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku dan Maluku Utara, hadir dalam agenda kawasan itu di Auckland, Australia.

“We are connecting the dots between the 17,000 Indonesian islands and the thousands of Pacific islands, Australia and New Zealand. One of the steps that we are taking to connect is by opening diplomatic relationships with Cook Islands and Niue!” Begitu pers dunia mengutip pidato Menlu RI Marsudi (Reuters, 12/7/2019).

***

Pasifik Selatan adalah zona-zona kaya ikan dan bahan bakar fosil. Zona ini disebut-sebut kawasan paling berisiko terhadap perubahan iklim, khususnya kenaikan level permukaan laut. Tapi, masyarakat zona Pasifik Selatan sudah sangat terbiasa dengan kehidupan laut dan lautan. Masyarakat kawasan ini memiliki tradisi navigasi atau budaya bahari. Kita harus banyak belajar dari mereka tentang kehidupan di zona-zona pantai (coastal) dan laut (marine).

Apakah diplomasi perdagangan, wisata, dan budaya ke Pasifik Selatan, sangat strategis bagi Negara RI abad 21? Jelang konferensi di Auckland (Australia), pers dunia merilis laporan dan foto anak-anak atau remaja bersenjata dari jajaran OPM (Organisasi papua Merdeka). Foto pria dewasa dan anak-anak atau remaja bersenjata dirilis oleh West Papua Liberation Army-Free Papua Organization di wilayah Nduga, Provinsi Papua, Negara RI (AP, 24/6/2019).

Hampir 170 negara, termasuk Negara RI, awal abad 21 telah meratifikasi perjanjian PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang melarang rekrut militer bagi anak-anak di bawah usia 18 tahun dan mengakhiri eksploitasi anak-anak untuk bidang militer, oleh negara dan kelompok bersenjata non-negara. Statuta Roma 2002, hukum internasional, merumuskan ‘anak’ sebagai orang berusia di bawah 18 tahun dan rekrut anak di bawah 15 tahun bidang militer termasuk kejahatan perang. Di sisi lain, laporan tahunan Sekjen BPP tidak menyebut Papua perihal rekrut anak-anak bidang militer atau tentara.

Isu lain lebih sensitif. Pers dan jaringan internasional lazim menyorot zona Papua dari Negara RI sebagai zona hutan tropis yang sangat kaya sumber-sumber daya mineral. Luas zona Papua di Negara RI mencapai ¼ dari luas lahan Negara RI. Zona ini termasuk satu dari zona langka di dunia yang akar tanahnya adalah emas!

Papua sangat kaya emas dan tembaga. Migrasi dari luar Papua sering disebut-sebut memarginalkan warga asli Papua di sejumlah wilayah. Sedangkan dataran tinggi—seluas Negara Inggris—umumnya dihuni oleh terutama warga-warga asli Papua. Kondisi ini sekarang disertai angka kematian bayi sangat tinggi, angka stunting—selain NTT—sangat tinggi, bahkan kelaparan juga sering menjadi bencana tahunan. Berikutnya, wabah HIV/AIDS melanda banyak warga Papua (Stephen Wright / AP, 24-25/6/2019).

Kini pembangunan infrastruktur secara masif sejak 2013 di Papua, harus dapat mendukung penguatan kearifan lokal, kesehatan, kesejahteraan, dan pendidikan khususnya warga asli di Papua—Provinsi Papua Barat dan Papua. Tiba saatnya, menerapkan program-program pendidikan dan kesehatan yang pernah berhasil di Papua tahun 1950-an. Saat itu, banyak tenaga medis, guru, dan SDM terlatih dan terdidik lainnya, muncul dari Papua.

Pada Juli 2019, pers dunia merilis laporan manultrisi dan wabah penyakit—infeksi pernafasan, disenti, dan diarhoea--menewaskan sekitar 139 warga di kamp pengungsian, Kota Wamena, Provinsi Papua. Kini sekitar 5.200 orang—700 anak-anak – tinggal di kamp Wamena. Pasokan pangan, air bersih dan pakaian, akses pendidikan dan kesehatan, masih terbatas (Reuters, 16/7/2019).

Diplomasi pariwisata, budaya, dan perdagangan ke zona Pasifik Selatan, adalah peluang bagi Negara RI menciptakan tata-dunia baru berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, keadilan sosial, dan sehat-lestarinya ekosistem negara, kawasan, dan global. Maka perlu dibuka perdagangan langsung dari kawasan Timur RI—Maluku, Papua, dan NTT ke Asia Timur melalui Filipina dan Pasifik Selatan.

Sejarah mencatat bahwa perdagangan global, kelahiran ekonomi global (global economy) dan nilai tukar global berbasis rempah lahir dari komoditi langka dan mahal asal Maluku, Papua, dan NTT sejak era pra Masehi hingga puncaknya abad 16-18 M di Eropa. Pasar saham pertama lahir di Amsterdam (Belanda) awal abad 17 M, karena rempah-rempah asal Maluku. Satu dari 40 benteng-pelabuhan yang dibangun oleh armada dagang Portugal sejak awal abad 15 M di Azores (Atlantik) hingga awal abad 16 M di Nagasaki (Jepang), terletak di Serao, Maluku. Ini adalah mata-rantai dari globalisasi maritim sampai hari ini.

Tapi, mengapa Serao tidak berkembang seperti Hong Kong, Macao, atau Nagasaki? Karena seluruh arus barang-jasa-manusia-uang-informasi mengalir dari zona ini melalui zona barat RI ke Singapura-Eropa atau Asia Timur. Mata-rantai ini memicu mahal biaya, waktu, dan tenaga. Sedangkan zona Maluku dan Papua khususnya, terjebak pada ‘paradox of plenty’—atau zona kaya sumber alam tapi Rakyat-nya miskin.

Dari sejarah kita belajar, abad 8-15 M, ketika para Levants—Persia, Arab, Afrika Utara, dan lain-lain—merahasiakan zona Jaziat-al-Mulk, zona asal rempah kualitas terbaik dunia, pedagang asal Sriwijaya (7-13 M) di Sumatera, membuka jalur perdagangan ke Papua (Janggi). Sriwijaya, pusat agama Budha, berdagang dengan saudagar India dan Tiongkok.

Pedagang asal Sriwijaya membeli rempah, wangi-wangian, mutiara, dan bulu burung Cendrawasih asal Papua Komoditi asal Papua dan Maluku—seperti burung Cendrawasih dari Papua, cendana dari Timor, dan rempah-rempah asal Maluku—diberikan oleh Sriwijaya sebagai upeti untuk Kekaiseran Tiongkok (Singh, Bilveer, 2008:15).

Jadi, zona-zona seperti Papua, Maluku dan NTT adalah zona yang memiliki jejak sejarah sangat lama memasok kebutuhan-kebutuhan komoditi skala global. Bukan zona RI bagian barat. Maka arah diplomasi ke Pasifik Selatan ini harus dapat merajut-ulang rute-rute perdagangan rempah (Spiece-Routes) untuk memulihkan risiko-risiko perubahan iklim dan pemanasan global.

Awal abad 21, titik strategis diplomasi Negara RI ke Pasifik Selatan dan Asia Timur, terbaik dimulai dari Maluku-Papua-NTT. Selama ratusan tahun, budi-daya sumber alam hayati zona ini tidak hanya bernilai komersial, budaya, herbal, gastro, dan lain-lain, tetapi juga nilai spiritual dari Berkat Allah untuk kehidupan di Bumi, yang harus dirawat dan dibudi-daya. Atau ‘Guard Eden’ ialah ‘Garden’. Papua, misalnya, selalu dilabel ‘Asia’s Garden of Eden’! Ketiga zona ini adalah shatter-belt—sabuk pemutus dan pengikat fauna-floa Asia-Australia dan lempengan raksasa Bumi : Lautan Pasifik-Lautan India dan benua Asia dan benua Australia.

 

Oleh: Komarudin Watubun