• LATEST
    • A PHP Error was encountered

      Severity: Notice

      Message: Undefined variable: latest

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48

      A PHP Error was encountered

      Severity: Warning

      Message: Invalid argument supplied for foreach()

      Filename: views/_header.php

      Line Number: 48


Biodiesel B20 & Tren Bio-ekonomi Dunia (I)

Senin (30/6/2014), Profesor Lisa Curran, ahli antropologi lingkungan pada Stanford University di  Amerika Serikat (AS) dan sejumlah ahli kelapa sawit asal Amerika Serikat, merilis hasil riset dan kajian tentang dampak perkebunan kelapa sawit terhadap ekosistem air tawar (freshwater) selama bertahun-tahun awal abad 21 di Negara RI.

Zona RI dipilih oleh tim ahli itu, antara lain, karena tahun 2000-2013 terjadi lonjakan 3 kali lipat luas zona perkebunan sawit di Negara RI. Alasan lainnya, awal abad 21, minyak sawit telah menjadi industri dan bisnis multi-miliar dollar AS; minyak sawit terdapat pada ribuan produk dari selai kacang, roti kemasan hingga shampo dan krim cukur.

Riset itu juga melibatkan Kimberly Carlson asal University of Minnesota dan Terry Nagel asal Stanford Woods Institute for the Environment di Amerika Serikat (AS). Proyek riset dampak budi-daya kelapa sawit di Negara RI itu dirilis oleh jurnal Journal of Geophysical Research: Biogeosciences (2014) dan didanai oleh  program NASA Land-Cover/Land-Use Change dan John D. and Catherine T. MacArthur Foundation di Amerika Serikat.

Riset dan kajian Profesor Lisa Curran dkk (2014) hanya satu dari ribuan contoh tren global bio-ekonomi dewasa ini. Bahwa riset, kajian, studi ilmiah, kinerja kebijakan, program-progam Pemerintah, dan karya ilmiah bidang ekonomi sangat ditentukan dan diukur oleh daya-sangga alam (natural capital/sumber daya alam) terhadap kehidupan kita di planet Bumi.

Senin (15/8/2016), misalnya, Claudia Dislich, ahli lingkungan dan kehutanan, dan koleganya asal Helmholtz Centre for Environmental Research (UFZ) yang berkantor pusat Leipzig, Halle, dan Magdeburg di Jerman, mengkaji sekitar 1.000 studi dan laporan ilmiah tentang perubahan-fungsi atau alih-fungsi lahan hutan khususnya alih-fungsi ke sektor perkebunan sawit. Studi dan laporan ilmiah itu berisi bio-ekonomi.

Claudia Dislich dkk (2016) misalnya mengkaji fungsi ekosistem pada perkebunan sawit dengan menggunakan hutan sebagai satu sistem referensi. Hasil riset tim ahli UFZ itu dirilis oleh jurnal Biological Reviews (2016). Sejak 2006, 1.050 tenaga peneliti dan ahli UFZ melaksanakan riset basik dan riset terapan khususnya pola hubungan antara manusia dan alam yang dipengaruhi oleh perubahan iklim dan pemanasan global akhir-akhir ini.

Fokus bidang riset UFZ akhir-akhir ini ialah perubahan iklim, alih-fungsi lahan, pertumbuhan penduduk, kelangkaan sumber daya, globalisasi, urbanisasi, kemerosotan keragaman-hayati, lonjakan kebutuhan dan permintaan pangan dan energi, lonjakan jumlah dan jenis zat kimia yang mempengaruhi Rakyat dan lingkungannya, dan pola-pola baru tata-kelola alam di berbagai negara dan global.

***

Untuk mencermati dan memahami risiko-risiko lingkungan dari program dan kebijakan ekonomi, dibutuhkan riset dan kajian ilmiah perihal dampaknya terhadap air, hutan atau pohon, tanah, dan gas. Misalnya, fokus riset dan kajian Profesor Lisa Curran dkk (2014) ialah dampak tata-kelola perkebunan kelapa sawit di Negara RI sejak 2000 terhadap ekosistem air.

Edisi Dari Penerbit kali ini adalah tulisan pertama dari 4 (empat) tulisan tentang risiko lingkungan akibat tata-kelola perkebunan sawit dan solusi atau respons kebijakannya. Dampak tata-kelola perkebunan kelapa sawit terhadap ekosistem air-tawar (fresh-water) sangat penting. Karena Negara adalah sesuatu yang bernyawa.

Air adalah unsur penting dari segala-sesuatu yang bernyawa. Air dapat masuk ke seluruh elemen alam semesta dan sifatnya menghidupkan. Maka kinerja pertahanan dan keamanan, keadilan dan peradaban suatu Negara sangat diukur oleh tata-kelola, pasokan, dan distribusi air. Kini dan ke depan, baro-meter pasar global, bukan lagi dollar AS, minyak, atau emas, tetapi air! Ini dilihat dari lonjakan penduduk planet Bumi dari 2,5 miliar jiwa tahun 1950-an menjadi 6,5 miliar tahun 2016. Jadi, hanya dalam 60 tahun, penduduk planet Bumi bertambah 4 miliar jiwa! Lonjakan penduduk ini melipat-gandakan konsumsi energi, khususnya air.

Begitu pula mencermati dan memahami risiko kebijakan Pemerintah RI di bidang Biodiesel 20 (B20) akhir-akhir ini di Negara RI.  Senin sore (12/8/2019) pada Pengantar pada Rapat Terbatas Evaluasi Pelaksanaan Mandatori Biodiesel di Kantor Presiden (Jakarta), Presiden RI Joko Widodo merilis arah-kebijakan bahwa pada Januari 2020, pelaksanaan mandatori biodiesel beralih dari B20 (Biodiesel 20) yang berbahan dasar crude palm oil (CPO) ke B30 untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mengurangi impor minyak (Humas Setkab RI, 12/8/2019).

Menurut kalkulasi Pemerintah RI, jika konsisten menerapkan B20, maka ekonomi nasional menghemat sekitar 5,5 miliar dollar AS per tahun dan berdampak terhadap 17 juta petani, pekebun, dan pekerja sektor kelapa sawit di Negara RI.

Rapat Terbatas (12/8/2019) di Kantor Presiden  (Jakarta) dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menko Polhukam Wiranto, Menko Perekonomian Darmin Nasution, Menko Kemaritimn Luhut B. Pandjaitan, Mensesneg Pratikno, Seskab Pramono Anung, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menhub Budi K. Sumadi, Menteri ESDM Ignasiun Jonan, Mentan Amran Sulaiman, Mendag Enggartiato Lukita, Menkumham Yasonna H. Laoly, Menperin Airlangga Hartarto, dan Kepala BKM Thomas Lembong (Humas Setkab RI, 12/8/019).

Hasil riset dan kajian ilmiah perihal risiko-risiko tata-kelola perkebunan sawit membutuhkan solusi atau jalan keluar saat ini. Misalnya, riset dan kajian Profesor Lisa Curran dkk (2014) menemukan bahwa alih-fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit, penggunaan pupuk dan pestisida, dan pemrosesan buah kelapa sawit (untuk menghasilkan minyak wasit) menimbulkan endapan, nutrisi dan zat-zat lainnya masuk ke aliran sungai dari perkebunan yang memicu risiko-risiko terhadap ekosistem air-tawar (fresh-water).

Pilihan solusinya, menurut Profesor Lisa Curran dkk (2014), antara lain merawat tutupan vegetasi alamiah (natural vegetative cover) pinggir-pinggir atau samping sungai dan tata-kelola perkebunan sawit tanpa jaringan-jaringan jalan padat bersinggungan langsung dengan saluran air, serta menerapkan usul Roundtable on Sustainable Palm Oil atau rekemondasi ilmiah bio-ekonomi lainnya. 

Oleh: Komarudin Watubun